
"Kita makan di sini?" tanyaku, masih tak percaya melihat salah satu restoran mewah yang ada dibilangan Jakarta Selatan.
"Iya. Kamu enggak suka? Di sini masakannya enak lho. Kamu suka makan apa, Ra?" tanya Ken. Sambil turun dari mobil.
Hah, beneran di sini?
Aku masih bengong, ikut ke arah meja yang Ken tuju. Ia mengambil tempat duduk paling pojok, dengan view kolam ikan dan taman indah di tengahnya. Cantik sekali.
Ini pertama kali aku makan di tempat semewah dan pastinya mahal sekali. Terbukti dari menunya yang hampir seluruhnya tidak aku ketahui istilahnya, kecuali steak.
"Kamu mau makan apa, Ra?" Ken menyodorkan satu buku menu padaku. Tentu saja aku panas dingin. Mau pilih yang mana.
"Terserah kamu saja." kataku.
Ken langsung sigap memilih beberapa menu; mulai dari menu pembuka hingga penutupnya. Dengan sigap pelayan mencatat, kemudian berlalu meninggalkan kami berdua.
"Kenapa harus makan di sini?" aku masih bertanya, sebenarnya ada maksud dari pertanyaan tersebut. Siapa sebenarnya Ken. Apakah yang ada di pikiranku itu benar? Entah mengapa, aku semakin ingin tahu. Ia seperti sedang memancingku untuk tahu lebih banyak tentangnya.
"Kamu coba dulu, Ra. Makanan di sini enak kok. Tidak buruk sedikitpun." katanya.
"Kalau itu aku yakin, tapi ...."
"Ken!" sebuah panggilan membuat pembicaraan kami terpotong.
Monika. Aku tidak salah lihat, kan. Dia adalah Monika, mantan model di kantor kami yang sekarang menjadi istri Arif. Benar kan, dia kenal Ken!
"Hei. Kamu ada di sini juga?" tanya Ken dengan santainya.
"Iya. Dimana lagi aku bisa makan siang selain di tempat favorit kita." kata Monika.
Kita? Oh Tuhan, aku yang sebelumnya adalah jenis manusia cuek yang tidak peduli urusan orang lain mendadak ingin tahu segala tentang Ken. Bagaimana mungkin ada kata kita antara Ken dan Monika. Ada apa semua ini?
"Ini Rara, kan?" Monika beralih padaku. "Kamu mantannya Arif, kan?"
Iya, mantan yang lebih tepatnya ditinggalkan karena ia ingin menikah denganmu. Aku membatin.
"Kamu sudah selesai makannya?" tanya Ken.
"Iya, baru saja selesai." jawab Monika.
"Kalau begitu boleh pergi sekarang? Makanan kami sebentar lagi datang. Aku mau berbincang dulu dengan Rara." ungkap Ken.
"Ken!" Monika menatapnya dengan sangat kesal sebab merasa diusir oleh Ken.
"Bye Monika!" Ken melambaikan tangannya pada Monika.
Seperti menyadari bahwa kehadirannya tidak diinginkan di sini, Monika segera berlalu tanpa mengucap sepatah katapun pada kami. Tapi dari raut wajahnya, aku tahu bawa ia sangat kesal pada Ken.
__ADS_1
"kamu kenal Monika?" tanyaku.
"Iya. Dia pernah jadi calon istriku." jawab Ken, singkat namun langsung membuatku syok.
"Hah?" tuh kan, benar. Ken dan Monika saling kenal. Bahkan kata Ken, Monika pernah jadi calon istri Ken.
qadarullahTapi tunggu sebentar, sepertinya ada yang harus aku pahami. Kalau Monika dulunya adalah calon istri Ken, apakah berarti Arif sudah merebut Monika dari Ken? Tapi kenapa Monika mau? Memang benar sih, Arif cukup lumayanlah, tapi Ken jauh lebih rupawan. Ia juga terlihat seperti lelaki yang pekerja keras, buktinya baru satu bulan sudah berhasil melampaui target yang aku buat. Lalu kenapa Monika malah memilih Arif? Apa istimewanya Arif.
"Kamu kaget?"
"Sedikit. Aku merasa kita senasib."
"Apa? Hahaha," tawa Ken langsung pecah. "Enak saja, kita beda nasib. Aku yang meninggalkan Monika."
"Oh ya? Kenapa?"
"Hem, bukannya kamu bilang tidak suka bergosip ya Ra? Kenapa sekarang jadi ingin tahu. Apa jangan-jangan memang benar kalau kamu belum bisa melupakan Arif?"
"Kata siapa?"
"Aku. Barusan bilang."
"Sudah kok!"
