
Aku masih menggelayut manja di lengan mama, tapi ada isyarat yang diberikan mama agar aku segera pergi.
"Ra, mama juga kangen sama kamu. Tapi kan kamu sudah menikah, Ra. Baktinya nggak hanya pada mama lagi, tapi kamu harus mendahulukan nak Ken. Kamu beruntung, nak, setelah kejadian pahit sebelum menika, akhirnya Allah kasih kamu suami yang baik. Kamu juga harus menjaganya dengan hormat dan patuh pada nak Ken. InsyaAllah ia adalah imam yang baik untuk kamu nantinya. Rara harus bahagia sama Ken ya."
"Ma,"
"Ra, percayalah, mama akan selalu sayang sama Rara."
"Rara juga ma. Kalau kosong, Rara main ke sini ya."
"Iya. Sana pulang. Kasihan juga Ken, lama nungguin di depan sendiri." ungkap Mama.
Baru saja aku hendak beranjak dari tempat tidur mama, tiba-tiba mama memanggilku kembali. "Ra!" kata mama.
"Ya ma," jawabku.
"Rara bahagia ya!"
"Mama!" aku kembali menghambur dalam pelukan mama. "Rara bahagia kok, ma. Asalkan mama sehat, Rara pasti bahagia."
"Ra, tetap baik-baik sama Ken ya. Rara harus kuat. Apapun yang terjadi kamu adalah anak baik mama."
"Iya ma."
Setelah mencium dan memeluk Mama, aku keluar dari kamar, diikuti oleh Dinda. Sementara Mama masih berbaring di kamar. Dokter melarang mama untuk banyak bergerak. Harus banyak istirahat.
"Din, jangan lupa, kalau ada apa-apa sama mama, segera hubungi kakak. Termasuk kalau papa menghubungi mama, ya." aku berpesan pada Dinda yang mengantar kami sampai pintu depan.
"Iya kak." Dinda mengacungkan jempolnya. "Kakak tenang saja. Jalani kehidupan yang anggun baik dengan mas Ken, jangan bertengkar lagi "
"Ya ampun, sok bijak sekali adik kakak ini!" aku langsung mencubit pipinya, bukannya marah, ia malah tertawa terbahak-bahak.
***
Di mobil, aku masih membahas mama. Ada perasaan berat berpisah dengan mama, padahal ini bukan untuk pertama kalinya. Rasanya lebih berat dibandingkan perpisahan di awal pernikahan dahulu.
"Rumah kita ke rumah mama kan dekat, kamu bisa bolak-balik ke sana. Atau buruan berhenti kerja supaya dari pagi sampai sore bisa ke rumah mama." usul Ken.
"Nggak apa-apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Yang penting saat aku pulang kamu juga ada di rumah. Atau nanti aku yang samperin ke rumah mama. Sesekali kamu juga boleh nginap kalau sudah kangen banget."
"Makasih banget mas. Aku beruntung punya suami sebaik mas!"
"Hadiahnya mana?" Ken menunjuk pipinya sambil senyum ke arahku.
***
Yah, negatif. Aku melempar tespeck yang baru saja kupakai ke tong sampah. Lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Rasanya benar-benar kecewa. Meskipun pernikahan kami baru memasuki bulan pertama, tetapi aku cukup percaya diri bisa segera punya momongan, sayangnya, tes pertama kali langsung gagal, padahal sudah telat dua hari. Kata buku-buku yang aku baca, kalau sudah telat, kemudian di tes biasanya hasilnya positif.
"Apa yang salah?" aku berpikir keras. Rasanya sudah berusaha semaksimal mungkin, diikuti dengan doa. Apa jangan-jangan? Aku langsung geleng-geleng kepala, tidak ingin membayangkan yang buruk-buruk sebab khawatir malah jadi doa. Atau mempengaruhi kesehatan karena kepikiran.
"Harus bagaimana ya?" aku mencoba berpikir, sambil berjalan dari kamar mandi yang berada dalam kamar. Tidak jauh dari tempat tidur, ada Ken yang sedang sibuk dengan laptopnya. Hari ini libur, tapi ia masih asyik dengan kerjaan.
