GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
57. Sah!


__ADS_3

Sejak semalam; aku, mama dan Dinda sudah berada di hotel Swis, salah satu hotel berbintang lima yang ada di sekitar Jakarta Selatan. Kami juga baru tahu kalau hotel ini ternyata milik orang tua Ken.


Pagi-paginya aku langsung didandani oleh Tante Wira. Meski ibunya Ken sudah menawarkan jasa perias, tapi aku tetap memilih ibu tiriku sebab ia sudah tahu riasan seperti apa yang aku inginkan. Flawles dan tanpa cukur alis.


"Tante, maaf ya, pagi-pagi sekali harus datang ke sini." kataku pada Tante Wira, saat ia bersiap di meja rias. Sebenarnya papa dan Tante Wira juga sudah diminta menginap di hotel agar paginya tidak terburu-buru karena akad dilaksanakan pukul delapan pagi. Tetapi karena ada urusan lainnya, makanya menjelang Subuh baru tiba di hotel.


"Tidak apa-apa, Ra. Kita adalah keluarga. Meskipun sebelumnya hubungan kita tidak baik, tetapi mulai sekarang hingga seterusnya, Tante harap kita menjadi baik, benar-benar seperti keluarga." ungkap Tante Wira sambil tersenyum ke arahku.


Tidak butuh waktu lama, proses menghias sudah selesai. Kebaya panjang berwarna putih juga sudah kupakai. Aku semakin pangling dengan diri sendiri. Apalagi mama, Dinda dan Tante Wira.


"Nanti, kamu pakai riasan sederhana seperti yang Tante ajarkan, yakin deh, Ken akan pangling melihatnya. Cantik sekali, Ra!" kata Tante Wira.


Aku tersenyum mendengarnya. Entah kenapa, jantungku langsung berdebat saat mengingat nama Ken. Hanya tinggal beberapa menit lagi, maka ia akan mengucapkan ijab kabul hingga status kami berubah jadi sah di mata Allah.


Ya Allah ... lancarkan lah!


Aku menanti di dalam ruangan yang persis berada di samping tempat Ken dan papa akan mengucapkan ijab kabul. Di dalam kamar itu juga disediakan televisi yang bisa memantau kondisi di mana akad akan berlangsung.


"Bagaimana perasaan kamu, Ra?" tanya Aya, Dini dan Risa yang menemaniku.


"Entahlah. Panas dingin, deg-degan juga." kataku, sambil terus memantau televisi dimana terlihat jelas papa mulai menggenggam tangan Ken.


"Saudara Ken Willian Bin Arthur Willian, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rara Alia Giani Binti Muhammad Heru Widianto dengan maskawinnya berupa perhiasan emas seberat seratus gram, tunai.” kata papa.


“Saya terima nikah dan kawinnya Rara Alia Giani Binti Muhammad Heru Widianto dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai.” jawab Ken.


"Bagaimana para saksi?" tanya bapak penghulu.


"Sah!" jawab kedua saksi dan semua yang hadir.


Alhamdulillah.

__ADS_1


Dengan diiringi ketiga sahabatku, kini aku berjalan menuju tempat akad, menuju Ken yang saat ini resmi menjadi pendamping hidupku.


Lelaki itu, tersenyum melihat ke arahku. Ada banyak cinta yang terpancar dari kedua netranya. Sama seperti yang aku rasakan padanya. Saat kami berada begitu dekat, hanya berjarak beberapa centimeter. Tak ada kata yang bisa terucap, selain tawa dan tangis bahagia. Ya, aku merasa begitu bahagia. Belum pernah sebahagia ini.


"Ra, terimakasih sudah mau menjadi istriku." ia mengambil cincin yang sudah dipersiapkan, lalu hendak memasangkan pada jemariku. Pelan, aku merasakan sentuhan tangan Ken. Sungguh, aku berharap, tangan itu akan terus menyentuh dan menggenggamnya, hingga kami menua nanti.


Satu cincin lagi diberikan kepadaku untuk dipasangkan di jari Ken. Sebuah cincin putih tetapi memiliki banyak makna untuk kami.


"Terimakasih, Ken." kataku. Meski begitu pelan, namun aku sangat yakin Ken mendengarnya.


