GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
41. Penjelasan Ken


__ADS_3

Benar saja dugaaanku. Ken seperti patung menyeramkan, berdiri di depan loby kantor dengan wajah ditekuk. Melihatnya sungguh membuat hatiku bergidik ngeri. Tetapi kak Gita, Aya, Dini dan Risa malah menertawakannya, tentu saja tanpa sepengetahuan Ken, bagaimanapun ia atasan kami dan kami harus menjaga sikap di depannya kalau tidak mau dapat masalah.


"Habislah aku!" cetusku.


"Tenang Ra, menurut pengalamanku, seberapa besar kesalahanmu, tapi orang yang mencintaimu pasti akan bisa menerimanya. Jadi, maju dan hadapi Ken, maksudku pak Ken!" kata Aya.


"Ingat Ra, jangan sebut-sebut nama kami jika pak Ken marah ya." Pinta kak Gita.


"Kalian sungguh terlalu. Maunya cari aman." cetusku, diiringi gelak tawa mereka berempat.


Begitu mobil kak Gita berhenti di parkiran, mereka berempat langsung kabur, masuk ke lobi, meninggalkan aku sendiri dengan jantung berdebar kencang. Kali ini bukan hanya karena perasaan yang datang tanpa permisi, tapi juga karena takut.


"Pak!" panggil, dengan agak ragu-ragu.


"Sudah jam berapa ini? Kamu bagaimana sih Ra? Sengaja, mau membuatku menunggu lama? Apalagi jam makan siang sudah berakhir dan panggilan teleponku kamu abaikan begitu saja!"


"Maaf Ken, maksudnya pak Ken. Hpku ketinggalan di laci meja."


"Sudahlah, kamu benar-benar membuatku kesal!" ia berlaku, meninggalkanku seorang diri.


Selama jam kerja, pikiranku benar-benar kacau, membayangkan sikap Ken tadi. Sejak itu ia benar-benar mengabaikan ku. Bahkan meski kami sempat berpapasan di lobi dekat ruangannya, saat aku hendak ke ruang meeting.


Apa ia benar-benar marah? Tapi kan aku sudah minta maaf. Aku juga sudah mengirimkan beberapa pesan padanya, tetapi tidak ditanggapi. Mungkin Ken ingin balas dendam.


***


Aku hampir melonjak tak percaya melihat seseorang yang sudah berdiri di depan rumah. Ia tampak sedang beramah tamah dengan mama. Kalau mau ke rumah kenapa tidak bilang-bilang? Ken tak bicara apapun meski kami sudah berada begitu dekat.


"Ra, kok nggak bilang-bilang kalau nak Ken mau datang ke rumah?" tanya Mama, sambil mempersilakan Ken masuk. "Mama kan harusnya bisa siap-siap terlebih dahulu."

__ADS_1


"Rara enggak tahu, ma. Dia juga enggak bilang." aku langsung nyelonong masuk, tanpa mempedulikan Ken yang juga cuek padaku.


Dari ruang tamu masih terdengar suara Mama dan Ken bercakap-cakap, mereka terdengar begitu akrab. Aku sendiri tidak terlalu tertarik untuk bergabung sebab masih takut melihat ekspresi Ken tadi. Aku yakin ia masih kesal padaku. Memang tadi siang adalah kesalahanku, tetapi aku sudah minta maaf, ia juga sudah mengacuhkan pesan-pesan yang aku kirim.


"Rara!" panggil mama.


Aku buru-buru ke depan, khawatir mama membutuhkan sesuatu. Tetapi ternyata mama memanggil sebab Ken ingin mengatakan sesuatu. Dari raut wajahnya yang mengguratkan keseriusan, membuta ku jadi deg-degan.


"Apa?" tanyaku.


"Jadi begini Tante, sebelumnya saya sudah bicara jujur pada Rara tentang perasaan saya terhadapnya. Sekarang saatnya saya menyampaikan pada Tante, sekaligus sebagai permohonan izin bahwa saya menyukai anak Tante dan berharap bisa mempersunting Rara." ungkap Ken.


Enggak. Jangan katakan sekarang. Aku belum siap. Wajahku langsung memucat, kemudian jadi gelisah. Apalagi mendengar jawaban mama yang menyetujui Ken.


"Kalau Tante sendiri tidak masalah jika nak Ken ingin melamar Rara, tetapi keputusan akhir ada pada Rara. Tante serahkan semuanya padanya. Bagaimana Ra?" tanya mama.


"Rara enggak bisa, ma." jawabku, pelan, tapi cukup terdengar oleh mama dan Ken.


"Iya Ra, kenapa?" Mama langsung mendesakku.


