
"Rara!" Monika mengejar langkahku. "Aku kasihan sama kamu. Pasti sakit rasanya ditinggal nikah, jadi jangan sampai terjadi kedua kali. Jangan sampai menyesal, Ra. Ini demi kebaikan kamu. Tolong lepaskan Ken."
"Terimakasih sudah peduli, Monika. Tetapi insyaAllah aku yakin ia nggak seperti itu."
"Ra, kalau kamu mendekati Ken hanya karena uang, aku bisa memberikan kamu lebih banyak lagi. Kamu mau berapa, sebutkan saja!"
"Monika!" sebuah suara memanggil nama Monika. Arif, ia berdiri bak seorang pahlawan kesiangan tidak jauh dari kamu. "Apa yang barusan kamu katakan pada Rara? Cabut lagi kata-kata kamu. Rara bukan perempuan matre seperti yang kamu bayangkan."
"Mau apa sih kamu ke sini?" tanya Monika pada Arif. "Sudah sana, jangan ganggu aku!"
Ketika dua orang yang masih berstatus suami istri tersebut berdebat, aku memutuskan pergi sebelum lebih banyak lagi bisa yang dikeluarkan Monika hingga membuatku sakit hati.
Setelah hubunganku berakhir dengan Arif, ada banyak rasa sakit yang kudapatkan. Kini, setelah melewati begitu banyak kepedihan, aku ingin meraih bahagiaku sendiri. Ken, aku begitu yakin ia adalah jawaban untuk segala keresahan ini.
[Ken, apa kau akan meninggalkan aku?] sebuah pesan ku kirim pada Ken.
Maafkan aku Tuhan, aku janji, tak akan melewati batasan yang sudah Engkau tetapkan. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa ia benar-benar jodoh yang Engkau tetapkan untukku. Agar perasaan ini tidak salah berlabuh.
Ada tiga kali panggilan telepon dari Ken, aku memutuskan untuk tidak menjawab sebab suasana hatiku sedang tidak tenang. [Ra, kamu dimana?] akhirnya Ken membalas pesanku. [Apa kamu baik-baik saja?] ia menelepon untuk keempat kalinya. [Jangan membuatku khawatir, Ra? Apa ada yang menjahati kamu? Ra, jangan pernah dengarkan kata-kata orang lain. Tidak semua orang senang melihat kita bahagia. Tetaplah berpikir seperti kemarin, bahwa kamu juga mencintai aku, sama seperti aku juga mencintai kamu.]
Ken, semoga saja Tuhan benar-benar Ridha dengan kita, hingga pernikahan itu terwujud. Aku benar-benar takut, Ken.
[Ra, kalau kamu berkenan, sekarang pun aku siap menikahimu!] pesan dari Ken lagi.
Terimakasih Ken, kamu sudah berusaha keras agar aku nyaman berada di sisimu.
***
Bruk. Langkahku terhenti ketika sebuah benda dilempar ke tong sampah yang berada di sampingku. Reflek, aku melihat pada tong sampah tersebut. Tampak sebuah bingkisan yang aku berikan di hari ulang tahun Bianca.
"Eh, mbak Rara. Maaf ya jadi mengganggu jalannya. Aku nggak tahu mbak Rara mau lewat." kata Bianca dengan senyum manisnya. "Mbak Rara nggak kena, kan?" ia mendekat.
__ADS_1
"Kenapa dibuang, Bi?" tanyaku.
"Itu, isinya enggak level denganku, mbak. Aku biasanya pakai barang bermerek. Bukan abal-abal seperti itu. Lain kali kalau mbak Rara mau ngasih hadiah, sekiranya belum punya uang, jangan dipaksa, mbak."
Hatiku benar-benar sakit mendengar penghinaan Bianca. Jam itu memang bukan jam mahal bermerek, aku membelinya seharga tiga ratus lima puluh ribu. Tetapi tidak perlu membuangnya tepat di depan orang yang memberinya. Bagiku yang hanya karyawan biasa, jam segitu sudah bagus. Bahkan terkadang aku memakai jam yang harganya di bawah itu.
Aku tak ingin mencari masalah dengan Bianca. Saat ini suasana hatiku sedang tidak bagus usai berbincang dengan Monika tadi. Bianca pun aku yakin ia sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian kemarin.
