GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
54. Apakah Harus Gagal Untuk Kedua Kalinya?


__ADS_3

Wajahku memucat, saat panggilan telepon tak juga mendapatkan tanggapan dari Ken, begitu juga dengan pesan-pesan. Sejak kemarin tertera di keterangan wa bahwa Ken tak aktif.


Bagaimana mungkin seorang Ken yang notabene adalah direktur utama dari perusahaan buku dan percetakan besar bisa tidak memegang Hpnya selama itu? Apesnya lagi, tidak ada satupun anggota keluarganya yang bisa aku hubungi sebab aku benar-benar tidak mengenal mereka. Aku hanya tahu siapa nama ayahnya sebagai pemilik perusahaan, tidak lebih. Hari ini adalah perkenalan keluarga untuk pertama kalinya.


Keringat dingin mulai membanjiri punggung belakang. Terasa betul mengalir pelan. Rasanya aku benar-benar gelisah. Tidak tahu harus berbuat apa selain memencet-mencet nomor Hp Ken, berharap ada keajaiban, ia aktif untuk sekedar menjawab telepon atau membalas pesanku agar resah ini benar-benar hilang.


"Ken, kamu dimana?" aku nyaris menangis.


Tiba-tiba muncul Aya, Dini dan Risa. Mereka langsung heboh saat melihat tampilan baruku usai di makeup oleh Tante Wira.


"MasyaAllah Rara, kamu cantik sekali. Sungguh Ra. Coba kalau Arif lihat, bisa nyesal tujuh turunan dia!" ungkap Dini.


"Duh, tolong dong, nggak usah bawa-bawa nama itu lagi. Enneg aku mendengarnya!" ungkap Aya dengan tampang pura-pura mau muntah.


"Iya, suasana lagi menyenangkan seperti ini malah bahas-bahas makhluk enggak punya hati itu. Udah, mulai sekarang jangan sebut dia lagi. Asli aku nggak suka mendengarnya. Pengen menghujat tapi takut dosa!" kata Risa.


"Iya iya. Aku minta maaf. Saking takjubnya sama Rara yang sekarang. Asli, kamu serasi sekali dengan Ken, Ra. Cocok seratus persen. Bibit unggul banget deh. Nanti anak-anak kalian pasti lucu-lucu menggemaskan!" kata Dini.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu diam saja, Ra? Kamu lagi sedih?" tanya Risa yang sepertinya menyadari ekspresi wajahku yang resah.


"Siapa yang sedih? Rara? Ya enggaklah. Dia kan bakal jadi istri pemilik perusahaan besar, masa sedih. Iya, kan Ra? Yang ada sekarang Rara pasti lagu bahagia banget. Atau jangan-jangan hatinya deg-degan, makanya enggak bisa berkata apa-apa." ungkap Dini.


"Ken menghilang ...." kataku, dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar.


"Hah?" kata Aya, Dini dan Risa.


"Hilang bagaimana? Kok bisa? Bagaimana ceritanya? Ra, ayo kasih tahu aku? Apa jangan-jangan ...." Aya menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Enggak, nggak mungkin. Aku yakin sekali kalau Ken sangat mencintai kamu, Ra. Buktinya, ia selalu ada untuk kamu. Dari awal ia masih menyamar jadi karyawan biasa, aku sering melihatnya memperhatikan kamu. Itu nggak mungkin Ra. Aku yakin ini pasti hanya kesalah pahaman. Iya, kan Ra?" tuding Aya.


"Aku nggak tahu. Tapi dari kemarin dia nggak aktif sama sekali." kataku, dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, aku benar-benar takut. Takut kalau aku akan kecewa lagi untuk kedua kalinya, tapi lebih takut lagi kalau mama pun akan kecewa.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa yang terjadi belakangan ini terlalu manis. Aku takut kalau semua itu hanyalah kebahagiaan semu. Apakah ada kesalahan yang aku lakukan tanpa aku sadari hingga akhirnya aku tak pantas mendapatkan kebahagiaan itu? Lagi-lagi air mata itu menerobos turun, membanjiri kedua pipiku.


"Aku takut!" ucapku dalam seru sedan.


"Ra, jangan takut, semua akan baik-baik saja. InsyaAllah. Kamu sabar dulu ya." pinta Risa sambil memelukku. "Sekarang kita harus melakukan apa?" Risa beralih pada Aya dan Dini.


Kami berempat berembuk, mencari cara untuk memecahkan kegelisahan ini. Sementara jarum jam terus berputar membuta hatiku semakin bertambah risau.


