GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
25. Rara Yang Berprestasi


__ADS_3

Aku masih fokus membalas satu-persatu email pembaca yang masuk. Tanggapan dari mereka membuatku begitu bersemangat menjadikan rubrik ini lebih besar lagi.


"Kamu baru datang?" aku beralih menatap Ken yang baru saja datang. Ia memang ikut pindah ke ruangan para manajer, sebab masih harus belajar dariku.


"Iya." jawabnya, sambil meletakkan tas, lalu mulai menyalakan komputer.


"Kenapa baru datang sekarang. Ini sudah pukul sembilan, lho."


"Maaf Ra, tadi ada yang harus aku kerjakan."


"Masalah pribadi?"


"Iya."


"Kamu itu harus bekerja secara profesional, Ken. Aku tahu kamu dekat dengan pak Pras. Tapi selama masa uji coba tiga bulan ini, kamu berada di bawah pengawasan aku. Kalau cara kerja kamu seperti ini aku enggak yakin bisa lolosin kamu di timku."


"Maksudmu?"


"Aku bisa ganti kamu dengan orang baru."


"Lho, kok begitu? Oh, atau jangan-jangan kamu mau ganti aku sama mantan kamu itu ya. Siapa namanya? Alif, Andi, Andre ... A?"


"Arif."


"Wah, masih ingat mantan nih ceritanya?"


"Astagfirullah, siapa juga yang peduli sama dia? Arif itu sudah menikah. Kamu kira aku enggak waras."


"Ya siapa tahu kamu tipikal yang susah move on."


"Sok tahu!"


"Ya kan siapa tahu."


"Sudah, jangan bahas dia lagi. Malas!"


"Aku tadi ketemu direktur baru kita."


"Hah?"


"Kamu masih marah?"


"Kamu tahu orangnya."


"Tahu. Malah cukup dekat."


"Oh ya?"


"Iya. Enggak percaya? Aku bisa bantu kamu bertemu dengannya. Mau?"


"Enggak usah. Ngapain juga. Aku cuma mau pesan, kalau kamu telat atau tidak bisa hadir, dalam tiga bulan ini tolong hubungi aku. Mengerti?"


"Iya ibu manager. Tapi kan aku tidak punya nomor Hp kamu."

__ADS_1


"Sini Hp kamu."


Ken memberikan gadgetnya padaku. Baru selesai memasukkan nomorku, tiba-tiba ada telepon masuk. Monika Ariella.


"Ada telepon ya?" tanya Ken.


Aku tidak bisa berkata apapun, lalu memberikan Hpnya kembali pada Ken. Lalu ia menjauh dariku sambil menerima telepon.


Monika Ariella. Itu kan istrinya Arif. Kenapa dia menelepon Ken? Apa dia kenal Ken? Ada hubungan apa antara mereka?


"Rara!" panggil kak Gita, membuyarkan lamunanku. Ia memberi isyarat agar aku segera masuk ke ruangan rapat.


"Ya Tuhan, ada apa Antara Ken dan Monika?" aku jadi tidak tenang. Entah apa alasannya. Kenapa jadinya kesal sekali saat tahu Monika menghubungi Ken.


Apa yang disampaikan pak Pras di ruangan rapat tidak bisa kutelaah sebab pikiranku tertuju pada Ken dan Monika. Ada apa Antara mereka?


Ahhhh tidak. Sebenarnya ada apa dengan diriku sendiri? Kenapa aku jadi memikirkan mereka berdua? Kalaupun ada hubungan antara Ken dan Monika, itu bukan urusanku. Hidupku jauh lebih penting dari pada memikirkan kehidupan orang lain.


Tepuk tangan riuh para manajer menyadarkanku bahwa sedang menjalani rapat. Kini semua tatapan tertuju padaku. Termasuk Ken. Ada apa ini?


"Ayo Ra, maju." bisik kak Gita yang duduk di sampingku.


"Kenapa kak?" aku balas berbisik.


Tidak ada waktu untuk menjelaskan sebab pak Pras memintaku kembali maju. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Rupanya ada bonus tambahan sebab rubrik yang aku bina membuat perusahaan maju dua kali lipat di awal tahun ini. Sebagai penanggung jawabnya, aku mendapatkan bonus tabungan.


"Alhamdulillah, terimakasih semuanya. Mohon dukungannya ya." kataku, sambil menundukkan kepala.