Pelan, tangan itu ku raih, lalu kucium dengan penuh takjim. Tangan yang kini menggantikan papa sebagai penanggung jawab hidupku di dunia ini. Tangan yang akan menjagaku dengan penuh cinta.


"Ra, apa kamu bahagia?" Ken berbisik di telingaku. Sangat dekat, sehingga nafasnya terasa seperti sengatan listrik di tubuhku.


"Hm," jawabku, tentunya dengan wajah yang memerah, namun berusaha bersikap sewajarnya sebab juru kamera mulai mengambil foto kami. "Aku malu." kataku.


"Kenapa?"


"Sudah halal tidak apa-apa."


Baru saja ia hendak usil, tetapi aku langsung mengelak, sehingga membuat Ken gemas. "Awas saja kamu nanti!" ia malah mengancam.


Usai akad, kami berdua sungkem pada kedua orang tua. Aku tak kuasa menahan tangis saat memegang tangan mama. Tidak terasa, dua puluh dua tahun berlalu, biasanya mama yang selalu ada di sampingku, kini aku akan meninggalkan Mama. Rasanya begitu sedih.


"Mama," aku menangis dalam pangkuan mama. Ternyata, begitu sesak rasanya ketika akhirnya harus berpisah. "Terimakasih sudah memberikan banyak cinta untuk Rara."


"Kamu harus bahagia, nak. Mama tidak mau melihatmu sedih lagi. Mengerti, Ra." pinta Mama.


"Asalkan mama bahagia, Rara juga akan bahagia, ma."


"Kita bahagia bersama ya nak."

__ADS_1


Lalu ketika aku menghadap papa. Sosok itu tak banyak berkata-kata, ia hanya membisikkan kata sayang dan maaf di telingaku. Yah, meskipun papa baru ada di hidupku beberapa waktu terakhir, tapi aku tak bisa memungkiri, papa adalah salah satu sosok paling berharga di hidupku.


"Maafkan papa ya Ra. Terimakasih sudah menerima papa lagi." bisik papa.


Setelah itu kami harus bersiap menghadiri resepsi. Pertama kali dengan adat Betawi, acara akan berlangsung sampai Zuhur. Setelah itu istirahat sebentar untuk salat dan makan, kemudian barulah acara dengan adat Jawa Barat hingga Maghrib nantinya.


"Ra, kemarilah sebentar!" panggil Ken, saat aku baru saja didandani.


"Apa?" jawabku.


"Sebentar."


"Nggak mau." aku segera berlalu, sementara Ken kembali cemberut.


***


Resepsi pernikahan yang diselenggarakan keluarga Ken jauh lebih meriah dibandingkan bayanganku. Tamu-tamu yang datang begitu banyak, riasan juga sangat elegan, begitu juga dengan makanan dan minuman yang tidak pernah habis.


Rombongan karyawan dari kantor juga datang. Mereka membuat kesepakatan akan memanggilku bu boss, sebab aku sudah resmi jadi istri Ken.


"Hai mbak Rara, selamat ya." kata Bianca dengan gaya khasnya. "Persaingan kita belum berakhir, mbak. Aku nggak akan nyerahin mas Ken begitu saja sama mbak. Aku akan menunggu dudanya." bisik Bianca saat ia cipika-cipiki.


"Astagfirullah." aku benar-benar kesal melihat Bianca yang masih saja sinis padaku. Padahal aku dan Ken sudah sama-sama halal. Bagaimana ia bisa berharap agar Ken segera menjadi duda.


Selesai bersalaman, bersama teman-teman lainnya, Bianca berfoto bersama kami. Semula ia berusaha memposisikan diri agar berdiri di samping Ken, tetapi dengan sigap Ken berpindah ke samping kananku lagi, bahkan ia dengan begitu mesra merangkul pinggangku.


"Love you istriku." kata Ken dengan suara agak keras sehingga terdengar jelas oleh Bianca yang berada di sisi kiri ku.


Sikap Ken yang dadakan tadi sukses membuat Bianca kesal, ia turun dari pelaminan dengan raut wajah cemberut. Sementara Ken tertawa kecil, penuh kemenangan.


"Kamu iseng sekali." kataku.

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Kalau ada yang coba-coba mengganggu Kebahagiaan kita, maka aku akan menghadapinya." ungkap Ken.


__ADS_2