
Akhirnya jam kerja berakhir juga. Aku langsung mengecek Hp, masih beberapa jam lagi barulah Ken sampai di Paris. Baru berpisah beberapa jam saja kenapa rasanya hati ini begitu galau. Aku langsung membenamkan wajah di atas meja kerja.
"Ken, aku kangen!" aku hanya bisa merintih dalam hati. "Kamu sedang apa di pesawat? Duduk dengan siapa? Bianca nggak dekat-dekat kamu, kan?" lagi-lagi semuanya menjadi tanda tanya di hati.
Astagfirullah!" Aku nyaris melonjak saat mengangkat kepala, sudah ada Aya, Dini dan Risa di hadapanku. "Kalian, bikin kaget aja!" kataku.
"Kami kira kamu ketiduran." kata Aya, sambil menarik kursi, lalu duduk di hadapanku.
"Ngapain tidur di kantor." kataku.
"Terus kenapa wajahnya di tekuk seperti itu?" tanya Risa.
"Aku lagi galau." Kataku.
"Kenapa?" tanya Risa lagi. "Kalau mau curhat, bagaimana kalau sambil makan di luar? Aku lapar nih." ajak Risa.
Kami berempat sepakat untuk makan malam di luar sambil bercerita. Kapan lagi bisa keluar malam dengan sahabatku, mumpung Ken tidak di rumah. Tetapi sebelum pergi, tidak lupa aku mengirim pesan padanya, sebagai pengganti minta izin.
"Udah selesai minta izin, yuk cabut." kataku.
Berempat, kami naik motor beriringan menuju warung makan ayam, salah satu warung makan tempat kami biasa makan. Aku dibonceng oleh Aya sebab tadi berangkat diantar mbak Tati.
"Nah, sekarang ayo cerita." kata Aya, sambil memakan ayamnya.
"Bianca." kataku.
"Aku tahu, kamu pasti kesal karena dia masih genit saja kan sama Ken?" tebak Aya.
__ADS_1
"Yap benar. Aku benar-benar bingung, bagaimana caranya supaya dia nggak lagi ngedekatin Ken, padahal kan kita satu kantor, entah bagaimana nantinya kalau aku resaind, mungkin dia bakal menjadi-jadi. Tadi saja waktu aku nganterin Ken ke bandara, dia langsung mau menghampiri Ken dengan tingkahnya yang sengaja dibuat genit, tapi saat sadar ada aku di sana, baru deh dia biasa-biasa saja." kataku, menceritakan kejadian tadi pagi. Sebenarnya aku kesal saat mau masuk untuk check in, senyum Bianca kembali lebar sebab ia tahu aku hanya mengantar saja.
"Memang sih, harusnya kamu bersikap tegas supaya dia enggak macam-macam. Perempuan seperti Bianca itu nggak akan pernah mau menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bianca itu nggak akan peduli kalau Ken sudah menikah atau belum soalnya dia sudah terlanjur terobsesi dengan kekayaan Ken. Dia itu ngincar CEO CEO muda, bahkan yang tua pun mereka mau. Kalian tahu sendiri kan, saudaraku saja yang sudah enam puluhan tahun masih juga ditarget karena punya perusahaan sendiri. Apalagi Ken yang secara usia masih muda dan juga good looking.
Makanya kamu harus hati-hati Ra. Khawatirnya Ken khilaf. Yang namanya setan kan nggak akan mau menyerah menyesatkan manusia. Pelakornya juga begitu, nggak akan menyerah sebelum dia mendapat apa yang dia mau." kata Dini.
"Iya sih. Tapi Ken juga sudah bilang, enggak peduli sama Bianca." kataku.
"Kalau begitu kamu harus percaya pada Ken, Ra. Atau kalau kamu masih bimbang, besok kalau Bianca kembali, kami bertiga akan bantu bicara ke dia, kalau masih ngeyel juga, siap-siap aja dapat pelajaran. Iya, nggak?" kata Aya pada Dini dan Risa.
"Iya dong." jawab Dini dan Risa secara serentak.
"Udah, fokus pada pernikahan kamu saja. Jangan terlalu banyak mikir supaya enggak stres. Kalau kamu pusing nanti susah punya anak lho." tambah Dini.
Perbincangan tentang Bianca kami akhiri sebab tak ingin berghibah. Kami lanjut membicarakan rencana pernikahan Aya, Dini dan Risa. Sesekali bercerita pengalaman lucu kami masing-masing sehingga mengundang tawa.
"Wah ... wah ... wah. Geng mantan calon istri lagi ngumpul nih." tiba-tiba Arif berdiri satu meter dari kami.
"Arif!" pekik Risa, ia kaget melihat penampilan baru Arif.
Dari jaket kuning dan helm yang dipegangnya, kami bisa tahu kalau sekarang Arif bekerja sebagai ojek online.
