GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
88. Terimakasih Tuhan


__ADS_3

Pagi ini, kami benar-benar berada di rumah sakit. Ken tidak memberikan pilihan apapun meski sebenarnya aku hanya merasa lemas dan sedikit mual. Bahkan ia membawaku ke IGD, agar cepat ditangani. Sebuah tindakan yang menurutku terlalu berlebih-lebihan. Tetapi aku menyadari bahwa itu adalah bentuk kepedulian Ken padaku.


"Tolong, periksa istri saya sekarang. Tadi muntah-muntah." Kata Ken pada dokter jaga.


"Muntah-muntah berapa kali, pak?" Tanya dokter tersebut, sambil mulai memeriksa.


"Satu kali!" ungkap Ken, diikuti tatapan aneh dari dokter tersebut. "Tapi istri saya kelihatan benar-benar sakit."


"Sudah telat berapa hari, Bu?" tanya dokter muda yang barusan memeriksaku.


"Baru satu hari." aku langsung nyambung dengan apa yang dipertanyakan dokter tersebut, sementara Ken agak bingung, sebab ini tentang dunia perempuan.


"Selamat, ibu hamil." kata dokter tersebut.


Aku dan Ken saling pandang. Lalu wajah Ken berubah jadi cerah, senyumnya begitu lebar, sementara aku hanya diam, aku benar-benar bingung. Apakah ini nyata atau mimpi?


"Benar dok?" tanya Ken.


"Iya, benar pak. Selamat ya." kata dokter tersebut.


"Dok, boleh periksa sekali lagi untuk meyakinkan, apakah ini benar atau tidak. Sebab tadi kata istri saya, hasil tespeknya satu garis nyata, satu lagi masih samar." ungkap Ken.


"InsyaAllah saya tidak salah, pak. Untuk lebih pastinya, boleh langsung USG dengan dokter kandungan. Mumpung masih pagi, mau saya ajukan sekalian?" tanya dokter tersebut.


"Iya, iya dok." kata Ken.


Dokter tersebut segera ke meja tempat dokter jaga. Ia menelepon seseorang, lalu mengarahkan kami menuju poli kandungan.


"Fiufff, bismillahirrahmanirrahim. Semoga saja benar. Semoga dokter tersebut tidak salah. Kalau dia salah, aku tak akan memaafkannya karena sudah memberikan harapan palsu dan ini sakit sekali!" Ken terus berkata-kata, sambil mendorongku yang duduk di kursi roda menuju poli kandungan.


Ya, aku dipaksa duduk di kursi roda sebab Ken khawatir terjadi apa-apa padaku setelah dokter jaga IGD tersebut menyatakan bahwa aku hamil. Padahal kalaupun benar hamil, berjalan itu tidak masalah.

__ADS_1


Kami berada di urutan kedua. Setelah pasien pertama keluar, Ken langsung mendorong kursi ku menuju ke dalam. Di sana sudah menunggu seorang dokter kandungan yang usianya paruh baya.


"Selamat pagi Bu, pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut dengan sangat ramah sehingga membuat kami jadi nyaman.


"Ini dok, kata dokter jaga istri saya hamil. Kami ingin memastikan, apakah itu betul." kata Ken.


"Baik, kalau begitu kita periksa dulu ya pak. Ayo Bu, berbaring di sini." dokter itu menunjuk tempat tidur di sebelah mejanya.


Aku diminta naik ke atas tempat tidur, lalu mulailah rangkaian pemeriksaan. Kami berdua menatap layar monitor mesin USG dengan penuh konsentrasi. Khawatir melewatkan satu saja penjelasan dokter tersebut.


"Ini kantongnya sudah kelihatan, tapi bayinya belum terlihat." kata dokter tersebut, sambil menunjukkan bulanan di layar monitor.


"Artinya?" tanya Ken.


"Istri bapak hamil. Hasil tes samar itu karena kandungannya baru dua mingguan. Tapi ini sudah positif." Dokter tersebut menjelaskan. Biasanya kalau sudah masuk bulan pertama maka garisnya akan jelas. "Nanti boleh dites lagi sepekan kemudian, insyaAllah sudah terlihat jelas garis duanya."


