GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
34. Maaf, Aku Tidak Mau Ghibah!


__ADS_3

Namanya gosip, pasti masih banyak saja peminatnya meskipun mereka tahu bahwa dosanya tidak kecil, bayangkan kita diumpamakan memakan bangkai saudara sendiri!


Seperti ketika pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kantor setelah kemarin libur, entah sudah berapa orang yang sengaja datang mendekat untuk membicarakan Arif. Ada yang sekedar berbagi informasi, mencari tahu informasi dariku, hingga menyematkan penilaian pada Arif meski sebenarnya kita sendiri bukanlah manusia yang suci.


"Ra, sudah tahu gosip terbaru belum? Monika kemarin melahirkan."


"Bayangkan, Ra. Belum tiga bulan menikah tapi susah lahiran."


"Sudah pasti Monika hamil di luar nikah."


"Pantas saja Arif meninggalkan kamu, Ra. Dia kan sudah dikejar-kejar tanggung jawab. Jadi terjawab kan, sebenarnya dia menikahi Monika karena terpaksa."


"Ckckck, enggak nyangka ya, ternyata Arif nakal juga. Padahal kelihatan alim. Apalagi pas tahu dia mau nikah sama kamu. Wah, aku kira Arif benar-benar laki-laki salih, ternyata ...."


"Ra, untungnya kamu enggak jadi nikah sama Arif, coba bayangkan, kalau kamu jadi nikah ternyata Arif punya anak di luar nikah dengan perempuan lain. Malah semakin kacau kan Ra?"


"Ra, kamu enggak diapa-apain juga kan sama Arif?" pertanyaan ini langsung kubantah sebab aku bukan perempuan sembarang meski menurut mereka aku tak cantik.


Entah sudah berapa orang teman-teman kantor yang datang menghampiri saat melihatku masuk kerja. Semuanya mendekat karena ingin membicarakan Arif. Membahas tentang kejadian kemarin yang membuat kantor geger.


Tiba-tiba saja, di jam kerja, salah seorang bapak-bapak yang diduga adalah pekerja di rumah Monika datang menjemput Arif. Ia mengabarkan kalau Monika masuk rumah sakit, siap untuk melahirkan.


Tentu saja yang mendapati kabar itu langsung geger. Berita itupun cepat menyebar dari mulut ke mulut.


Aku sendiri juga kaget mendengarnya. Hingga detik ini belum bisa mencerna apakah benar Arif seperti itu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan, seseorang yang beberapa bulan lalu datang secara baik-baik dengan perantara kak Gita, menyampaikan niat baiknya ingin mengenalku lebih dekat untuk dijadikan teman dalam berlayar mengarungi kehidupan ini.


Tidak ada yang aneh dengan Arif saat itu selain ia yang ceplas-ceplos dan terlihat begitu bersemangat ingin menikah denganku.


Arif yang dahulu adalah seorang aktivis di kampusnya. Tertera juga di dalam CVnya. Aktif dalam dakwah masjid. Apakah ia benar seperti itu.


Astagfirullah. Aku belum bisa percaya. Walaupun aku membencinya sebab perbuatannya yang meninggalkan aku begitu saja, tetap saja belum percaya bahwa Arif sebejat itu.


"Sudah ya, tidak perlu dibahas lagi. Aku nggak mau ghibah. Tau sendiri kan bagaimana dosa ghibah? Sama saja kita memakan bangkai saudara sendiri. Lagipula kita tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya, jadi jangan ghibah lagi ya." aku menolak satu-persatu yang datang ke mejaku untuk membicarakan Arif.


Aku benar-benar takut jatuh pada dosa fitnah. Mengatakan Arif yang bukan-bukan sebab saat melihat bayi Monika yang dipajang di media sosial salah satu keluarga Monika, jelas sekali wajahnya tidak mirip Arif. Wajahnya juga berbeda dengan Monika yang keturunan Indonesia Inggris. Sedang bayinya seperti bayi India atau Arab. Aku juga tidak bisa memastikan sebab hanya melihat dari foto.


***

__ADS_1


"Ra, bisa keluar sebentar." tiba-tiba Ken sudah berada di depan mejaku. Tentu saja aku kaget sebab sejak tadi sibuk dengan surat pembaca yang masuk ke emailku.


