GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
72. Mama Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Tring. Sebuah pesan masuk ke hpku. Diikuti oleh pesan-pesan berikutnya. Grup yang aku isi dengan ketiga sahabatku langsung ramai. Ada lima puluhan pesan yang sambung menyambung datang.


[Ra, lihat Facebook Ken.] kata Aya.


[Gila ya si Bianca, masih saja mendekati Ken.] tambah Dini.


[Ra, kamu jangan terpancing dulu ya.] pinta Risa.


Pesan berikutnya bernada serupa. Aku memilih untuk mengabaikan dulu sebab saat membuka kembali akun Ken, foto tersebut sudah hilang. Siapa yang menghapusnya? Ken atau Bianca?


[Sayang, kamu sedang apa?] tanya Ken. Rupanya ia batu online.


[Lagi ngelihat akun kamu. Kok fotonya sudah hilang?] tanyaku.


[Jangan salah paham dulu Ra, aku bisa jelaskan semuanya. Aku juga nggak tahu dengan foto itu. Entah kapan dia mengambilnya. Tapi kami nggak berdua seperti caption yang dibuatnya. Aku sudah memperingati Bianca, akunnya sudah aku blokir, bahkan sekarang dia sudah kumpulangkan lebih dulu ke Indonesia, dia nggak dilibatkan lagi dalam projek ini. Bahkan kalau kamu mau, aku bisa memecatnya.]


[Kenapa harus dipecat, enggak apa-apa kok.]


[Ra, kamu marah ya?]


[Enggak.]


[Terus kok jawabnya pendek-pendek gitu?]


[Because, i miss you.]


[MasyaAllah, miss you to, wife 😍😘 sampai pengen nangis.]


[Kok mau nangis?]


[Begini ya rasanya di kangenin istri. Terharu, Ra.]


Aku terkekeh membaca pesan balasan yang dikirimkan Ken. Karena keasyikan jadi lupa membalas pesan-pesan ketiga sahabatku hingga mereka heboh, sebab pesannya aku read, tapi tidak ada balasan sama sekali. Sehingga Aya terpaksa menelepon sebab ia mengkhawatirkan aku.


[Maaf sahabat-sahabat, aku keasyikan berbalas pesan dengan Ken, jadi lupa balasin pesan kalian. InsyaAllah aku percaya Ken, dia nggak akan macam-macam. Apalagi mertua juga sangat mendukungku. Terimakasih ya untuk perhatian yang kalian berikan.] di akhir pesan tidak lupa aku kirimkan emoticon love dan peluk.


[Iya deh, mentang-mentang sudah punya suami, kita dinomor duakan -_-] balasan dari Aya, sehingga membuatku senyum-senyum sendiri.


***


Pukul tujuh pagi, aku sedang mematut diri di kaca, bersiap menjemput Ken ke bandara. Pesawat yang ditumpanginya mendarat pukul sepuluh. Aku ingin berada di sana sebelum Ken datang. Kami memang sudah janjian, kalau pagi ini aku akan datang menjemput sesuai permintaan Ken. Katanya ia sudah rindu.


"Mbak, kita berangkat sekarang ya." aku mengajak mbak Tati yang menunggu di teras depan.

__ADS_1


"Iya mbak Rara. Saya juga sudah siap." dengan cepat mbak Tati masuk ke mobil setelah membukakan pintu untukku terlebih dahulu.


Pagi ini jalanan masih sepi sebab hmakhur pekan. Aku menikmati perjalanan sambil melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit dari balik mobil mewah yang sengaja dibelikan Ken untukku meskipun aku merasa tidak perlu sebab bisa pakai mobil Ken yang lainnya. Rasanya sayang saja kalau harus beli baru padahal di garasi ada empat mobil lainnya yang entah kapan akan dipakai.


Beberapa meter sebelum jalan tol, tiba-tiba Hp milikku berbunyu, ada pesan masuk dari Dinda yang mengatakan kalau mama masuk rumah sakit. Berita tersebut tentu saja membuat ku kaget.


"Mbak, Kita putar balik " Kataku.


"Kemana mbak Rara?" tanya mbak Tati.


Kata


"Ke rumah sakit di Selatan."


"Lho, siapa yang sakit mbak?"


"Mama saya. Ayo cepat putar mbak."


"Terus mas Ken bagaimana?"


"Nanti saya kabari Ken, minta ia pulang dengan taksi atau mobil kantor saja."


