
Mama masih saja menjabarkan bagaimana harusnya nanti bersikap setelah menjadi seorang istri. Wejangan seorang ibu pada putrinya. Nasihat yang sejak dulu selalu menarik bagiku, tapi tidak dengan hari ini sebab semua sudah tidak sama. Semua sudah hancur berantakan, tanpa ada lagi harapan sedikitpun.
Hatiku sedang patah, sebab cinta yang baru tumbuh, tiba-tiba dipatahkan begitu saja, tanpa diberikan kesempatan untuk mekar memancarkan keindahannya. Padahal ia yang menyemai bibitnya.
"Ma," kataku
Air mata itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Aku menangis, bahkan semakin menjadi-jadi sebab hati ini sedang terluka. Aku memang kecewa.
Saat melihat wajah mama, entah mengapa luka itu semakin bertambah-tambah. Sebab aku begitu takut menghilangkan senyum dan kebahagian Mama, juga harapan bahwa sebentar lagi putrinya akan menikah. Padahal sebelumnya, berita pernikahan kami sukses membuat Mama bangga
"Mama maafin Rara, ya." pintaku, sambil mencium tangan mama. "Ma, Ridha ya sama Rara." kataku lagi, dengan suara terisak-isak.
"Ra, kamu kenapa nak? Mama Ridha kok dengan kamu, nak. Bagi Mama kamu adalah anak mama yang terbaik, tidak ada yang harus dimaafkan." ungkap Mama sambil membawaku dalam pelukan hingga tangis kami sama-sama pecah.
"Mama, kak Rara ... kok malah nangis? Mama, kak Rara kan mau menikah, harusnya Mama senang dong, mau punya tambahan anak juga." ungkap Dinda yang terpaksa keluar kamarnya sebab mendengar suara tangisanku dan mama.
"Iya Din, Mama senang kok." ungkap Mama sambil menghapus sisa air matanya. "Mama itu nangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Bahagia sekali. Saking bahagianya jadi gampang terharu. Apalagi Rara mancing nangis duluan. Duh, kalau begini jadi khawatir juga, nanti kalau pesta pernikahan, terus tiba-tiba Rara nangis, Mama ikutan nangis juga. Lalu make up kita bagaimana ya Ra? Duh, bisa hancur nantinya. Makanya jangan nangis ya Ra. Supaya enggak berantakan. Kan sayang, udah cantik-cantik didandani malah rusak." ungkap Mama.
"Ihhhhhh Mama, jangan gitu dong. Yang alami saja. Kalau nangis ya nangis saja. Namanya perasaan ya enggak mungkin diatur-atur. Yang penting kan Mama bahagia!" seru Dinda.
"Mama!" aku langsung meraung. Sesak sekali rasanya dada ini mendengar pembicaraan Mama dan Dinda.
Mampukah aku mengatakan semuanya? Membuat senyum Mama hilang, menggores kecewa di hati Mama? Ya Allah.
"Ra!" Mama dan Dinda tampak bingung melihat sikapku yang cukup aneh di mata mereka.
Ya wajar, biasanya aku paling antusias, tidak ada air mata sedikitpun menyambut pernikahan ini. Tapi hari ini semua berubah sehingga mereka curiga, pasti ada sesuatu. Makanya mereka masih menduga-duga.
"Ma, maafin Rara!" pintaku lagi. Lemas, sungguh lemas rasanya seluruh badan ini. Tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Tetapi kalau tidak disampaikan sekarang, aku takut Mama akan semakin terluka karena harapannya sudah terlalu besar.
__ADS_1
Ya Allah ... Arif. Kamu benar-benar jahat! Kenapa kamu memberiku harapan palsu. Kamu yang datang, tapi setelah aku bukakan pintu, kamu malah pergi begitu saja setelah semua orang berharap besar pada kamu. Di mana hati kamu, Rif?
Bagaimana ini? Undangan sebanyak seribu kembar yang sudah terlanjur disebar. Catering. Gedung yang sudah disewa.
Ya Allah ... kecewa sekali rasanya. Sakit.
