
Hari ini aku memutuskan untuk tidak masuk kerja karena ingin menjaga mama meskipun mama bersikeras sudah baikan. Bahkan mama ingin berjualan hari ini. Tetapi aku melarang keras mama hingga kondisinya benar-benar pulih.
"Ma, bagaimana kalau mama berhenti jualan saja?" kataku, sambil memijit punggung mama.
"Kenapa, Ra?" Mama langsung menoleh ke arahku.
"Selama ini kan Mama sudah bekerja keras untuk Rara dan Dinda. Sekarang Rara sudah bekerja. Pendapatan Rara lebih dari cukup untuk membiayai hidup kita. Bahkan Rara juga sudah punya tabungan yang lebih dari cukup, jadi biar Rara menggantikan tugas mama sebagai tukang punggung di rumah ini. Rara ingin berbakti pada mama. Melihat mama bahagia, tidak berlelah-lelah lagi.
Rara sedih lho ma, ngelihat mama pulang larut, harus memesan bunga, bahkan merangkai hingga malam. Kemudian tidur dengan keadaan letih, dengan badan ditempel koyo, saking lelahnya." kataku, sambil memegang tangan mama. "Mama mau ya ngabulin permintaan Rara? Janji deh, Rara akan bekerja keras supaya hidup kita cukup. Ya, ma?"
"Ra, mama senang kok melakukannya. Hitung-hitung mengisi waktu luang mama. Dari pada bengong sendiri di rumah. Lagipula nanti kalau kamu sudah menikah, tidak mungkin mama dan Dinda bergantung perekonomian pada kamu. Apa kata suami kamu nantinya. Mama enggak mau jadi masalah dalam rumah tangga kamu."
"Enggak kok ma. Nggak akan ada masalah apapun. Rara akan cari suami yang bisa menerima keadaan kita. Suami yang juga menyayangi mama dan Dinda. Enggak hanya Rara saja."
"Lebih baik mencegah daripada sudah terjadi masalah duluan baru hendak menghindari, Ra. Sudahlah, enggak apa-apa kok. Mama bekerja karena mama suka."
"Tapi ma ...."
"Begini saja, Mama janji enggak akan porsir lagi. Bekerja sesuai kadarnya saja. Kalau sudah lelah ya sudah. Istirahat. Bagaimana?"
"Bener?"
"Iya Ra. Masa kamu enggak percaya sama mama."
"Habisnya Mama itu tipe pekerja keras. Sudah banting tulang kerja dari pagi sampai malam masih bilang belum ngerjain apa-apa."
Mama tertawa mendengar pernyataanku. Kata mama, secara alami karakter mama tersebut menurun padaku. Tidak mau berhenti sebelum pekerjaan selesai.
***
Sehari libur ternyata banyak hal yang aku lewatkan. Ketika baru sampai di parkiran, Aya yang sudah lebih dulu sampai langsung menghampiri.
"Ra, kenapa pesanku enggak dibaca?" tanya Aya.
__ADS_1
"Oh itu, aku kan lagi cuti." jawabku, sambik jalan masuk ke kantor.
"Kebiasaan deh, kalau lagi libur, nomornya enggak bisa dihubungi."
"Namanya juga liburan. Kalau HP masih nyala, bisa-bisa aku diteror dengan pekerjaan. Ada saja yang ditanyakan. Apa bedanya cuti dengan enggak cuti kalau begitu."
"Tapi ini bukan soal pekerjaan."
"Terus?"
"Arif!"
"Ya ampun, Ay, apa enggak ada bahasan lain selain Arif?"
"Ini bukan soal kamu, Ra. Tapi soal gosip yang kemarin beredar di kantor."
"Gosip? Kalau begitu aku enggak mau dengar. Apapun gosipnya. Memang kamu enggak takut amal yang enggak seberapa tahu-tahu menguap begitu saja, pindah ke Arif hanya gara-gara kita ngomongin dia."
"Lalu apa?"
"Akhirnya kami semua tahu kenapa Arif ninggalin kamu."
"Harus dibahas lagi ya? Karena aku enggak cantik, enggak kaya, enggak berasal dari keluarga terhormat yang punya ayah dan ibu harmonis. Iya, kan?"
"Bukan itu, Ra."
