GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
87. Ragu


__ADS_3

"Huh, mbak Rahayu ini juga nggak sadar diri, sudah tahu sejak awal suami saya nggak mencinta mbak, tapi mbak tetap bertahan. Naif sekali." kata Tante Wira yang merasa menang di atas angin sebab merasa memiliki cinta papa padahal sebenarnya pun ia dimanfaatkan oleh papa.


"Bukan perkara mudah untuk lepas dari lelaki parasit seperti suami kamu!"


"Itu sebab kamu yang tidak cantik, tapi masih berharap dicintai. Heh, tidak sadar diri, ngaca mbak ngaca! Saya itu suka heran sama orang-orang yang fisiknya nggak cantik tapi kok mimpi nikah sama laki-laki rupawan. Jomplang sekali!" Tante Wira berkata tegas. "Bisa saja nanti putri kamu juga bernasib sama seperti kamu, beda dong dengan putriku Elsa!"


"Kenapa yang dibahas masalah cantik nggak cantik terus sih? Laki-laki yang baik itu memilih perempuan nggak hanya dari penampilan fisiknya Tante. Saya pribadi merasa istri saya cantik, tapi yang pertama saya lihat pastinya adalah akhlaknya. InsyaAllah saya akan tenang karena dia juga akan menjaga dirinya dengan baik. Kalau masalah cantik nggak cantik sekarang semua bisa dipermak Tante. Dipoles-poles juga bisa. Tapi syariat nggak menyarankan memilih hanya dari rupa." kata Ken dengan tenang tapi menampar Tante Wira. "Tante tahu tidak, Rara itu selain shalihah, cerdas, baik juga. Dia hanya nggak mau dandan saja. Kalau dia sudah dandan, kelar semuanya. Paling penting, bagi saya dia adalah ratu di hati saya. InsyaAllah untuk selamanya, iya kan sayang." Ken mencium pelan tanganku, sehingga membuatku panas dingin.


"Mas," aku tersipu.


"Lagipula, mama juga cantik Tante. Hatinya mama bersih. Nggak kayak Tante." Sindir Ken.


"Cantik atau tidaknya saya adalah makhluk Allah. Saya yakin sudah diciptakan dengan sebaik-baiknya rupa. Jadi kamu jangan menginap saya lagi sebab dengan menghina saya sama saja kamu menghina pencipta kamu sendiri!


Lagipula apa tidak ada yang lebih penting menurut kalian dari pada wajah? Sungguh, saya iba dengan kamu Wira. Secara sadar ataupun tidak sadar, kamu juga dimanfaatkan oleh suami kamu. Padahal kamu ngaku sudah cantik dan dipuja-puja olehnya." Mama tersenyum sinis.


Begitulah, seorang ibu bisa berubah jadi segarang macan kalau sudah menyangkut anak-anaknya. Mereka kadang sanggup menahan luka yang digoreskan pada dirinya, tapi tidak dengan anak-anaknya.


"Sebaiknya sekarang kalian pergi saja. Jangan coba-coba lagi untuk menghubungi anak dan mantuku. Kalau kalian berani maka saya akan laporkan polisi!" kata mama dengan tegas.


"Lalu bagaimana dengan uang dan barang-barang kami?" tanya Tante Wira.


"Masih berani kamu mempertanyakan itu?" Mama menatap tajam. Tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya sebab mama adalah tipikal orang yang tenang dan kalem. Mama tak akan sanggup menyakiti siapapun, meski dengan sebuah tatapan. Tetapi hari ini mama melakukannya, hanya untuk melindungi anak-anaknya.


"Mas, dengarkan baik-baik, jangan ganggu Rara lagi atas menyebarkan berita bohong tentang kami. Kalau mas melakukannya, saya nggak akan segan-segan menuntut mas di pengadilan. Mas nggak lupa kan apa kewajiban yang ditetapkan hakim saat kita berpisah? Mas berkewajiban membiayai mereka. Tapi mas nggak memberikan yang sepeser pun. Kalau mas ganggu lagi, saya akan minta semuanya." kata mama.


"Iya iya Rahayu. Aku tak akan mencari masalah lagi." kata papa, sambil bangkit dari duduknya. Lalu bergegas pergi diikuti Tante Wira dan Elsa.


***


Pagi ini rasanya sangat malas untuk berangkat kerja. Bahkan untuk sekedar bangkit dari tempat tidur. Sejak salat Subuh, aku memutuskan kembali ke tempat tidur. Bahkan meminta izin pada Ken hari ini tidak masuk dulu.