"Kenapa Ken? Eh, maksud saya pak Ken." aku agak gugup sebab beberapa orang yang berada di sekitarku melihat ke arah aku dan Ken. Duh, jangan sampai ada gosip yang aneh-aneh lagi nantinya.


"Ayo!" Ken memberikan isyarat agar aku mengikutinya.


Fiufff. Aku menghembuskan nafas. Lalu segera bangkit, meskipun agak berat sebab semua mata yang ada di sekitar melihat ke arahku. Secepat mungkin aku menyusul langkah Ken yang sudah lebih dulu berada di luar kantor.


"Kenapa?" tanyaku.


"Galak sekali. Ayo ikut!" Ken membukakan pintu mobilnya.


"Kemana?"


"Nanti juga tahu. Sekarang ikut saja dulu."


"Tapi kenapa?"


"Penting, Ra!"


"Nah, sudah sampai!" kata Ken. Ia menyuruhku turun di depan sebuah restoran yang tidak kalah mewah dengan restoran pertama yang kami kunjungi.


"Kenapa ke sini?" tanyaku. "Katanya penting."


"Ya mau makanlah, Ra. Masa ke restoran mau olahraga." Ken memberi isyarat agar aku segera turun. "Makan itu juga penting, Ra. Masa mau kerja terus. Apa enggak capek. Tubuh juga butuh energi!"


"Aku nggak lapar, lagian kalau mau makan kan bisa makan sendiri."


"Tapi aku maunya makan sama kamu."


"Dih, aneh sekali. Sejak kapan. kamu jadi tukang paksa, Ken?"


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Ken langsung memesankan makanan untuk kami tanpa bertanya terlebih dahulu padaku. Tetapi saat makanan disajikan, aku langsung tersenyum sumringah mendapati menu kesukaanku ikut tersaji. Udang goreng dengan saus tomat.


"Kenapa? Senang ya bisa ketemu udang goreng?" tanya Ken, membuat senyumku langsung hilang.


"Kamu asal tebak atau ...."

__ADS_1


"Enak saja asal tebak, ya aku tahukah kalau udang goreng adalah makanan favorit kamu. Iya, kan?"


"Iya sih. Tapi bagaimana bisa tahu?"


"Enggak hanya itu, aku juga tahu kalau kamu suka teh yang nggak manis. Terus kamu suka baca buku novel romance ketimbang nonton film."


"Tahu darimana?"


"Aku itu direktur kamu, Ra. Enggak sulit untuk mendapatkan informasi seperti ini tentang kamu."


"Apa untungnya kamu tahu itu semua?"


"Kamu masih belum paham, Ra?"


"Kenapa?"


"Kamu nggak sedang pura-pura nggak tahu, kan Ra?"


"Enggak."


"Coba pikir, Ra. Sebelum aku ungkapkan sendiri. Untuk apa seorang lelaki sudah payah mencari tahu apa yang disukai seorang perempuan? Lalu untuk apa juga ia bersikap baik pada keluarga perempuan?"


"Mana aku tahu!"


Ya ampun, Ra. Baiklah, akan aku jawab saja. Malas main tebak-tebakan sama kamu Aku suka sama kamu, Ra!"


"Uhuk ... uhuk ... uhuk." tiba-tiba aku merasa sulit untuk bernafas. Udang yang tadinya tertelan seperti nyangkut di tenggorokan, padahal sudah kukunyah sampai halus.


*Apakah Ken sedang mempermainkan aku?


Kenapa kalau bersama dia, aku seperti orang bodoh*?


"Kamu enggak apa-apa, kan?" Ken menyodorkan segelas air putih, ia tampak khawatir melihatku yang masih terbatuk-batuk. "Ini yang membuatku maju mundur mau mengutarakan isi hatiku padamu, Ra. Tapi aku enggak mau berlama-lama. Aku mau kamu tahu perasaanku yang sebenarnya.


Kemarin sebenarnya aku ingin bicara langsung dengan kedua orang tuamu, tapi karena kondisi Tante sedang tidak sehat, makanya aku tahan dulu."


"Tunggu, jangan bicara apapun dulu. Jawab dulu, kamu beneran suka atau sedang mencandai aku?" Tanyaku, sambil meletakkan tangan di depan Ken agar ia berhenti bicara.

__ADS_1


__ADS_2