GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
9. Mengurung Diri Di Kamar


__ADS_3

Sepasang mata Mama berkaca-kaca setelah mendengar apa yang sudah kujabarkan. Bisa kurasakan bagaimana kecewanya mama. Tidak hanya tentang perasaan kami yang hancur berantakan, juga malu yang harus ditanggung sebab undangan sudah disebar, catering sudah dipesan, tenda dan juga gedung sudah di handle oleh wedding organizer ternama di Jakarta, bahkan tetangga kiri dan kanan pun ikut menyanggupi untuk membantu.


"Maafkan Rara ya ma," pintaku, sambil menggenggam erat tangan mama.


"Enggak, kamu enggak salah Ra. Kalau belum jodoh, mau bagaimana lagi? Iya, kan?" Mama masih berusaha berbicara dengan tegar meskipun suaranya sudah bergetar.


Bagaimana tidak sedih, kecewa dan panik membayangkan ini semua? Saat kita sudah mempersiapkan semuanya sebaik mungkin, semaksimal yang dimampu, tapi ternyata semua berakhir, tidak akan pernah terjadi selamanya. Harapan itu pupus sudah.


"Kak, kenapa si Arif enggak datang langsung ke sini, bicara sama mama?" tanya Dinda.


Entahlah, mana aku tahu. Dia hanya menyerahkan semuanya padaku, persis seperti ia berpangku tangan, hanya pasrah saat diajak berunding tentang pesta pernikahan.


"Jangan-jangan selama ini dia cuma ngeprank kakak!" tuduh Dinda. "Untuk persiapan pernikahan ini kan si Arif enggak ngeluarin modal sepeserpun, jadi sebenarnya kalaupun pernikahan batal, dia enggak rugi apa-apa. Iya, kan?" ungkap Dinda lagi.


"Ya Allah!" Mama langsung histeris. "Maksudnya apa coba?"


"Engga ma, itu enggak mungkin. Kak Gita enggak mungkin sembarangan memproses kalau itu cuma main-main saja. Rara tahu kok kak Gita sangat hati-hati dalam hal ini."


"Tapi buktinya si Arif benar-benar membohongi kita, kan kak? Dia sih enak, enggak rugi apapun. Tapi kita?" Dinda masih menguraikan apa yang jadi dugaannya selama ini.


"Rara enggak tahu ma, boleh Rara permisi ke kamar sekarang?" tanyaku, setelah Mama mengangguk, aku segera berlalu ke kamar, mengunci diri dalam kesendirian.


Pelan, aku berjalan menuju tempat tidur. Di sisi kanan tampak tumpukan souvernir berupa lap tangan dan buku notes kecil sejumlah undangan yang sudah disebarkan.


Di sebelahnya ada seperangkat bed cover berwarna putih. Mama sengaja memilihkannya untuk di pakai saat hari pernikahan yang tinggal menghitung hari saja.


Perlahan, air mata mulai mengalir deras. Entah bagaimana aku harus menghadapi hari berikutnya. Apalagi Arif juga bekerja di tempat yang sama denganku.

__ADS_1


Ya Allah ... apakah rasa sakit ini bisa sembuh?


Ternyata begitu sesak ketika berada dalam posisi di tinggal nikah.


Hari semakin malam. Aku memutuskan tetap berdiam diri di kamar, ridak tertarik untuk makan dan minum. Hanya menghabiskan waktu dalam kesendirian. Mungkin untuk saat ini lebih baik begitu. Aku butuh sendiri.


***


Pagi ini, berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Tidak ada suara Mama membangunkan aku dan Dinda, meminta kamu segera datang ke meja makan untuk sarapan agar tidak terlambat beraktivitas.


Aku dan Dinda juga memilih diam di meja makan. Kami sama sekali tidak tertarik untuk berdebat ataupun saling olok seperti yang biasanya kami lakukan jika sarapan dan makan malam.


Nasi goreng buatan mana yang biasanya nikmat kini terasa hambar. Mungkin karena perasaan kami sedang tidak enak. Dinda memutuskan segera berangkat, sementara Mama memilih berlaku ke kamar dengan alasan mau membereskan tempat tidur hingga meninggalkan aku sendiri di meja makan.


