GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
61. Kamu Adalah Rezeki Untukku


__ADS_3

"Kenapa masih diam mematung?" tanya Ken, ketika melihatku masih diam tak beranjak dari samping mobil, hanya melihat rumah yang lebih pantas disebut istana sebab sangat luas sekali. "Ra?" Ken menyentuh pelan pundakku.


"Ken, aku takut." kataku.


"Takut apa? Rumah ini insya Allah tidak ada hantunya. Lagian kamu enggak percaya hantu-hantuan, kan? Adanya cuma jin. Tapi, kalau kita rajin salat, mengaji serta menjaga ibadah lainnya, insyaAllah segala hal buruk tidak akan datang, terkecuali Allah menetapkan lain. Rumah ini juga masih baru, Ra. Dibangunnya sekitar tiga bulan lalu. Saat awal aku merasa klik dengan kamu. Aku sangat yakin, kamu jodohku. Makanya aku mulai mempersiapkan pembangunan calon rumah masa depan kita.


Atau jangan-jangan kamu tidak suka dengan desainnya? Ya maaf Ra, waktu itu aku dan kamu belum punya komitmen apapun. Enggak mungkin kan tiba-tiba aku ajak membangun rumah bersama. Bisa-bisa kamu mengira aku stress meskipun sebenarnya aku sudah sangat percaya diri bisa mendapatkan hati kamu."


"Ken," aku terkekeh mendengar penuturannya yang apa adanya, tapi terdengar lucu di telingaku. "Ini terlalu besar. Kamu enggak akan paham, Ken. Seseorang yang biasanya hidup sederhana, segala-galanya serba apa adanya, tiba-tiba disajikan segala kemewahan, pasti kaget dan jujur aku merasa enggak pantas, Ken."


"Ra, dengarkan aku baik-baik. Kamu sekarang adalah istriku. Pasanganku. Belahan jiwaku. Apa yang aku punya, itu juga milik kamu. Allah beri aku rezeki seperti ini, bisa jadi ini semua bukan rezeki aku sendiri. Ada rezeki yang kamu bawa juga sehingga aku bisa memiliki ini semua.


Jadi simpan perasaan minder itu, Ra. Kamu pantas, insyaAllah. Mungkin, tanpa kamu sadari, ada perbuatan baik yang kamu lakukan sehingga Allah memberikan kamu hadiah semua ini melalui perantara pernikahan kita."


"Benarkah, Ken?"


"Allah yang tahu, Ra. Kesabaran kamu selama ini luar biasa menurutku. Makanya kamu pantas mendapatkan ini semua. Sekarang, buang semua rasa tidak pantas yang muncul dalam diri kamu. Nikmati semuanya, Ra. Kamu adalah nyonya di rumah ini. Kamu yang akan mengatur semuanya, berkaitan dengan rumah kita. Aku percayakan semuanya pada kamu. Mau kan Ra, membantu aku?"


"InsyaAllah Ken."


"Alhamdulillah." Ken menggenggam erat tanganku. Ia mengajakku masuk ke dalam rumah besar itu.


Bismillahirrahmanirrahim. Kami berdua melangkah memasuki rumah dengan gaya mediterania tersebut. Desain seperti rumah-rumah kebanyakan di Spanyol, Italia dan negara Eropa lainnya. Rumah semakin mewah dengan cat perpaduan warna putih dan gold.


Beberapa perabot sudah mengisi bagian rumah, meski masih banyak bagian yang kosong. Ken mengatakan kalau aku boleh memilih isi rumah sesuka hatiku. Akhir pekan nanti ia akan mengajak ke toko perabotan langganan keluarganya.


"Ken, rumah sebesar ini apa hanya kita berdua saja yang tinggal?" tanyaku.


"Sebentar lagi akan ada khadimat yang datang. Mereka orang-orang kepercayaan ibuku. Akan membantu seluruh pekerjaan di ruang ini. Kamu tinggal mengatur pekerjaan mereka. Atau kalau mau mempekerjakan orang lain juga tidak apa-apa." jawab Ken.


Kami berdua berjalan menuju kamar tidur. Nuansanya masih putih gold. Tempat tidur berwarna gold, sedangkan bed cover berwarna putih. Cantik sekali.


"Bagaimana menurut kamu?" tanya Ken padaku.


"Bagus. Meskipun aku tidak pernah membayangkan dapat rezeki sebanyak ini." kataku.


"Kalau begitu harus banyak bersyukur, Ra."

__ADS_1


"Iya, Alhamdulillah."


"Kamu juga harus mencintai aku banyak-banyak."