"Cieee yang masih kumpul-kumpul sama sahabat lama. Rara ... Rara. Aku kira setelah menikah dengan direktur itu selera kamu bakalan naik, tetapi ternyata sama saja. Kamu enggak berubah-rubah ya Ra, sukanya kumpul sama orang-orang seperti ini, makannya juga di rumah makan seperti ini. Ckckck, harusnya kamu itu makan di restoran mahal, bertemannya dengan ibu-ibu pejabat atau paling nggak sesama istri direktur lah.
Ken punya uang nggak sih Ra? Masa istrinya nggak dikasih uang lebih? Atau jangan-jangan kamu makan ini juga hasil dari gaji kamu? Enggak ada uang bulanan, Ra?
__ADS_1
Kasihan sekali ya kamu, Ra. Mau menikah dengan orang sekaya apapun tetap aja nasibnya apes. Hehehehe." tawa Arif pecah, membuat darahku naik ke ubun-ubun.
Byur. Segelas es jeruk yang masih utuh langsung diguyur ke atas kepala Arif oleh Aya. Andai tidak kutarik, mungkin ia sudah memberi Arif pelajaran tambahan.
"Kamu itu nggak berubah-ubah ya Rif, masih aja menyebalkan seperti dulu. Apa salahnya Rara berteman dengan kami? Kamu enggak lupa kan siapa orang tuaku, berapa kekayaan Dini dan orang tua Risa punya berapa pabrik roti?
Lagian, mau makan di sini atau dimanapun itu urusan kami, bukan urusan kamu Rif. Kami makan di sini bukan karena nggak punya uang, tapi karena kami mau.
Maaf maaf ya Rif, kami enggak terlalu peduli dengan yang namanya gengsi, yang penting hati senang dan uang melimpah. Dari pada kamu, sibuk dengan urusan orang lain, lebih baik perbaiki diri, Rif. Mau sampai kapan julid sama Rara terus? Dia sudah ke bukan, kamu masih nyungsep aja di bumi.
Ingat Rif, hidup cuma sekali. Lebih baik perbaiki diri, kita nggak tahu kapan dipanggil sama Allah. Dosa kamu sama Rara udah banyak banget, belum minta maaf ehbueah nambah dosa baru lagi. Kali ini enggak tanggung-tanggung, bukan hanya Rara yang kamu sakiti, tapi juga hati kami bertiga. Mau kamu sial gara-gara kami sumpahi?
Persahabatan kami enggak kayak pertemanan kamu yang palsu. Berteman karena ada maunya saja. Tapi kami benar-benar tulus. Apa adanya. Paham nggak kamu!" ungkap Aya. Ia yang biasanya gampang terpancing tapi kali ini mencoba lebih sabar, mungkin karena efek mau menikah.
"Lagian ya Rif, kamu masih kerja di salah satu perusahaan ayahnya Ken saja masih belagu. Mau kamu diadukan sama Rara ke ayah mertuanya lalu dipecat lagi? Jadi pengangguran lagi kamu, Rif!" ungkap Dini.
"Lho, santai dong nona-nona. Aku kan cuma bercanda. Aku nyapa kalian bukan karena mau nyari masalah apalagi gara-gara. Beneran deh. Aku itu kangen berat sama kalian berempat. Kita kan sudah lama enggak bertemu. Apalagi sama mantan calon istriku yang ...." belum selesai Arif bicara, Aya sudah memotong.
"Eh tolong, enggak usah bawa kata-kata mantan calon istri. Rara pernah berproses sama kamu adalah sebuah keapesan yang disesalinya seumur hidup meskipun akhirnya Allah berikan obat yang benar-benar menyembuhkannya yaitu Ken. Paham nggak kamu!" timpal Aya.
"Iya iya. Terserah kalian saja. Aku nggak akan ungkit-ungkit lagi meskipun Rara pernah mencintai aku." tambah Arif.
"Ngelunjak ya kamu. Udah deh Rif, lain kali enggak usah muncul lagi di hadapan kami berempat, kalau berani muncul di hadapan Ken saja. Berani nggak kamu? Lagian pembaca juga udah kesal sama kamu, sampai-sampai mempertanyakan, kok bisa ada manusia sedablek kamu itu." kata Aya.
"Iya deh Bu Aya. Aku minta maaf, bilang maaf juga sama pembaca." Arif buru-buru pergi saat pesanannya sudah selesai, dengan tidak tahu malu ia melambaikan tangannya pada kami.
"Kamu pasti ngerasa Arif itu mimpi buruk yang pernah hadir di hidup kamu ya Ra?" tanya Aya.
__ADS_1
"Yah, heran aja, kok ada manusia seperti itu. Enggak tahu malu banget, jahat, licik juga. Pokoknya nyebelin paket komplit." kataku, diikuti gelak tawa ketiga sahabatku.