GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
73. Bertengkar Dengan Dinda


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa dengan mama, Din?" untuk ketiga kalinya pertanyaan itu kulontarkan, tapi Dinda masih saja bungkam. Ia tetap dengan pendiriannya. Tutup mulut, tidak mau menceritakan apapun padaku, meski aku merasa juga berhak tahu. "Kamu kenapa sih, Din? Sejak kapan kita punya rahasia?" aku mulai kesal. Sikapnya itu berbeda sekali dengan biasanya. Entah apa penyebabnya.


"Nggak ada apa-apa kak." pernyataan Dinda masih sama.


"Nggak mungkin. Dokter mengatakan kalau sakit mama dipicu oleh pikiran. Berarti ada sesuatu yang dipikirkan maka. Iya, kan?" aku masih mendesak Dinda. "Tolong Din, katakan sama kakak! Kamu kenapa sih? Kamu mau menghukum kakak karena selama dua pekan ini nggak pernah mengunjungi mama. Iya, kan?" kini nada suaraku semakin naik. Untuk pertama kalinya aku marah pada Dinda. "Kalau tahu bakal seperti ini, kakak nggak akan mau menikah dengan Ken, nggak mau juga tinggal dengan Ken. Kakak lebih baik di rumah saja menjaga mama!"


"Astagfirullah, nggak begitu kak. Dinda bukan siapa-siapa untuk menghukum. Lagipula kakak nggak salah apa-apa, kenapa Dinda harus menghukum kakak segala? Kamu bahagia dengan pernikahan kakak dan mas Ken, ini nggak ada hubungannya dengan kakak sama sekali."


"Lalu kenapa kamu merahasiakan sesuatu dari kakak? Sejak kita kecil, saat papa dan mama berpisah, kita sudah sama-sama janji nggak akan main rahasia-rahasia, kita akan selalu terbuka dan selalu mendukung. Lalu kenapa sekarang kamu diam saja saat kakak tanya, lalu apa itu namanya?"


"Kak Rara kenapa sih, nggak percaya sekali sama Dinda. Sudah Dinda katakan nggak ada apa-apa, mama sakit entah mikirin apa, kenapa jadi Dinda yang di desak terus? Dinda juga sama seperti kakak, khawatir, tapi nggak boleh juga membuat orang lain enggak nyaman! Sikap kakak itu yang membuat Dinda tambah bingung."


"Terus kenapa kamu larang kakak menghubungi papa dan Tante Wira."


"Ya buat apa, kak? Mama cuma butuh perawatan dan istirahat. Butuh tenang pikiran dan hatinya. Kalau banyak yang datang, mama nggak bisa tidur. Ini saja dokter sampai memberikan mama obat tidur karena sudah tiga hari mama nggak bisa memejamkan matanya."


"Astagfirullah, tapi apa salahnya, Din?"


"Kenapa juga kakak harus ngotot pengen papa dan istrinya datang ke sini?"


"Karena mereka saudara kita. Apa salahnya mereka tahu."


"Saudara kita tapi bukan saudara mama!" tegas Dinda. "Kakak lupa, papa dan mama sudah bercerai, kak. Papa juga sudah menikah dengan Tante Wira. Kehidupan mereka sudah berbeda. Tidak bisa terus-menerus dihubungkan. Apapun yang terjadi pada mama, itu bukan urusan papa ataupun Tante Wira. Jadi nggak usah ngabarin papa. Ngerti kan kak!" Dinda melangkah keluar, di pintu ia berpapasan dengan Ken yang baru saja datang.


"Ra," panggil Ken. Ia mendekat, saat melihatku meneteskan air mata, Ken langsung memelukku.


Entahlah, rasanya begitu sesak. Di dada ini. Kenapa Dinda harus berkata seperti itu? Bukankah mama dan papa sudah baikan? Lalu apa salahnya mengabari? Maksudku hanya untuk menjalin silaturahim.


"Aku berkelahi sama Dinda." kataku, sambil menangis di pelukan Ken.


"Kenapa?" tanya Ken.

__ADS_1


"Entah. Dia sepertinya merahasiakan sesuatu."


"Masa?"