Air mataku masih juga tumpah, tidak berani menatap wajah mama. Aku yang biasanya tabah dan terkenal cuek, tapi kali ini benar-benar down. Tidak tahu harus berbuat apa. Untuk bicara pun rasanya bibir Kelu.
"Ra, kenapa? Kalau ada yang mengganjal hatimu, bicaralah. Mama siap mendengarkan?" Mama mengusap punggungku.
Ya Allah Mama, bagaimana caranya menyampaikan agar engkau tidak terluka?
Bismillahirrahmanirrahim. "Ma," kataku. "Sebelumnya Rara minta maaf, mungkin apa yang akan Rara sampaikan akan membuat Mama sedih dan kecewa. Tapi Rara harus mengatakan semuanya meski ini pahit untuk kita." kataku.
"Kenapa Ra?" tanya mama lagi, sebab penasaran, hal apa yang membuatku begitu kacau seperti ini.
"Ma, Rara dan Arif tidak jadi nikah." kataku, lalu langsung menunduk.
Mama memang pernah gagal dalam pernikahan, tapi itu tidak boleh kalian jadikan patokan bahwa kaliab pun akan mundur dalam pernikahan.
Justru kalian berdua harus jadikan ini sebagai pembelajaran agar pernikahan kalian baik-baik saja hingga akhir hayat. Mengerti kan Ra? Jadi jangan bicara seperti itu lagi ya." pinta Mama.
"Ma, bukan Rara yang membatalkan pernikahannya, tapi Arif!" kataku
"Astagfirullah. Maksudnya bagaimana Ra?" Mama langsung histeris.
"Tadi Arif ngajak ketemuan di rumah kak Gita, ia mengatakan tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini lagi, Arif membatalkan semuanya ma." kataku, dengan air mata berlinang.
"Ya Allah ...." mama langsung lemas.
__ADS_1
"Ma," Dinda membantu menyenderkan punggung Mama ke kursi. "Ma ... Mama!" Dinda berteriak saat tubuh mama lemas, lalu pingsan. "Kak, gimana nih?" tanya Dinda.
Aku langsung membantu Dinda membaringkan Mama di atas sofa. Lalu membalut tubuh mama dengan minyak kayu putih. Sementara Dinda memijit-mijit kaki Mama.
"Ya Allah Mama ...." kata Dinda sambil menangis.
***
Mama sudah sadarkan diri, tetapi masih terlihat jelas bahwa tubuhnya sangat lemah. Sementara pandangan Mama kosong. Terlihat tidak bersemangat.
Sungguh, melihat kondisi Mama seperti ini rasanya aku benar-benar marah pada Arif. Bukan hanya aku, tapi Dinda juga. Ia sampai melontarkan kutukan-kutukan untuk calon kakak iparnya yang tidak jadi tersebut.
"Lihat saja nanti, kalau ketemu akan Dinda beri dia pelajaran!" ungkap Dinda. "Gara-gara dia Mama sakit seperti ini. Jahat sekali."
"Ra," Mama memanggilku.
"Ya ma," jawabku.
"Lalu bagaimana? Undangan, catering, gedung, gaun pengantin?" tanya mama.
"Maafin Rara ma," kataku.
"Enggak, ini bukan salah kak Rara, ini salah si Arif itu. Dia benar-benar jahat. Tega sekali melakukan ini semua pada keluarga kita. Apa salah kita. Setelah memberi harapan, lalu dilempar begitu saja. Persis seperti melempar kotoran ke wajah kita." ungkap Dinda
"Bagaimana cerita sebenarnya, Ra?" tanya mama.
"Rara juga tidak tahu ma. Tadi Arif ngajak ketemuan, lalu dia bilang tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini." kataku.
"Alasannya apa?" tanya mama lagi.
__ADS_1
"Sebab Rara terlalu baik untuknya " Kataku.
"Alasan klasik. Terus dia maunya apa? Punya istri penjahat, copet atau bandar narkoba? Aneh sekali. Cari calon istri itu ya yang terbaik. Masa nyarinya sampah!" Dinda terus saja mengomel, menyampaikan unek-unek di dalam hatinya.