GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
32. Ken Datang Berkunjung


__ADS_3

Baru saja motor terparkir sempurna di garasi rumah, ketika aku hendak masuk ke dalam, tiba-tiba langkahku terhenti melihat mobil yang baru sampai di depan rumah. Mobil yang rasanya tidak asing bagiku. Melihat sosok yang baru keluar langsung membuat ku terbelalak.


"Ken! Eh, maksudnya pak Ken!" kataku.


"Hahaha, enggak usah formal begitu Ra. Ini sudah bukan jam kantor. Panggil Ken atau mas Ken saja." katanya, sambil melempar senyum terbaik.


"Dih, mas Ken?"


"Nah itu lebih enak di dengar telinga."


"Ngapain kamu di sini?"


"Mau mampir."


"Mampir?"


"Iya. Kan tadi aku sudah bilang. Kamu sudah baca wa dari aku, kan?"


"Tapi kan aku enggak balas."


"Ya meskipun enggak dibalas, tapi karena kamu sudah baca dan enggak ada penolakan, aku anggap kamu menerima kehadiranku di sini. Seperti seorang anak perempuan yang dilamar, diam saja. Itu kan tandanya iya. Aku juga mengartikan kamu seperti itu."


"Kesimpulan seperti apa itu?"


"Kesimpulan aku sendiri."


"Seenaknya saja."


"Sudah ah Ra, bisa tolong panggilkan Tante."


"Kamu mau ngapain, Ken? Cari-cari mamaku segala. Jangan sok akrab, deh!" bagaimanapun aku harus membatasi pertemuan mama dengan Ken sebab pertemuan pertama saja sudah meninggalkan kesan mendalam di hati Mama. Jangan sampai mama benar-benar suka pada Ken dan berharap ia jadi menantu.


"Aku mau ketemu Mama kamu."


"Buat apa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa?"


"Nanti juga kamu bisa dengar sendiri."


"Enggak bisa. Mama enggak ada di rumah."


"Belum pulang ya."


"Iya!"


"Ya sudah, aku tunggu di sini ya." tanpa permisi, Ken duduk di kursi tamu yang ada di teras rumah.

__ADS_1


"Mau ngapain sih?" aku mulai gelisah. Bukan apa-apa, sikapnya yang seperti ini membuatku panas dingin. Baru saja aku berikrar akan melupakannya, tapi kalau Ken sok akrab seperti ini pasti akan susah jadinya. Dia sih enak, dengan mudahnya bisa beralih pada orang lain. Lalu kami?


"Kamu nggak mau ngasih minum, Ra?"


"Enggak ada minuman di sini."


"Pelit sekali. Kamu enggak lupa kan Ra, kalau aku atasan kamu?"


"Jadi kamu mau menekan, aku? Tadi katanya suruh biasa saja. Tidak perlu formal karena kita sudah tidak berada di kantor dan ini bukan jam kerja!"


"Iya deh, kamu menang!"


"Kenapa sih harus pura-pura jadi karyawan segala?"


"Kamu enggak suka?"


"Yaiyalah!"


"Berarti kita sama, Ra. Awalnya aku juga enggak suka. Tetapi itu adalah syarat yang diajukan ayah sebelum aku mengambil alih jabatan sebagai direktur utama. Ayah ingin aku belajar terlebih dahulu, selama satu bulan menjadi seorang karyawan biasa tanpa dikenali oleh yang lainnya.


Tujuan ayah, agar aku benar-benar merasakan dan tahu kondisi perusahaan secara utuh. Baik dan buruknya. Ketika seorang pemimpin tahu keluh kesah orang-orang yang dipimpinnya, maka itu akan jadi awal menjadi seorang pemimpin baik. Tidak hanya menuntut pengabdian karyawan tapi juga bisa mensejahterakan mereka.


Ketidak sukaanku akan syarat yang diajukan ayah berubah saat aku mulai mengenal kamu, Ra. Bisa berteman dekat bahkan belajar darimu rasanya sebuah keberuntungan. Aku benar-benar tidak menyangka, perusahaan punya karyawan yang begitu loyal dalam pekerjaannya.


Jadi, dengan keuntungan yang sudah kudapatkan tersebut, akhirnya aku berubah pikiran. Jadi lebih mensyukuri syarat yang diajukan oleh ayahku." kata Ken.


