GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
81. Pilih Agama


__ADS_3

Begitu mereka pulang, aku langsung ke kamar. Menghempaskan tubuh di kamar sebab merasa benar-benar kesal dibuat oleh Elsa.


"Ughhhh kesal!" seruku.


"Sabar." jawab Ken, sambil mengusap pelan punggungku.


"Anak itu, entah kenapa ia sekarang berubah jadi pembangkit emosi orang lain!"


"Memang apalagi ulahnya?"


"Bayangkan, ia mengatakan aku memakai pelet untuk mendapatkan mas. Dia pikir, karena wajahku tidak secantik wajah dia makanya aku pakai jalan yang terlarang? Enak saja, meskipun begini aku masih punya iman!"


"Lho lho lho, kan memang benar kamu melet aku!"


"Astagfirullah, kok mas ikut-ikutan nuduh aku? Memangnya aku melet mas pakai apa? Enggak ada kok. Aku nggak tahu hal-hal seperti itu, mas! Lagipula aku tahu, yang begituan dikarang agama. Aku nggak mau nantang Allah, mas. Bisa syirik nanti jadinya. Nauzubillah."


"Hehehe, Kamu itu melet aku pakai akhlak kamu. Pakai ketataan kamu sama Allah. Kebaikan kamu pada orang tua. Juga sifat-sifat baik kamu lainnya. Aku benar-benar suka sama kamu, Ra. Nggak peduli orang lain mengatakan kamu nggak cantik atau nggak seksi. Itu semua nggak penting. Yang terpenting menurutku kamu adalah teman hidup yang bisa menemani aku saat suka dan duka. Juga kamu adalah calon ibu yang baik untuk anak-anakku."


"MasyaAllah mas, beruntungnya aku dipertemukan dengan lelaki yang bagus paras dan hatinya. Lelaki yang memilih perempuan bukan hanya semata karena fisik ataupun kekayaan. Benar-benar mengutamakan agama. Sekarang aku benar-benar tenang, mas. Aku nggak akan mempermasalahkan fisik lagi, aku percaya pada mas akan mencintai aku selalu."


"Ya Ra, selagi kamu masih mencintai Allah, insyaAllah perasaanku nggak akan berubah."

__ADS_1


***


Apa yang aku perkirakan terjadi juga. Papa dan Tante Wira kembali merongrong kami, tepatnya Ken. Pagi ini, papa mengirim Ken pesan, meminta bantuan dana untuk membeli mobil baru sebab punya papa yang lama sudah terlalu tua dan dianggap tidak layak lagi dipakai. Sebelumnya, Tante Wira yang mengirim pesan padaku, mempertanyakan tentang pekerjaan untuk Elsa. Aku langsung menjawab bahwa tidak ada lowongan dan aku tak bisa membantu apapun agar Elsa bisa bekerja di kantor Ken.


Pesan-pesan balasan dari Tante Wira tidak lagi aku gubris. Termasuk keluhannya tentang mereka yang sedang mengalami masalah perekonomian sebab papa sudah lama berhenti kerja. Papa memang bekerja serabutan, jadi tidak mendapatkan pensiunan, sementara Tante Wira yang biasanya menjadi juru rias kini juga tidak lagi mendapatkan job sehingga keuangan mereka benar-benar kering.


[Tante benar-benar bingung Ra, kebutuhan hidup masih tinggi, apalagi Qiya masih sekolah, sedangkan Elsa sudah berhenti. Sementara Tante dan papa enggak kerja lagi. Tante kan nggak mungkin nyuruh papa kamu nyari kerjaan. Papa kamu sudah tua, Ra. Dia juga sebenarnya sakit-sakitan. Apa kamu nggak kasihan, Ra? Pekan ini saja harusnya papa kamu berobat, tapi nggak Tante bawa karena nggak ada obat.] pesan dari Tante Wira lagi setelah beberapa jam pesan sebelumnya aku abaikan.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Mendengar papa sakit, aku yang semula kesal jadi langsung luluh. Bagaimanapun tidak baiknya papa, tetapi sebagai anak, mendengar berita seperti itu langsung membuatku sedih.


"Pa, andai papa nggak nyakitin mama, Rara pasti akan membersamai Papa. Tapi papa tega sama mama!" kataku, dengan mata berkaca-kaca.


Tetapi, bukankah Ken sudah memberikan papa ruko tiga pintu?


[Maaf Tante, ruko tiga pintu yang dibelikan Ken sudah bagaimana? Apa tidak dimanfaatkan? Entah dikontrakkan atau untuk keperluan hidup sehari-hari agar papa bisa berobat tanpa harus bekerja?] balasku.


