
Akhir pekan ini, sesuai dengan kesepakatan, kami berangkat ke acara ulang tahun Bianca bersama Ken. Ia menjemput aku dan Aya di rumah. Tidak lupa aku membelikan sebuah kado untuk Bianca, sebuah jam tangan cantik yang aku temukan di online shop. Akibat banyaknya pekerjaan kantor, aku jadi tidak punya kesempatan untuk keluar mencari hadiah.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin menghadiri acara ulang tahun, Ra?" pertanyaan Ken membuyarkan lamunanku.
"Tiba-tiba?" aku menatapnya bingung. Bagaimana ia bisa tahu ini pertama kalinya di hidup aku menghadiri acara ulang tahun.
"Iya, sebelumnya kamu tidak pernah menghadiri acara ulang tahun, kan?" ungkap Ken dengan penuh keyakinan.
"Dari mana kamu tahu?" tanyaku.
"Aku yang memberi tahu." celetuk Aya sambil tersenyum.
"Oh, sekarang kamu jadi informan Ken, Ay?" aku pura-pura marah.
"Hahaha, maaf Ra. Aku tidak bisa menolak menjawab pertanyaan bosku." Aya membela diri.
Mendengar jawaban Aya, Ken tersenyum penuh kemenangan, sementara aku hanya menekuk wajah, merasa tidak terima sebab persahabatan dikalahkan oleh jabatan.
Sampai di lokasi, Ken yang berjalan di depan kami tiba-tiba didaulat naik ke atas panggung. Ia tentu saja bingung, apalagi di sana sudah menanti Bianca dan kedua orang tuanya.
"Mas Ken, terimakasih sudah datang." Bianca bicara menggunakan pengeras suara, sehingga aku dan Aya yang berdiri di antara tamu-tamu yang lain bisa melihatnya. "Papi, Mami ... dibilang tahun Bianca yang ke dua puluh dua tahun ini, izinkan Bi mengenalkan lelaki yang sudah mencuri hati Bi."
Oh Tuhan, aku langsung merasa panas mendengarnya, rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku tak menyangka Bianca akan menarik Ken ke depan dan ada adegan seperti ini. Ku kira hanya pertemuan ulang tahun biasa.
"Apa maksudnya?" tanya Ken, suaranya cukup terdengar keras sebab berdiri di samping Bianca yang memegang pengeras suara.
"Mas Ken, aku mau jujur sama mas Ken, sekaligus ingin mendengar jawaban dari mas. Di hadapan kedua orang tuaku dan juga tamu-tamu yang datang di sini, aku ingin menyatakan perasaan yang aku rasakan pada mas Ken. Aku jatuh cinta pada mas sejak pada pandangan pertama. Tetapi aku takut mengungkapkannya, aku malu. Tetapi kini menurutku adalah waktu yang tepat. Maukah mas jadi kekasihku?" tanya Bianca, sambil tersenyum manis.
Gadis itu terlihat sangat serasi dengan Ken. Mereka sama-sama good looking. Berbeda jauh denganku yang biasa-biasa saja. Aku tak ingin lagi berada di sini, tetapi rasanya kakiku tidak bisa melangkah. Bahkan para tamu mulai berbisik-bisik, menyatakan bahwa mereka serasi, apalagi ditambah mereka tahu bahwa Ken adalah direktur perusahaan penerbitan sekaligus pemilik beberapa toko buku besar di negeri ini.
"Apa-apaan ini, Ra?" bisik Aya, ia pasti terkejut dengan semua yang terjadi.
Belum sempat aku menjawab, terdengar suara Ken. "Maaf, saya sudah punya calon istri." kata Ken dengan suara tenang namun begitu lantang.
"Si ... siapa mas?" tanya Bianca dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
"Rara!" jawab Ken.
"Hah, maksudnya mbak Rara?" Bianca bertanya ulang.
Untung saja tidak ada yang mengenalku di sini kecuali Ken, Bianca dan Aya. Jadi tak ada tatapan yang tertuju padaku, hanya terdengar suara bisik-bisik tamu-tamu undangan.
"Iya, Rara." Ken menegaskan kembali. "Ra, kemarilah!"
Sial. Ken menunjukku sehingga semua orang melihat ke arahku, termasuk Bianca dan kedua orang tuanya. Aku benar-benar malu. Tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi aku bergerak maju sebab Aya mendorong tubuhku pelan menuju panggung.