Apa yang dituturkan oleh Ken betul juga. Banyak sekali pemimpin sekarang yang tidak paham bagaimana kondisi bawahannya. Mereka hanya tahu bagaimana perusahaan bisa mencapai target tanpa peduli bawahan yang sudah banting tulang berusaha memberikan yang terbaik.


"Lalu mau apa?" tanyaku pada Ken.


"Ra, apa kamu sudah siap menikah?"


"Maksudnya?"


"Setelah gagal menikah dengan Arif beberapa waktu lalu, apa kamu sudah siap membuka lembaran baru?"


"Kamu sendiri?"


"Aku insyaAllah sudah siap, Ra."


"Nah kebetulan. Aku punya calon yang pas untuk kamu."


"Calon bagaimana, Ra?"


"Bianca. Kamu tahu dia, kan? Yang dulu masuk bersamaan dengan kamu."


"Model itu, kan?"


"Iya. Kamu mau mengenalnya lebih dekat, nggak?"

__ADS_1


"Enggak!"


"Kok begitu, sih?"


"Karena aku ingin orang lain."


"Kak Rara!" suara Dinda menghentikan pembicaraan kami. "Kak, Mama pingsan!" kata Dinda


"Astagfirullah!" aku segera berlari menuju kedai bunga tempat Mama berada tanpa mempedulikan Ken.


Sampai di sana, aku mendapati Mama sudah dibaringkan di atas sofa. Ada dua orang perempuan paruh baya menemani Mama. Mereka adalah tetangga kami. Biasanya Mama meminta bantuan mereka kalau ada pesanan dalam jumlah banyak.


"Mama kenapa?" tanyaku.


"Bawa ke rumah sakit saja, Ra!" ajak Ken.


Tanpa komando lagi, kami semua membawa Mama ke rumah sakit dengan mobil Ken. Aku,dan Dinda memangku tubuh mama di kursi belakang, sementara Ken nyetir sendiri di depan.


Mama baru saja diperiksa oleh dokter. Rupanya tensi Mama rendah sekali. Aku baru menyadari betapa Mama sekarang lebih kurus dari sebelumnya. Pasti karena mama banyak pikiran. Sejak rencana pernikahanku gagal, mama memang berubah jadi lebih pendiam. Wajahnya juga sering murung. Pasti Mama memikirkan semuanya.


Aku benar-benar merasa bersalah pada mama. Bukannya membuat Mama bahagia, aku justru menambah beban untuk mama.


Ya Allah ... maafkan Rara, ma.


Saat mama sadar, wajahnya yang semula tampak lemas langsung ceria begitu menyadari kehadiran Ken.


"Ya ampun, nak Ken. Maaf ya kalau Tante merepotkan nak Ken." kata mama.


"Tidak apa-apa, saya justru senang bisa membantu Tante." jawab Ken dengan sopan.


Basa-basi antara mama dan Ken terus berlanjut hingga aku menyelesaikan urusan administrasi. Setelah itu kami pulang naik mobil Ken. Sebenarnya aku sudah menyuruhnya pulang, nanti bisa pulang naik taksi, tapi dia tidak mendengarkan, ditambah mama yang juga mempertahankan keberadaannya.


Sampai rumah, Ken hanya mampir sebentar, ia langsung pulang sebab tidak mau mengganggu istirahat mama meski sebenarnya Ken sangat ingin menyampaikan sesuatu pada Mama.


"Besok saja, kalau kondisi Tante sudah baikan, saya akan mampir ke sini lagi " Kata Ken, lalu ia pamit pulang.


"Ken itu baik sekali ya, Ra." kata mama.


"Ma, ternyata Ken itu adalah direktur utama di kantor Rara!" aku menceritakan semuanya hingga wajah mama berubah sendu.


"Ra, kira-kira Ken mau nyari calon istri yang seperti apa, ya?"


"Memangnya kenapa, ma?"


"Mama ingin sekali kamu punya jodoh seperti Ken."


"Jangan berharap terlalu besar ma, nanti kecewa lho. Lagipula Ken kan atasannya Rara dan mama sudah tahu kan bagaimana tipe perempuan yang ia suka?"


"Iya sih Ra. Tapi mama tetap berdoa semoga kamu dapat jodoh sepertinya."

__ADS_1


Di dalam hati ini, apa yang barusan jadi doa mama, langsung ku aminkan sekencang mungkin. Entah mengapa aku begitu berharap agar apa yang jadi doaku, doa mama dan Dinda dapat dikabulkan Allah. Apakah aku terlalu berlebihan?


__ADS_2