"Apa karena pemuda yang difoto bersama kamu itu?" Ken mulai menuntut jawaban.


"Bukan Ken. Bukan karena dia atau siapapun. Tetapi karena aku belum siap." jawabku, sambil menundukkan wajah. "Ken, kamu sudah tahu, kan. Aku baru beberapa bulan ini gagal menikah. Kamu juga pernah menyaksikan bagaimana menyebalkannya sikap Arif padaku. Dia yang membatalkan tetapi dia juga yang membuat masalah berulang-ulang.


Aku belum siap kalau hal yang sama terjadi lagi. Apalagi kamu atasanku dan aku sendiri belum tahu karakter kamu yang sebenarnya seperti apa, Ken. Aku benar-benar takut." ungkapku.


"Ra, aku nggak sama seperti Arif."


"Tapi aku belum mengenal kamu, Ken. Bagaimana kalau ternyata kita enggak cocok, atau keluarga kamu menolak? Kita itu seperti langit dan bumi. Belum lagi kamu yang terlalu misterius."

__ADS_1


"Kan sudah kuceritakan Ra, tentang ayah dan ibuku. Mereka tidak pernah mempermasalahkan siapapun jodohku nantinya. Kalau kamu tidak percaya, aku bisa bawa mereka segera ke rumah kamu untuk saling kenal. Bagaimana?"


"Masih ada yang mengganjal hatiku, Ken."


"Apa Ra?"


"Monika. Anak itu, apa anak kamu?"


"Astagfirullah. Kamu bicara apa, Ra?"


"Ken, aku perlu kejelasan sebab Arif mengatakan kalau Monika hamil di luar nikah dan pria yang menjalin hubungan terakhir sebelum menikah dengannya adalah kamu. Jujur itu semua mengganggu pikiranku."


"Baiklah, akan aku jelaskan tanpa bermaksud membuka aib siapapun. Enam bulan lalu, aku dan Monika menjalin hubungan. Lebih tepatnya ia yang menyodorkan diri. Semula aku sudah menolaknya, tetapi ia berdalih, ingin mencari calon suami yang bisa membimbingnya. Monika bahkan minta bantuan ibuku untuk menjodohkan kami.


Ibu memang tertipu dengan Monika yang berubah secara drastis. Mungkin kamu juga tahu bagaimana ia kemudian merubah penampilannya dengan pakaian tertutup serta hijab lebarnya. Tetapi siapa sangka, ia mendekatiku hanya karena harta saja, Ra. Sebab Monika tahu bahwa akulah calon penerus kerajaan bisnis ayahku.


Sikap Monika berhasil menyihir kami sekeluarga. Karena itulah akhirnya aku memberinya kesempatan. Aku menerima Monika sebagai calon istriku. Kami menjalani masa taaruf. Selama proses tersebut aku terus-menerus meminta petunjuk Allah sebab aku sendiri menyadari bahwa masih lemah dalam iman, aku juga berharap istri shalihah yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan.


Tiga bulan lalu, hanya sebulan sebelum rencana pernikahan kami. Saat aku dan keluarga baru kembali dari menunaikan ibadah haji, aku menemukan kenyataan bahwa Monika ternyata masih sama seperti dahulu. Ia masih sering ke diskotik, melepas hijabnya, serta pergaulan bebas.


Ibu memanggilnya ke rumah untuk memberi nasihat. Kami masih memberi Monika kesempatan untuk benar-benar berubah sebab kami menyadari, kadang ada orang yang proses hijrahnya butuh waktu. Mungkin Monika pun begitu, bahkan kami berencana mempercepat proses pernikahan agar ada yang membimbingnya.


Tetapi saat makan malam itulah semuanya terbongkar. Ia sedang hamil muda. Entah dengan siapa. Monika tidak mau mengaku. Ketahuan karena ia muntah-muntah sebab mual mencium aroma masakan yang disajikan ibu.


Tentu saja kami tak bisa terima sebab Monika sudah melangkah terlalu jauh. Akhirnya hubungan tersebut diakhiri. Orang tuanya Monika sempat meminta penjelasan, tetapi kami tidak bisa membuka aib anaknya sebab itu permintaan Monika yang ingin menyelesaikan sendiri masalahnya.


Setelah itu aku tak pernah berhubungan lagi dengannya. Hanya tahu bahwa ia sudah menikah dengan Arif." kata Ken, menjelaskan panjang lebar.


"Berarti, ayah bayi itu bukan kamu, kan?"

__ADS_1


"Ya bukanlah. Aku bisa membuktikan, kok."


Mendengar penjelasan Ken, aku jadi tenang. Berarti tuduhan Arif tidaklah benar bahwa Ken ayah dari anak Monika.


__ADS_2