"Bagaimana ini? Lima belas menit lagi acara di mulai. Tamu-tamu juga sudah sampai. Ada kak Gita, mas Fian, pak RT, Bu RT, dan juga pak ustad. Bagaimana ini?" aku mulai panik, saat mengintip dari jendela kamar.


"Tenang Ra," pinta Aya.


"Bagaimana caranya aku bisa tenang kalau Ken nggak ada kabar sama sekali!" aku mulai terbawa suasana.


"Padahal kemarin Ken nggak masuk ya. Lalu dia kemana? Apa jangan-jangan ...." Dini mulai menerka.


"Iya, maaf. Aku cuma ...." lagi-lagi Dini terdiam.


"Pasti, sudah Din!" Risa juga ikut menyuruh diam.


"Kamu nggak tahu Ay, rasanya ditinggal nikah. Sekarang harus gagal untuk kedua kalinya, aku nggak sanggup!" aku masih menangis.


"Iya Ra, kami mengerti. Kamu sabar ya. Kita semua pasti akan cari cara agar Ken bisa ditemukan. Jadi sebenarnya bagaimana cerita lengkapnya? Apa kalian bertengkar?" tanya Aya.


"Enggak. Terakhir ketemu di rumah sakit, kami bicara berdua hanya sebelum masuk kamar mama, ia cuma bertanya tentang Rangga. Setelah masuk ruang perawatan, ia cuma bicara sama mama." kataku.


"Kenapa dia nanya Rangga?" Aya menyelidik.


"Sebelum Ken datang, Rangga juga datang membesuk mama. Saat ia mau pulang, Arif datang dan menuduh yang bukan-bukan. Tapi Ken abai, hingga akhirnya Rangga dan Arif pergi. Sudah, segitu saja." kataku lagi.

__ADS_1


"Mungkin Ken cemburu atau dia berprasangka lain?" tanya Aya lagi.


"Entahlah ...." jawabku dengan suara lemah. Sakit Ken rasanya ditinggal nikah. Kamulah obatnya kala itu. Lalu apakah sekarang kamu akan melakukan hal yang sama padaku? Ken, kamu lelaki baik, aku sangat yakin itu. Berilah sebuah tanda agar keyakinan ini tidak goyah sedikitpun.


"Kak Rara!" pekik Dinda dari balik pintu.


"Ya Allah, bagaimana ini?" aku langsung memegang tangan teman-temanku, rasanya benar-benar lemas, seperti hendak menghadapi hukuman berat.


Dinda masuk ke kamar, ia menarik tanganku agar segera keluar diikuti Aya, Risa dan Dini. Kami berjamaah terus melewati ruangan tamu melewati tamu-tamu yang sibuk ngobrol dengan mama, papa dan Tante Wira.


Aku nyaris terperanjat mendapati sebuah mobil yang baru sempurna parkir di depan rumah, tak lama keluar sosok seseorang yang tadi membuatku sampai meneteskan air mata.


"Ken!" panggilku.


"Ra!" ia tampak resah, keluar tergopoh-gopoh. "Maaf ya Ra, aku harap kamu enggak marah. Orang tua kamu juga." kata Ken.


"Kenapa?"


"Itu, maaf Ra ... maaf banget. Aku sudah bicara baik-baik pada bapak dan ibuku, tapi mereka enggak mau mendengarkan. Alasannya karena aku anak bungsu dan laki-laki satu-satunya. Maaf ya Ra, aku ...."


"Iihhh Ken, apasih?" Aya tampak tidak sabar, ia langsung maju meminta penjelasan dari Ken, sampai-sampai lupa bahwa Ken adalah atasannya.


"Tuh!" Ken menunjuk ke arah gang masuk, tak lama muncul dua bis ukuran kecil, diiringi puluhan mobil mewah yang harganya milliaran rupiah. Dari bis kecil itu turun orang-orang berbusana khas Betawi, membawa tanjidor, rebana, terompet dan beberapa alat musik lainnya yang tidak aku kenali. "Maaf Ra, itu ... saudara-saudaraku yang maksa!" Ken meringis, mungkin ia malu.


"Enggak apa-apa, Ken. Tapi meriah juga ya." kataku, yang tercengang-cengang melihat semuanya. Sementara orang-orang dalam rumah langsung keluar, begitu juga dengan tetangga kiri dan kanan. "Ada ondel-ondel ya juga." aku tersenyum, membuat Ken makin malu.


"Ra, kamu cantik sekali." katanya, pelan. "Tapi matanya kok merah?"


"Pstttt, jaga jarak. Kalian belum halal!" kak Gita tiba-tiba mendekat, memberi jarak antara aku dan Ken.

__ADS_1


__ADS_2