[Ya Allah Ra, kamu nggak tahu? Ruko itu sudah dijual papa kamu.] balasan dari Tante Wira, sehingga membuatku langsung naik darah. Tiga rukonya sudah dijual? Padahal baru dibelikan Ken, harganya juga nggak murah, satunya lima ratusan juta. Bisa ditotal kan betapa semuanya? Untukku, uang segitu lebih dari cukup sekedar makan dan berobat.


[Kapan dijualnya Tante? Kok nggak ngabarin? Terus uangnya kemana? Berarti ada kan untuk makan dan berobat papa?]


[Ya nggak ada Ra. Semua uangnya habis untuk bayar hutang. Itu saja masih kurang. Kamu nggak tahu, Ra, papa kamu itu dililit hutang. Sejak kami menikah, usaha papa kamu gagal terus sehingga menumpuk hutang. Tabungan Tante sampai harus terkuras. Makanya kami sempat jaga jarak sebab Tante stress Ra. Tapi papa kamu sudah janji akan melunasi semuanya. Dia bilang kamu yang akan membantu kami. Benar kan Ra?]

__ADS_1


Astagfirullah, aku hanya bisa membatin. Apalagi saat Tante Wira membeberkan sisa hutang papa yang tidak sedikit. Dengan apa hutang yang masih mencapai angka milliaran rupiah itu aku bayar, sementara hajiku saja dibawah sepuluh juta sebulan. Apalagi dalam waktu dekat aku sudah berencana akan berhenti kerja, fokus di rumah saja.


[Ra, kamu mau bantu kami, kan? Tante nggak sanggup lagi Ra kalau harus dikejar-kejar hutang papa kamu. Apalagi itu minjamin ke tempat yang berbunga. Tante takut dikejar-kejar debt kolektor. Bantu kami ya Ra.] pesan dari Tante Wira lagi.


Ya Allah ... Aku tidak tahu harus menjawab apa.


[Ra, kalau tidak ada bantuan dari kalian, Tante nggak punya cara lain selain berpisah dari papa kamu. Tante nggak sanggup Ra. Tante nggak kuat dikejar-kejar lintah darat. Lagipula Tante nggak kuat menuruti semua keinginan papa kamu. Tahu sendiri kan bagaimana kerasnya dia? Saking kerasnya sampai bercerai dari mama kamu. Iya kan Ra?] pesan dari Tante Wira lagi.


[Ya Allah Tante, kok begitu. Itu namanya Tante ngancam aku.] kataku.


[Ya siapa yang sanggup Ra, hidup sama orang kayak papa kamu. Nggak ada yang bisa papa andalkan darinya. Sudah tidak bisa menghasilkan uang, sakit-sakitan, banyak hutang lagi.]


[Astagfirullah, jangan begitu Tante. Kalau papa dengar nanti sedih.]


[Ra, kamu bayangkan saja, kalau mama kamu yang diposisi Tante, ia pasti juga nggak sanggup. Tante sudah banyak berkorban untuknya. Sekarang gantian dong, kamu kan sudah sukses, sebagai anak ayo berbakti sama papa kamu. Apa salahnya kamu bantu. Bagaimanapun juga itu orang tua kamu juga. Masa kamu berat sebelah, cuma peduli sama mama kamu. Harus adil Ra sama kedua orang tua. Kalau kamu nggak mau bakti sama Tante ya nggak apa-apa, tapi jangan cuek sama papa sendiri.]


Ya Allah, lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada, tidak tahu harus membalas apa. Sakit sekali mendapatkan jawaban dari Tante Wira yang terlalu pedas.


[Rara bukannya nggak mau bantu papa. Tapi kalau nominalnya segitu ya Rara nggak punya Tan. Tahu sendiri kan, Rara cuma pegawai biasa.] kataku.


[Kamu kan punya suami yang tajir. Minta dong sama dia. Nggak mungkin nggak dikasih. Waktu papa minta saja Ken mau ngasih kok.] balas Tante Wira. [Pokoknya semua tanggung jawab papa kamu Tante serahkan ke kamu, Ra. Terserahlah, mau kamu biayai atau nggak. Kalau kamu tetap cuek, terpaksa Tante pilih jalan berpisah. Jadi anak itu nggak boleh pelit, Ra. Rezeki nggak akan habis kalau membiayai orang tua. Pasti ada saja balasannya.]

__ADS_1


__ADS_2