"Kamu kenapa Ra?" tanya kak Gita.


"Itu, enggak apa-apa kak." jawabku.


"Tadi kamu melamun, kan?"


"Sedikit, kak."


"Kamu masih memikirkan Arif?"


"Enggak kok kak. Ngapain aku mikirin dia lagi."


"Lalu kenapa? Enggak biasanya kamu seperti itu."


"Sebenarnya aku sedang terpikirkan Ken, kak."


"Hah, Ken? Kenapa memangnya? Kamu ada sesuatu, Ra?"


"Astagfirullah, enggak kok kak."


"Lalu?"


"Kakak tahu nggak sih, ada yang aneh dengannya."


"Aneh bagaimana Ra?"

__ADS_1


"Tadi tiba-tiba Monika meneleponnya."


"Monika istrinya Arif?"


"Iya kak."


"Terus anehnya dimana?"


"Mereka berarti saling kenal?"


"Ya bisa saja. Mungkin pernah satu sekolah, atau tetangga. Atau mungkin saudara. Enggak ada yang nggak mungkin, kan? Kamu yang sebenarnya aneh menurut kakak."


"Kok aku, kak?"


"Tumben-tumbenan kamu peduli urusan orang lain."


"Oh itu. Bukan apa-apa kok kak. Hanya aneh saja."


"Kamu benar-benar sudah melupakan Arif, kan Ra?"


"Ya sudahlah, kak. Aku enggak peduli lagi kok sama dia. Apalagi setelah semua yang dia lakukan padaku dan keluarga. Ya sudahlah kak, enggak usah bahas dia lagi."


***


[Ha ... halooo ....] suara dari seberang sana terdengar terbata-bata.


[Assalamualaikum. Dengan siapa ini?] tanyaku, sambil mengambil pena dan kertas. Khawatir yang menelepon adalah salah satu narasumber yang sempat mengirim email.


[Mbak Rara, bisa bicara?] suara itu terdengar berat.


[Iya. Dengan Rara. Ini siapa ya?]


[Yuni, mbak. Tolong saya. Tolong dengarkan saya. Boleh, mbak?]


[Apa yang bisa saya bantu mbak Yuni?]


[Mbak, saya sedih. Saya baru saja ditinggal oleh calon suami saya.]


[Saya ikut bersedih, mbak. Boleh mbak berbagi cerita dengan saya, siapa tahu kita bisa sama-sama mencari solusinya.] aku langsung menghidupkan mesin perekam, khawatir ada informasi yang terlewat dari narasumber.


[Lelaki itu adalah cinta pertama saya. Ia adalah lelaki baik yang amat saya dambakan bisa jadi suami saya nantinua. Setiap hari kami bertemu, hingga akhirnya karena lelah menantinya. Akhirnya saya meminta bapak dan ibu untuk melamarnya. Mungkin karena terpaksa, merasa berhutang budi atau karena didesak oleh keluarganya yang juga berharap bisa berbeda dengan keluarga saya, akhirnya lamaran saya diterima. Kami sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Pesta pernikahan yang cukup mewah. Bahkan ia juga sudah menyiapkan mahar terbaik untuk saya. Tetapi akhirnya saya tahu, bukan dia yang menyiapkan, tapi ayah dan ibunya. Ia menjalani semuanya di bawah tekanan. Lalu saat hari H, saya mendapati dirinya sudah terbukti kaku. Ia mati bunuh diri sebab tidak bisa menerima semua ini. Ia tidak mencintai saya dan tak yakin bisa berumah tangga dengan saya.]


[Astagfirullah.]


[Ia meninggalkan saya untuk selamanya. Kini saya tidak bisa lagi melihat ya. Bahkan, keluarga besarnya dan hampir seluruh orang yang tahu jadi membenci saya dan keluarga saya karena menganggap Kamilah yang menyebabkan kematiannya. Padahal saya melakukannya karena sangat mencintainya. Saya tidak tahu bahwa semua akan berakhir seperti ini.]


[Mbak ....]


[Saya ingin ikut dengannya mbak. Saya tidak ingin lagi hidup di dunia ini supaya bisa bersama dengannya selamanya. Sungguh saya mencintainya!]


[Mbak, tolong jangan berpikir macam-macam. Mbak ....]


Klik. Telepon diputus. Aku langsung merasakan sesak nafas. Membayangkan, seseorang yang entah dimana keberadaannya, saat ini berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2