Meski berat, aku mencoba menghabiskan makanan. Menyendok butiran-butiran nasi. Menelannya dengan didorong oleh segelas susu coklat yang entah mengapa berubah rasa jadi aneh padahal biasanya ini salah satu favoritku.


Di depan kaca meja rias, tampak pantulan wajah seorang perempuan dengan kulit kuning langsat, hidung yang tidak terlalu mancung tapi juga tidak bisa dibilang pesek. Pipi yang sedikit cuby. Dengan bola mata yang bulat.


"Fiuff ... nikmatilah harimu Rara!" kataku pada diri sendiri.


Setelah selesai, aku swgera keluar dari kamar mandi. Lalu pamitan pada mama, sedangkan Dinda sudah berangkat lebih dulu.


"Kamu benar tidak apa-apa, Ra?" tanya mama.


"Memang kenapa ma?" tanyaku, sambil memaksakan senyum yang sebenarnya terasa kaku.


"Kan di kantor ada Arif!"

__ADS_1


"Ma, Rara enggak apa-apa kok. Oh ya, nanti untuk urusan pembatalan undangan, biar Rara yang hubungi tamu-tamu yang sudah kita undang. Mama tenang saja, ya." kataku.


"Ra, Mama tahu kamu terluka."


"Luka sih sudah pasti ma."


"Kalau begitu kamu resaind saja. Kamu bisa kerja di tempat lain atau kerja dengan mama saja, ya?"


"Ya jangan dong ma. Rara enggak apa-apa kok. Yang harusnya mundur itu Arif, bukan Rara ma. Lagipula dunia buku adalah dunia Rara, sayang kan kalau harus keluar padahal itu passion Rara banget!"


Setelah meyakinkan Mama bahwa aku akan baik-baik saja, entah bisa atau tidak, aku lalu pamit ke kantor. Sebelum naik motor, aku berusaha menarik nafas beberapa kali, rasanya masih sesak di dada ini.


Ya Allah ... tolonglah hamba!


Motor mulai melaju membelah kita Jakarta. Aku berusaha menyemangati diri sendiri, tetapi saat motor memasuki area parkiran kantor, rasanya nyaliku langsung ciut.


"Ya Allah ... bagaimana ini?" aku benar-benar deg-degan. Seperti memikul beban yang begitu berat. Sakit sekali rasanya.


Di kantor ini awal mula kami bertemu. Mukanya hubungan kami biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa layaknya dengan karyawan biasa. Hanya sesekali saling bertegur sapa saat aku butuh bantuannya untuk mencari data atau meminta foto.


Tetapi, tiba-tiba ia menghubungi kak Gita, meminta untuk diproses kan denganku. Ia, dia sendiri yang memilih aku. Tentu saja aku tidak langsung mengiyakan, sebab ini bukan perkara mudah bagiku, menerima laki-laki asing dalam hidupku.


Tidak bisa ku pungkiri kalau aku masih punya trauma. Selalu berusaha jaga jarak dengan lelaki lain sebab trauma dengan perceraian papa dan mama. Aku takut ditinggalkan ketika aku sudah menaruh harapan pada lelaki lain. Seperti papa yang meninggalkan kami saat kami masih sangat butuh figur dan tanggung jawab seorang ayah.


Arif berjuang keras untuk mendapatkan hatiku. Ia tidak hanya mendekatiku, tapi juga berusaha dekat dengan Mama dan Dinda. Hingga akhirnya aku kukuh dan membuka hatiku.


Kedua orang tuanya pun sudah dibawa menghadap pada mama. Ia bahkan sudah menghubungi papa. Hingga akhirnya rencana pernikahan itu pun ditetapkan. Lalu tiba-tiba ia membatalkan secara sepihak begitu saja.

__ADS_1


Ya Allah ... Bagaimana tidak hancur perasaanku. Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi. Saat aku membuka harapan, tetapi malah ditinggalkan. Persis seperti apa yang dilakukan pakai padaku saat itu. Aku trauma untuk kedua kalinya.


__ADS_2