"Apa lagi? Duh Ay, beneran deh, aku udah lupain semua hal tentang Arif. Sungguh aku sudah merelakan dia. Tapi kalau dia bahas sesuatu hal yang enggak baik tentangku, meskipun itu adalah kekuranganku, tetap saja hatiku sedih, Ay. Aku belum bisa mengontrol agar tidak gampang berkecil hati mendengar penilaian Arif. Aku hanya manusia biasa, Ay."
"Iya Ra, aku paham. Tapi kamu harus tetap percaya diri sebab penilaian Arif itu tidak sepenuhnya benar. Siapa bilang kamu enggak cantik? Kamu cantik kok, Ra. Buktinya, banyak yang suka sama kamu sejak SMP hingga kuliah. Hanya karena kamu terlalu menurup diri, bahkan sengaja ngegalakin mereka makanya enggak ada lagi yang berani mendekat. Apalagi kamu itu gadis shalihah, Ra. Pintar dan sangat berprestasi. Kamu hanya terlalu sederhana dalam penampilan, makanya terlihat agak kalah dari Monika.
Coba kamu dandan sedikit saja, pasti klepek-klepek tuh si Arif. Kebanting deh Monika sama kamu.
Kalau masalah orang tua kamu, yang namanya kebahagiaan orang itu kan beda-beda Ra. Kamu kan juga enggak minta punya orang tua seperti itu. Setiap anak pasti ingin terlahir dari keluarga yang harmonis. Tapi kalau sudah takdir Allah mau bagaimana lagi." kata Aya menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, Arif berpikiran begitu."
"Itu caranya dia saja Ra supaya mengelak sebab ia sudah keburu diburu tanggung jawab."
"Maksudnya?"
"Ternyata Arif udah ngeDP Monika terlebih dahulu."
"Maksudnya?"
"Dih Ra, masa itu saja kamu enggak mengerti. Arif dan Monika menikah karena Monika sudah terlanjur hamil."
"Astagfirullah ... Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Jangan sembarang ngomong Aya!" aku geleng-geleng kepala, enggak menyangka kalau Arif seperti itu.
"Kemarin Arif buru-buru pulang karena Monika mau melahirkan. Bayangkan, baru menikah dua bulanan tapi anaknya sudah mau lahir. Mau pakai alasan apapun tetap saja jelas bahwa mereka MBA. Enggak ada kan bayi prematur atau alasan apapun yang normal lahir secepat itu. Paling cepat tujuh atau enam bulanan. Ahhhh entahlah. Yang jelas berarti sebelum menjalin ta'aruf dengan kamu, dia sudah ada hubungan dengan Monika, lalu putus atau bagaimana, tapi karena Monika hamil makanya dia harus tanggung jawab."
"Ribet banget." tiba-tiba aku ingat pertemuan dua hari lalu dengan Monika di restoran, ia memang terlihat lebih berisi, tapi karena biasa langsing, jadi tidak kelihatan kalau sedang hamil besar.
"Yap. Tapi intinya, aku ngasih tahu kamu bukan untuk ngajak bergosip, aku cuma mau menekankan pada kamu bahwa Arif membatalkan pernikahan dengan kamu bukan karena alasan kamu enggak lebih cantik atau lebih kaya dari Monika, tapi karena dia dikejar tanggung jawab. Jadi jangan pernah berkecil hati lagi, Ra. Mengerti!"
"Begitu ya."
"Iya. Malah feeling aku, cepat atau lambat Arif akan menyesal. Dia pasti akan ngejar kamu lagi, Ra!"
"Ihhhhhh, nggak mau!"
"Makanya, mulai sekarang bentengi diri, kalau bisa jangan lama-lama traumanya. Segera melangkah lagi, buka lembaran baru."
"Enggak semudah itu, Ay."
"Terus kamu mau jadi pelarian Arif lagi? Cowok kalau sudah sempat berbuat nakal, terus dia sudah dapat yang dia inginkan, pasti akan pergi cari yang baru. Aku sangat yakin sebenarnya Arif masih penasaran sama kamu, Ra. Buktinya ia masih saja suka ngegangguin kamu. Tapi karena ia harus bertanggung jawab makanya ia enggak bisa mendekati kamu lagi. Jadi alasan dia juga karena sebenarnya geram enggak bisa mendapatkan kamu soalnya dia sudah terlanjur terikat oleh kehamilan Monika."
"Entahlah. Aku pusing memikirkan itu semua. Aku enggak mau peduli lagi. Terserah mereka mau ngapain, asal jangan bawa-bawa aku lagi. Aku sudah tidak ingin terlibat apapun dengan yang namanya Arif!"
__ADS_1