"Mbak Rara. Mau kemana?" tanya Bianca, saat aku hendak meninggalkannya.
"Aku mau kerja, Bi." jawabku.
"Tunggu dulu. Mbak nggak mau menjelaskan sesuatu?"
"Apa Bi?"
"Kejadian kemarin. Apa maksud mbak melakukannya? Aku benar-benar nggak nyangka, di balik wajah polos mbak, ternyata tega nikung dan mempermalukan aku. Mbak itu benar-benar jahat!"
"Hah? Mbak yakin?"
"Iya Bianca. Hanya saja saat itu aku minder."
"Nah itu tahu. Mbak dan mas Ken itu nggak cocok sama sekali. Kalian itu bagaikan tuan dan pembantunya."
"Bi, aku tahu aku nggak secantik kamu, tapi tidak perlu menghinaku seperti itu. Aku tahu kamu marah, tapi haruskan melontarkan kata-kata sepedas itu?"
"Aku bicara fakta, mbak?"
"Apa gunanya cantik, Bi, kalau nggak punya hati!"
"Apa maksud mbak Rara?"
__ADS_1
"Bianca, dengarkan baik-baik. Bukan aku yang mengejar-ngejar Ken, tapi ia sendiri yang datang. Aku tahu diri kok, tidak langsung menerimanya sebab aku juga merasa tidak pantas. Tapi ketika Ken menyatakan bahwa ia merasa nyaman denganku tanpa peduli apapun, aku rasa tidak ada alasan lagi untuk menolaknya sebab hatiku juga nyaman dengannya.
Ken memang orang kaya, mungkin soal kekayaan ia selevel dengan kamu, Bi. Tapi menurutku justru kalian tidak akan cocok sebab Ken tidak seperti yang kamu bayangkan.
Ia memang orang kaya, tapi selain kaya harta, Ken juga kaya hati. Dia nggak pernah menghina aku seperti kamu menghinaku. Ken memanusiakan semua manusia tanpa peduli bahwa ia kaya, miskin, cantik ataupun jelek." kataku pada Bianca.
Maaf, aku harus bicara setegas ini. Aku tidak mau Bianca terus menerus mengeluarkan racunnya. Selain itu tidak bagus untuk kepribadiannya, hatiku juga sakit mendengarnya.
Aku memang pernah melakukan kesalahan sebab menyanggupi permintaan Bianca sebagai perantara dengan Ken, tetapi aku sudah melakukannya dan Ken menolak. Bukan salahku jika akhirnya hati Ken tertuju padaku, toh perasaan antara kami jauh lebih dulu tumbuh ketimbang Bianca meminta tolong.
Ada kalanya seseorang sulit untuk bicara terbuka sebab ia merasa minder dengan orang lain. Apalagi jika ada penegasan sekaligus sikap yang mengecilkan bahwa ia tidak lebih baik darinya.
"Mbak Rara kira aku akan diam saja dengan apa yang sudah mbak lakukan?" kata Bianca.
"Aku sudah minta maaf Bi, lalu aku harus melakukan apa lagi?" tanyaku.
"Kembalikan mas Ken padaku!"
"Fiufff. Mengembalikan bagaimana. Ken itu bukan barang. Atau begini saja, ayo kita ke ruangan Ken, suruh dia yang memilih sendiri, aku atau kamu!"
"Apa maksud mbak Rara?"
"Kenapa Bianca? Kamu nggak percaya diri?"
"Kenapa harus bicara dengan mas Ken?"
"Karena yang sedang kita rebutkan adalah Ken. Masa kita harus minta penjelasan dari satpam yang di depan!"
"Mbak Rara sudah salah, tapi ngotot."
"Sudahlah, aku lelah menjelaskan pada kamu Bi. Ayo, kita ke ruangan Ken saja. Atau aku hubungi Ken supaya dia datang ke sini untuk memutuskan semuanya. Aku nggak masalah jika akhirnya dia memilih kamu Bianca." dengan cepat aku memencet nomor Ken, memintanya segera turun ke bawah. "Sebentar lagi Ken akan ke sini." kataku.
__ADS_1
"Mbak Rara!" Bianca langsung panik.