"Lalu kenapa kamu grogi seperti itu? Dengar ya Rara, kamu tidak boleh ingat-ingat Arif lagi. Dia tidak pantas untukmu."
"Kan kamu sendiri yang menangis di hadapanku, bercerita bagaimana rumitnya hidupmu setelah ditinggalkan oleh Arif. Ingat, kan?"
"Iya."
"Nah, jangan ingat dia lagi kecuali tiga hal."
"Apa?"
"Pertama, kamu mau digituin lagi olehnya. Kedua, kamu mau jadi yang kedua."
"Enak saja. Aku enggak mau jadi yang kedua. Apalagi dijahatin dia lagi!"
"Makanya lupakan Arif."
"Ketiga?"
"Aku akan marah!'
Ya Tuhan, kenapa Ken bicara seperti itu? Entah bagaimana bentuk wajahku saat ini. Yang jelas aku merasakan panas dingin sebab kata-katanya barusan.
"Kenapa marah?" pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja.
__ADS_1
"Karena ...."
"Iya?"
"Karena makanannya sudah sampai. Ayo kita makan!" Ken menunjuk pelayan yang datang membawa hidangan makanan.
Ya Allah ... lagi-lagi aku terlihat bodoh di hadapan Ken. Enggak, bagaimana mungkin aku bisa berharap lebih pada Ken. Aku harus sadar diri. Monika adalah tipe perempuan yang disukai oleh Ken. Sedangkan aku, jauh sekali dari Monika. Arif yang bukan siapa-siapa saja bisa tergoda dan beralih pada Monika, apalagi Ken yang lebih dibandingkan Arif, pasti punya kenalan perempuan yang secantik Monika, bahkan mungkin lebih.
Kami makan siang dalam diam. Aku tak berani menatap wajah Ken akibat kata-kata terakhirku tadi. Pertanyaan bodoh yang akhirnya membuatku malu sendiri.
Ada perasaan kesal pada diri sendiri. Kenapa bisa-bisanya aku terlena akan kehadiran Ken. Harusnya aku sadar diri, aku ini bukan siapa-siapa. Semua yang dikatakan Arif beberapa waktu lalu harusnya membuatku tahu bagaimana aku di mata lelaki.
***
Usai makan siang bersama, Ken tidak langsung kembali ke kantor. Ia malah mengajakku memutari kota Jakarta.
"Tapi kan kita harus kembali kerja, Ken. Ini masih jam kerja lho." kataku.
"Sesekali enggak apa-apa bolos ya." kata Ken.
"Nggak mau ah. Masa mau makan gajinya, tapi kerjanya bolos. Itu namanya korupsi."
"Hahaha, kamu itu benar-benar lucu ya Ra. Heran, kenapa Arif malah meninggalkan kamu?"
"Udah deh, jangan bahas-bahas dia lagi. Enggak lucu membahas mantan!"
"Iya ... iya. Maaf."
"Yang lucu itu kamu. Perempuan seperti Monika kenapa ditinggalkan?"
"Katanya tidak mau bahas mantan?"
"Oh iya. Maaf!"
Kami berdua sama-sama diam. Lalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Meskipun tergolong karyawan yang total dalam bekerja, entah kenapa hari ini aku memilih berkeliling bersama Ken. Bahkan panggilan telepon dan pesan yang masuk dari kak Gita dan beberapa teman di kantor aku abaikan.
Maaf ... untuk satu kali ini saja. Bolehkan aku menikmati sebentar saja hari bersamanya.
"Ra, mau mampir ke rumahku? Kebetulan orang tuaku baru pulang. Mau ya?" ajak Ken.
"Hah, mampir? Enggak ah, aku nggak mau." aku langsung gugup.
Tapi Ken tetap melajukan mobil menuju rumahnya. Lagi-lagi aku dibuat terpana menyaksikan mobil memasuki halaman rumah mewah yang ada di pertengahan kota Jakarta.
Ya Tuhan ... ini rumah atau istana? Rumah dengan halaman depan yang begitu luas, tetapi dikelilingi taman yang asri. Sehingga membuta betah berlama-lama di sini.
"Yuk turun." ajak Ken.
__ADS_1
Ken, kenapa kamu memgajakku ke rumahmu? Kita kan cuma rekan kantor. Apalagi kamu mau mengenalkan aku pada kedua orang tua kamu. Bisa tidak, jangan membuatku jadi GR. Kan kamu sendiri yang mengatakan, orang yang baru patah hati, begitu mendapatkan perhatian tulus yang berlebihan dari lelaki lain maka akan dengan mudah jatuh cinta kembali. Aku belum siap Ken, patah hati untuk kedua kalinya.