"Ay," bisikku.
"Udah, maju sana!" Aya terus mendorong hingga aku berada di bibir panggung.
"Selamat ulang tahun ya Bi." dengan senyum yang begitu kaku, aku menyalaminya, lalu memberikan kado yang sudah kupersiapkan untuk Bianca.
"Mbak, apa-apaan ini?" tanya Bianca. Ia masih berdiri mematung menghadap ke arahku. Tatapannya terlihat tidak baik-baik saja. Tampak betul ia begitu kesal atau mungkin bisa dikatakan marah padaku.
Bianca, maaf. Aku juga tidak tahu kenapa Ken harus bicara seperti itu. Yang jelas, aku benar-benar tidak nyaman jadi perhatian semua orang yang diiringi dengan bisik-bisik. Mungkin mereka tengah memperbandingkan aku dengan Bianca yang bagaikan langit dan bumi. Ini benar-benar posisi yang sangat tidak nyaman. Ken, kenapa kamu melakukannya padaku! Kalau mau menolak ya tinggal tolak saja, jangan bawa-bawa aku segala.
"Sudah ya Bianca. Selamat ulang tahun. Kami pamit dulu." Ken memberikan isyarat agar mengikutinya. Tanpa banyak kata, aku dan Aya mengikutinya dari belakang.
"Harusnya kamu yang jelaskan, apa maksud semua ini?" Ken balik bertanya, ia tak kalah kesal. Hingga membalasku dengan nada suara tak kalah tinggi.
"Apa?"
"Kamu nggak mungkin nggak tahu kejadian tadi. Iya, kan?"
"Enggak. Sungguh. Aku hanya tahu kalau Bianca suka sama kamu. Tapi enggak nyangka dia akan ngungkapin perasaannya di depan umum seperti tadi."
"Apa? Suka?"
"Iya. Kan sudah aku katakan sebelumnya. Bianca Minta tolong supaya aku mau jadi mak comblang kalian."
"Terus kamu jawab apa?"
__ADS_1
"Ya, aku nggak bisa nolak."
"Astagfirullah. Rara, kamu itu sebenarnya bagaimana sih?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Kamu suka atau tidak denganku? Kenapa malah plin-plan seperti itu?"
"Suka!"
"Lalu kenapa kamu mau jadi perantara kami?"
"Karena aku nggak enak menolaknya."
"Kan tinggal bilang kalau kamu dan aku sedang menjalani ta'aruf.".
"Tapi aku nggak punya kesempatan untuk menjelaskan padanya, Ken. Dia memaksa, lalu berlalu begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk bicara."
"Tapi kamu punya kesempatan untuk mengajakku ke pestanya? Kamu itu kenapa sih?"
"Aku ... aku nggak tahu."
"Nggak tahu apa, Ra?"
"Ken, Bianca itu cantik. Dia terlihat serasi dengan kamu. Aku nggak percaya diri."
"Lalu kamu mau menyerahkan aku padanya?"
"Ya enggak. Aku nggak tahu. Tapi juga nggak mau. Ahhhh, entahlah."
"Tuh kan, plin-plan lagi. Ra, aku nggak peduli seberapa banyak bunga-bunga di luar sana yang cantik dan menggoda. Hatiku cuma tertuju pada kamu. Sudah. Aku tak ingin berpaling selagi kamu masih sama seperti dulu. Rara yang apa adanya, Rara yang selalu menjalankan semuanya sesuai syariat. Jadi tolong jangan lagi membandingkan diri kamu dengan orang lain karena bagiku kamu adalah wanitaku, yang aku cari selama ini, yang bisa membuat hatiku aman dan nyaman."
"Ken."
"Ya ampun, kalian so sweet banget. Aku yang obat nyamuk ini bisa apa?" celoteh Aya, membuat kami sadar bahwa ada orang ketiga yang sudah baper duluan.
__ADS_1
"Aya, tolong jadi saksi tentang pernyataan Rara tadi ya. Bahwa dia suka sama saya!" perintah Ken sambil tersenyum, lalu ia menyalakan mobil, melaju meninggalkan lokasi pesta.
Ya Allah ... apa yang sudah aku katakan tadi? Kini aku begitu yakin bahwa wajahku memerah menahan malu sebab sudah terpancing permainannya Ken, apalagi ada Aya sebagai saksi hidup. Tamatlah aku!