"Bagaimana?" tanya Ken, rupanya kini perhatiannya tertuju padaku.
"Mas maunya bagaimana?" aku balik bertanya.
"Kayaknya negatif, ya?"
"Kok tahu?"
"Iya juga sih."
"Tapi kalau negatif, biasanya wajahnya murung, kening berkerut, bahkan bisa bicara sendiri. Tapi jangan nangis-nangis ya."
"Mas kecewa?"
"Hm, biasa saja."
"Kalau positif?"
"Ya senang dong!"
"Kalau begitu harusnya sedih, dong?"
"Ra, kalau kamu mau cepat-cepat positif, selain menjaga kondisi kesehatan, kamu juga harus bahagia sebab semuanya saling berkaitan, saling mempengaruhi."
"Begitu ya?"
__ADS_1
"Yap!"
"Kok mas tahu semuanya, sih? Apa jangan-jangan mas sudah mempersiapkan semuanya saat tahu Monika hamil?"
"Astagfirullah, istriku sayang, nggak ada kaitannya sama orang-orang di masa lalu. Aku memang sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari calon istri yang baik menurutku dan tentunya atas restu Allah, mempersiapkan segala hal tentang calon anak-anak kita, mulai dari mereka dikandungan ibunya hingga nanti mereka masuk universitas. Kamu sudah baca semua catatannya, kan?"
Aku mengangguk. Ingat betul semua yang ditulis oleh Ken. Ia dengan penuh percaya diri menulis namaku, juga harapannya tentang pernikahan kami.
"Makanya, jangan dikait-kaitkan dengan yang lalu lagi." kata Ken.
"Iya-iya. Tapi kebanyakan perempuan memang begitu. Suka bahas-bahas masa lalu pasangan walaupun akhirnya sakit hati sendiri." kataku.
Ken tertawa, lalu kembali fokus ke laptopnya. Sementara aku masih mengira-ngira, kenapa belum juga bisa hamil?
Sebenarnya, kami masih berada di bulan pertama yang bisa dikatakan masih aman. Belum ada yang mempertanyakan kapan mau punya anak? Sudah hamil atau belum? Tetapi aku adalah tipikal orang yang mencari aman, aku lebih suka mencari aman sebelum berada di dalam posisi tidak nyaman.
Entah sudah berapa banyak artikel tentang kehamilan yang aku buka, tetapi belum ada satupun yang membuat hatiku tenang. Sementara itu, Ken sudah beberapa kali bolak-balik keluar kamar. Saking sibuk dengan apa yang aku cari, sampai tidak menyadari ketika ia kembali datang, tetapi sudah dengan pakaian rapi.
"Ayo ikut aku!" ajak Ken.
"Kemana?" tanyaku.
"Sudah, ikut saja." Ken menarik tanganku, kami menuju teras lantai dua yang berada di samping rumah.
Entah kapan Ken melakukannya, tetapi beranda yang semula hanya ada beberapa kursi untuk duduk-duduk sambil melihat pemandangan kini sudah berubah dengan dekor berwarna putih. Ada dua kursi di sana, di tengahnya ada meja dengan aneka macam makanan yang lezat.
"Mas," aku menatap takjub semuanya. "Apa kita mau candle light dinner ?" tanyaku.
"Ya enggaklah. Ini kan bukan malam, tapi pagi sayang."
"Hehehe, iya juga ya. Aku salah. Tapi mas tahu nggak, dulu aku sering membayangkan bagaimana sih rasanya makan malam romantis sama kekasih, tapi cuma dibayangkan saja karena rasanya nggak mungkin."
"Kenapa nggak mungkin?"
"Karena aku orang yang nggak mau ribet. Untuk makan malam seperti itu kan butuh persiapan yang matang, harus pakai konsep juga. Sedangkan aku kalau makan ya maunya langsung makan, nggak pakai persiapan yang ribet."
"Jadi kamu pengen ngerasain candle light dinner?"
"Aku nggak mau ribet!" kataku, tapi Ken tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1