"Alhamdulillah. Lalu bagaimana dok?" tanya Ken lagi. "Apa istri saya boleh jalan? Atau harus berbaring di tempat tidur?"


Setelah selesai, Ken mendorong kursi menuju bagian keuangan, lalu mengambil obat di bagian farmasi. Sementara aku menunggu di salah satu tempat duduk.


"Sudah, ayo kita pulang" Kata Ken. "Mau jalan atau naik kursi roda?" tanya Ken lagi.


"Jalan saja, dokternya juga bilang nggak apa-apa kan." kataku.


Ken membimbing tanganku. Ia mengingatkan agar aku hati-hati sebab di dalam perutku sekarang ada anaknya.


"Kok diam saja?" Tanya Ken lagi.


"Hah, aku bingung." kataku.


"Bingung kenapa?"

__ADS_1


"Kayak mimpi, mas."


"Lho, kenapa?"


"Baru saja tadi pagi aku bilang pasrah, tahu-tahu Allah sudah kasih beneran. Aku hamil, mas. Iya, kan?" entah mengapa rasanya haru saja.


"Iya sayang." Ken menggenggam erat tanganku.


Memang masa penantian kami agar diberi keturunan terhitung sebentar, baru dua bulan menikah. Tetapi aku benar-benar berharap agar bisa segera punya keturunan. Harapan yang benar-benar besar sekali.


Setelah Tuhan menitipkannya di rahimku, rasanya benar-benar terharu sekali. Apa yang benar-benar kita harapkan, selalu dibaringkan akhirnya dikabulkan oleh Allah.


"Kita harus kabari mama dan juga orang tuaku." kata Ken.


"Iya." aku mengangguk cepat.


Dari rumah sakit, kami menuju rumah mama. Mendengar kabar tentang kehamilanku, mama benar-benar bahagia sekali. Bahkan sambil tertawa mengeluarkan air mata. Tangis bahagia sebab mama sama sepertiku, berharap agar aku segera mendapatkan keturunan.


Tetapi sebelum kami pergi mama memintaku untuk tidak mengabari papa dan keluarganya. Mama berharap agar kami merahasiakannya duku, entah apa tujuan mama, tapi mama beralasan demi kebaikan kamu, makanya aku menurut. Lagipula menurutku tidak terlalu penting mengabari papa, sebab hubungan kami juga belum membaik.


Setelah itu kami memberi tahu Keluarga Ken. Sama seperti mama, ayah dan ibu Ken begitu bahagia. Sampai-sampai ayah Ken pulang dari kantornya untuk mendengar langsung dari mulut kami kabar gembira tersebut.


"Bu, bagikan sedekah sebanyak-banyaknya ke panti asuhan, anak-anak jalanan juga orang-orang miskin di sekitar tempat tinggal kita. Jangan sampai ada orang di sekitar kita malam ini yang bersedih karena kekurangan makan dan uang." ungkap ayah Ken yang berdarah Indonesia dan Australia. "Dan kamu nak, jaga menantu dan calon cucu ayah dengan baik. Anak ini akan jadi penerusku. Pastikan dia lahir sehat sempurna, tidak kurang satu apapun. Kamu ngerti kan Ken!" perintah ayah.


"InsyaAllah yah. Ken akan jaga Rara dan calon anak kami dengan baik!" kata Ken, tak kalah bahagia dari Ayahnya.


Jadilah hari ini dihabiskan dengan berbagi. Paket makanan dikirimkan ke semua tetangga, panti asuhan terdekat, pemulung, tukang becak yang lewat.


Tidak lupa ibu mengirimkan hadiah yang cukup banyak untuk mama. Kata ibu, itu adalah untuk besan sebab sudah melahirkan seorang putri yang membawa kebahagiaan di keluarga mereka. Mendengar kalian ibu tersebut membuat aku semakin bersyukur. Kasih sayang ibu benar-benar nyata. Bahkan mama sampai bingung bagaimana cara membalas hadiah-hadiah dari ibu tersebut.


"Oh ya nak Rara, bagaimana dengan papanya nak Rara. Hadiahnya mau dikirimkan ke mana?" tanya ibu.

__ADS_1


Aku dan Ken langsung saling lihat-lihatan.


__ADS_2