"Kamu sakit, yang?" tanya Ken, sambil memegang keningku. Ia langsung menunjukkan sikap khawatir sebab biasanya aku rajin kerja. Kalau libur dengan alasan sakit, pasti sakitnya serius.

__ADS_1


"Cuma lemas saja. Mungkin karena beberapa hari ini lembur." jawabku, sambil menarik selimut.


"Kalau begitu aku libur saja dulu." Ken melepaskan jas dan dasinya.


"Jangan, aku nggak apa-apa kok mas. Mungkin hanya harus istirahat saja."


"Nggak apa-apa, aku mau merawat kamu. Atau sebaiknya kita ke rumah sakit? Aku benar-benar khawatir sama kesehatan kamu."


"Nggak usah. Aku istirahat saja."


"Kalau begitu aku siapkan sarapan ya. Kamu makan di sini saja." Ken buru-buru keluar. Sementara aku memutuskan untuk tidur.


Baru saja sebentar memejamkan mata, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tanggal dua puluh lima. Bukankah itu tandanya terlambat satu hari. Apa jangan-jangan?


Aku segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Buru-buru mengambil tespeck yang sengaja kusiapkan di lemari kecil yang ada dalam kamar mandi.


"Semoga ... semoga." kataku.


Lalu ini artinya apa? Satu garis nyata, satu lagi samar.


Apa jangan-jangan alatnya salah? Aku segera mengambil kembali alat tes di lemari. Tapi ternyata sudah tidak ada. Perlahan kutepuk pelan keningku, teringat bahwa ini alat tes terakhir. Aku memang sengaja membeli satu pak kecil, tapi karena sering memakainya, akhirnya sisa satu.


"Bagaimana ini? Jadi positif atau negatif?" keningku sampai berkerut memikirkannya. Tapi tiba-tiba tersentak sebab Ken mengetuk pelan pintu kamar mandi.


"Sayang, kamu di dalam?" tanya Ken.


"Iya," Jawabku, lalu membuka pintunya dan keluar.


"Kenapa?"


"Ini." aku memperlihatkan hasil tes pada Ken. "Positif atau negatif ya?"


"Entah. Di keterangannya bagaimana?"

__ADS_1


"Kalau kondisi seperti ini nggak ada keterangan. Nggak ditulis."


"Jangan-jangan karena kamu kebanyakan makan sambal, makanya garisnya samar-samar." Ken mencoba berseloroh.


"Nggak lucu, mas." aku cemberut.


"Ya sudah, makan saja dulu. Nanti coba tes lagi."


"Alatnya sudah habis."


"Hah, sebanyak itu sudah habis? Kayaknya isinya tiga puluhan deh."


"Kan setiap hari kupakai untuk tes."


"Ya Allah sayang, jangan seperti itu juga. Nanti kamu stres sendiri lho."


"Ya mau bagaimana lagi. Aku cuma mau jaga-jaga saja. Ini sudah bukan kedua. Takut nanti ada yang nanya-nanya. Meskipun belum ada sih, tapi kan nggak ada salahnya waspada."


"Hm, kalau kamu nggak nyaman jangan lakukan sayang. Aku nggak mau kamu pusing hanya karena permasalahan ini. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama. Lagipula kita kan baru menikah dua bulanan, jadi sabar dulu. Allah pasti akan memberi di saat yang tepat."


"Entah kenapa, aku pengen cepat-cepat punya momongan. Selain pengen memberikan keturunan untuk mas, juga pengen membahagiakan mama dan orang tua kamu dengan menghadirkan seorang cucu. Tapi ya balik lagi, semua kehendak Allah."


"Jadi kamu sudah pasrah?"


"Iya mas, aku pasrah. Mau berusaha bagaimana kalau Allah belum kasih ya bagaimana. Ya kan mas?"


"Hm, iya sayang. Nah sekarang ayo makan." Ken menuntunku menuju sepasang tempat duduk di dekat televisi. Di sana sudah ada dua piring nasi goreng dan susu. "Yuk makan."


Entah kenapa lagi ini, makanan yang biasanya lezat menurutku kini terasa seperti sesuatu yang bisa membangkitkan rasa mual. Hanya dalam hitungan detik, rasa mual itu meningkat-ningkat. Apalagi dengan aroma susu putihnya.


Huekk. Aku tak bisa menahannya lagi. Makanya buru-buru lari ke kamar mandi supaya leluasa memuntahkan isi perutku.


"Ra, sepertinya sakit kamu serius." Ken yang begitu cemas langsung memaksa agar aku mau dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2