"Iya Ken, aku tahu itu. Aku dan Dinda itu sangat dekat. Kami berdua adalah kakak adik yang lengket. Aku pernah cerita ke kamu tentang rumitnya hubungan papa dan mama saat bercerai, kan. Sejak itu kami berdua sama-sama janji nggak akan ada rahasia dan akan selalu ada satu sama lain sebab kami sudah nggak punya orang tua yang lengkap. Aku akan melengkapi Dinda, begitu juga sebaliknya. Tapi sekarang ...." aku tak sanggup menyelesaikan kata-kata, lalu kembali menangis di pangkuannya Ken.


"Tenang sayang."


"Ken, kenapa Dinda berubah."


"Apa yang berubah?"


"Ya kamu lihat sendiri, dia seperti dingin padaku."


"Mungkin karena Dinda sedang cemas dengan kondisi Mama."


"Sama, aku juga cemas. Mama adalah orang tuaku juga."


"Bagaimana bisa tenang, dokter mengatakan kalau mama sedang banyak pikiran, makanya sampai drop. Padahal kamu tahu sendiri, kan, mama sudah nggak mengerjakan apapun lagi." Ken memang sudah membelikan tiga pintu lagi ruko yang berada di sebelah ruko mama agar usaha mama makin besar, tidak hanya itu, Ken menyediakan pegawai agar mama tidak perlu mengerjakan apapun. Mama hanya tinggal menikmati hasil penjualan tiap bulannya.


"Apa perlu aku bicara dengan Dinda?"


"Enggak usah, biar dia buka suara sendiri."


"Ra, jangan terpancing emosi. Kamu dan Dinda sama-sama sedang panik. Mungkin Dinda lebih panik lagi sebab usianya belum dewasa, ia juga melihat sendiri saat mama sakit. Iya, kan? Kamu harus tenang, berusaha mensupport dia, buat dia nyaman agar mau kembali bercerita. Kalau kamu terus mendesak, yang ada Dinda akan menjauh karena enggak nyaman."


Aku mencoba merenungkan nasihat dari Ken, apa yang dikatakannya ada benarnya. Aku dan Dinda sama-sama nggak tahan kalua melihat maka sakit. Kami akan panik. Kemarin Dinda sendirian, dia tidak punya teman bicara, pasti bukan hal yang mudah untuknya.


"Ken, boleh titip mama sebentar. Aku mau nyusul Dinda." pintaku.


"Ya." kata Ken.

__ADS_1


Aku segera berlalu menyusuri lorong-lorong rumah sakit, melihat ke tiap sudut-sudut, berharap menemukan sosok Dinda, tapi yang dicari tak juga kelihatan.


Begitu hendak menyerah, tiba-tiba langkahku terhenti melihat Dinda duduk di ujung mushalla rumah sakit. Aku segera menghampirinya.


"Din," panggilku.


Dia masih diam, hanya melihatku sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan. Sikap yang sama seperti ketika ada masalah.


"Kamu nggak akan bisa membohongi kakak, Din." bisikku dalam hati.


Aku mendekatinya. Dudu di sampingnya. Untuk beberapa saat kami sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Beban apa yang kamu simpan, Din? Sampaikan pada kakak, bukankah kita selalu berbagi masalah selama ini?


Baru hendak membuka pembicaraan, tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Ternyata Tante Wira. Aku segera mengangkatnya.


[Ra, kata nak Ken mbak Rahayu masuk rumah sakit, ya?] tanya Tante Wira.


[Iya Tante.] jawabku.


[Ya Allah, kapan Ra?]


[Beberapa jam yang lalu Tante.]


[Sakit apa, Ra?]


[Jantung dan darah tinggi Tante.]


[Semoga mama nggak apa-apa ya Ra. Kok ngabarin Tante? kan sudah Tante pesankan, kalau ada apa-apa kabari sama Tante dan papa juga. Nanti kami ke sana kalau papa sudah pulang ya, Ra. Kamu yang tabah ya sayang. Tante berdoa untuk kesembuhan mama.]


[Iya Tante, terimakasih banyak ya Tan.] Usai berbincang, aku memutuskan panggilan telepon. Lalu beralih pada Dinda.


"Lihat kan bagaimana jadinya. Nggak enak sama Tante Wira." ucapku dengan nada agak kesal.

__ADS_1


__ADS_2