"Kenapa?"


"Ya sebagai bentuk syukur kamu."


"Hm, pintar ya mengada-ada!" aku memencet hidung Ken. Perbuatan spontan yang membuat Ken menatapku dengan tatapan penuh sihir sehingga aku tak bisa berbuat apapun selain berubah kaku. "Maaf!" pekikku.


"Hahaha, ya nggak apa-apa, istri nguyel-nguyel suaminya." Ken membalas memencet hidungku.


Sebelum terjadi peristiwa romantis berikutnya, suara bel membuat kami harus kembali berjarak.


"Sepertinya itu orang-orang yang dikirim ibu." kata Ken, ia mengajakku kembaki turun ke lantai satu.


Tiga orang khadimat yang bekerja dalam rumah, dua orang satpam, satu orang tukang kebun. Mereka akan ikut tinggal di rumah ini untuk membantuku mengurus rumah.


"Ra, bi Ani ini sudah ikut ibu sejak aku masih bayi. Jadi bibi sudah hafal betul apa yang aku suka dan tidak suka. Nanti kalau ada apa-apa, kamu bisa tanya sama bibi." kata Ken padaku.


Aku mengulurkan tangan pada bi Ani, ketika ia menyambut uluran tanganku, langsung saja tangan itu kucium. Tetapi ia dengan refleks menariknya, sehingga membuat Ken tertawa terbahak-bahak.


"Tapi kan bibi lebih tua dari saya." kataku, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Ini Lilis dan Tati. Mereka juga sudah lima tahunan kerja sama ibu, jadi sudah paham juga." kata Ken, memperkenalkan dua khadimat lainnya.


Usai perkenalan singkat, ketiga khadimat tersebut langsung berlalu menuju belakang. Kata Ken mereka sudah paham apa yang harus dikerjakan. Aku hanya tinggal menambahkan beberapa tugas terkait dengan diriku sendiri.


"Kok rasanya aneh ya." ungkapku.


"Aneh apanya, Ra?" tanya Ken, saat kami sudah berada dalam kamar.


"Kalau sudah ada khadimat, tiga orang pula, lalu aku ngerjain apa? Masa cuma makan tidur."


"Ya begitulah tugas nyonya rumah."


"Enak sekali jadi orang kaya. Padahal dulu kalau di rumah, saat kami masih kecil-kecil, mama yang mengerjakan semuanya. Setelah kami besar, baru membantu pekerjaan mama, itupun enggak semuanya. Masih banyak yang mama handle sendiri. Padahal selain mengurus rumah dan dua anak, mama juga harus mencari uang."

__ADS_1


"Rezeki orang beda-beda, Ra."


"Iya."


"Ra, ngomong-ngomong soal pekerjaan, bagaimana kalau aku minta kamu untuk resaind?"


"Hah, maksudnya?"


"Ya, kamu kan bisa jadi ibu rumah tangga."


"Ken, aku harus ngerjain apa? Ada bi Ani, mbak Lilis dan mbak Tati. Kalau nggak punya kegiatan di rumah, pasti boring sekali."


"Kan bisa baca buku, belajar, atau mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kita punya bayi."


"Bayi?"


"Iya, bayi. Kita nggak akan nunda punya momongan, Ra. Sesegera mungkin!"


"Ya, aku tahu. Tapi ...."


"Enggak tapi-tapi, Ra."


"Ken?"


"Makanya, kita persiapkan semuanya dari sekarang agar saat Allah beri kita kepercayaan tersebut, kita enggak kaget, Ra. Kita bisa jadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita nantinya."


"Iya. Tapi beri aku waktu, Ken."


"Untuk apa?"


"Aku akan tetap belajar, tapi resaindnya jangan langsung sekarang sebab pasti kagok banget kalau harus berhenti tiba-tiba, padahal aku belum mempersiapkan mental. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku kalau setelah menikah akan tinggal di rumah saja "


"Baiklah. Satu bulan ini kamu boleh masuk kerja."


"Enggak secepat itu juga, Ken. Kenapa sih kamu segala-galanya selalu terburu-buru."


"Siapa bilang terburu-buru? Aku sudah merancangnya sejak lama." tiba-tiba Ken bangkit, ia menuju meja kerjanya yang berada di pojok kamar. Lalu mengambil sebuah buku agenda dan memberikannya padaku. Saat buku itu kubuka, mataku langsung melongo, membaca beberapa halaman di awalnya.

__ADS_1


Ken ... apakah ini semua benar-benar rencana kamu?


__ADS_2