Dengan cekatan mbak Tati memutar mobil menuju rumah sakit yang sudah aku sebutkan tadi. Sepanjang perjalanan aku begitu deg-degan, khawatir terjadi sesuatu pada Mama mengingat kejadian sebelum aku menikah dengan Ken, saat mama masuk rumah sakit untuk pertama kalinya.


Mama termasuk orang yang kuat. Jarang sakit. Jadi saat tahu mama drop, aku langsung khawatir. Takut terjadi hal-hal serius pada mama. Apalagi mama belum lama diopname.


Di depan ruangan tempat Mama di rawat, aku mendapati Dinda sedang duduk termenung sendirian. Wajahnya begitu lesu, kedua matanya juga bengkak, seperti habis menangis lama. Mungkin ia sangat khawatir dengan kondisi Mama.


"Mama bagaimana, Din?" tanyaku.


"Kak Rara!" Dinda langsung memelukku. Entah mengapa aku merasa ada beban berat yang ditanggung oleh Dinda, entah apa, tapi ia tak mau membagi beban tersebut padaku.


"Mama kenapa?"


"Tadi pingsan."


"Lagi?"


"Iya, kak."


"Terus bagaimana kata dokter?"


"Jantung mama, kak. Tensinya juga tinggi."

__ADS_1


"Ya Allah ...." rasanya sangat merasa bersalah sebab setelah menikah aku tidak pernah membesuk mama. Padahal sudah dua pekan kami tidak bertemu. Aku hanya berkomunikasi dengan mama lewat pesan.


Aku dan Dinda masuk ke ruangan mama. Di tempat tidur, mama masih terbaring dengan selang infus di tangannya.


"Kamu sudah ngabarin papa dan Tante Wira?" tanyaku pada Dinda, sambil mengeluarkan Hp untuk mengabari mereka.


"Enggak usah, kak." Dinda menahan tanganku.


"Lho, kenapa?"


"Ya nggak apa-apa. Takut ngerepotin, lagian mama juga nggak bakalan suka kalau banyak yang tahu mama di opname."


"Setidaknya minta doa, Din."


"Kak!" Dinda mengambil Hp milikku dari tangan, lalu ia memasukkan ke dalam tasku kembali. Sikap Dinda tersebut membuatku bertanya-tanya, ada apa dengannya? Kenapa ia kelihatan tidak nyaman saat kukatakan mau menghubungi papa dan Tante Lisa.


"Din, kenapa sih?"


"Enggak apa-apa, kak. Sudahlah. Kita fokus sama mama saja dulu. Ya, kak."


"Iya." aku berjalan mendekati tempat tidur mama, lalu menggenggam erat tangan mama. "Ma, maafin Rara ya, baru bisa datang sekarang. Rara tidak perhatian sama mama." aku berbisik di telinganya mama.


Entah sudah berapa kali Hp milikku bergetar. Saat kuperintahkan, ternyata panggilan tidak terjawab dari Ken, ada pesan-pesannya juga.


"Astagfirullah, bagaimana aku bisa lupa." aku menepuk pelan keningku.


"Kenapa kak?" tanya Dinda, sambil terus memperhatikan mama.


"Tadi kakak kau jemput Ken, setelah dapat pesan dari kamu, kakak langsung ke sini, lupa ngabarin Ken. Dia pasti nungguin di bandara."


"Astagfirullah, terus bagaimana?"


"Ini mau ngabarin dulu."


"Ya sudah, buruan kabarin mas Ken, kak."


Ken sangat pengertian, ia memahami keteledoran yang aku lakukan hari ini, meskipun sudah menunggu hampir dua jam, tapi Ken tak marah sedikitpun. Bahkan Ken sudah mengatakan akan langsung ke rumah sakit setelah mengantarkan barang-barangnya ke rumah


[Maaf banget ya Ken, gara-gara aku kamu harus nunggu lama. Mana sudah ditinggalkan mobil kantor.] kataku padanya.


[Enggak apa-apa, Ra. Kamu tenang jaga mama di sana ya. Aku segera ke sana.] balas Ken.


[Jadinya naik apa?]

__ADS_1


[Taksi. Sampai ketemu di rumah sakit.]


Setelah mengabari Ken, kini giliran mengabari mbak Tati yang ternyata menunggu di parkiran. Lagi-lagi aku teledor, harusnya tadi langsung menyuruh mbak Tati pulang saja, kasihan juga kalau harus menunggu sampai tiga jam sendirian di parkiran. Semua karena aku sudah terlanjur panik lebih dulu sebab khawatir dengan kondisi Mama.


__ADS_2