
Apa ini? Aku sampai terbelalak melihat foto yang diunggah Arif. Pastinya dengan menandai akunku dan akun kantor sehingga semua teman-teman tahu. Ini rupanya maksud selamat yang mereka sampaikan. Juga sikap Ken yang berubah jutek.
Arif meng-upload fotoku yang tengah berdiri di depan kamar tempat mbak Yuni dirawat. Kalau saja dalam foto itu hanya aku sendiri yang berdiri, pasti tidak akan seheboh ini, tetapi foto itu sedang berdiri bersama Rangga.
Iya, Rangga. Pose kami pun sama-sama saling tersenyum, berdiri berhadap-hadapan. Aku mencoba mengingat bahwa itu terjadi saat kemarin kami ternyata sama-sama mengenal mbak Yuni.
Sebenarnya tidak ada yang spesial dari foto ini, tapi jadi berlebih dan disalah artikan karena caption yang dibuat Arif. "Selamat Ra, sudah menemukan calon imam yang kamu dambakan. Semoga rencana pernikahannya lancar." tidak lupa ia membubuhi emoticon senyum dan love. Menyebalkan sekali bukan.
Kalau saja menyentuhnya tidak haram, mungkin sudah aku ajak ia bergulat, saking kesalnya dengan ulahnya. Ia seperti berniat sekali mencari gara-gara denganku. Anak ini harus dapat pelajaran agar ia kapok.
[Sedang apa? Lagi mandangin foto calon suami ya?] pesan dari Ken.
Hah? Apalagi maksudnya? Aku jadi gemas juga melihat Ken, kenapa dia jadi menyebalkan seperti Arif? Calon suami bagaimana maksudnya? Sudah jelas-jelas aku jomblo!
[Kok nggak dijawab? Pantas saja saat aku lamar tapi kamu nggak mau jawab. Ternyata kamu sudah punya calon. Kamu mau belajar jadi playgirl, Ra? Ingat ya, aku nggak main-main Ra. Cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku lamar!] pesan dari Ken lagi.
Aku tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Padahal hari ini kan aku yang harusnya minta penjelasan darinya tentang Monika, kenapa jadi aku yang dianggap bersalah, bahkan dicap belajar jadi playgirl?
Kepala ini rasanya berdenyut-denyut. Untuk menghindari suasana hati jadi buruk dengan tuduhan-tuduhan yang diberikan Ken, kuputuskan mematikan Hp, lalu fokus pada pekerjaanku.
Lima menit kemudian, Ken keluar dari ruangannya. Entah apa yang merasukinya hingga Ken mondar-mandir di hadapanku. Ia seperti tidak ada kerjaan, padahal harusnya memimpin rapat dengan para general manajer.
***
Jam makan siang. Usai salat di mushalla masjid, tiba-tiba kak Gita dan ketiga sahabatku langsung menarik ke luar.
"Ada apa ini?" tanyaku. "Kalian mau menculikku?"
"Pstttt, udah. Jangan berisik. Ikut saja!" kata kak Gita.
Dengan mobil kak Gita, kami berlima menuju salah satu cafe yang sering kami kunjungi sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah lama ya kita enggak ke sini." kataku, sambil menulis menu favorit, gado-gado dan teh tawar dalam buku menu.
"Iya." jawab Aya. Ia ikut memesan menu yang sama denganku. Setelah selesai, pelayan cafe langsung membawa catatan menu kami. "Ra, sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan."
"Apa?" aku memandang satu-persatu wajah kak Gita, Aya, Dini dan Risa.
"Kamu dan Arif sudah baikan?" kak Gita yang dipersilakan untuk mengintrogasiku.
"Baikan? Ya enggaklah kak." jawabku. "Memaafkan sih bisa-bisa saja. Tapi kalau baikan seperti sebelumnya ya enggak mungkin. Apalagi sikapnya belakangan ini sangat menyebalkan. Aku benar-benar dibuat pusing olehnya. Benar-benar nggak nyangka kalau ia bebal seperti itu."
"Aku juga enggak nyangka, Ra. Bahkan aku sampai berkali-kali memarahinya, setelah tahu apa yang ia lakukan padamu dari Aya, Dini dan Risa." ungkap kak Gita.
"Tapi kenapa kalian akrab sekali di media sosial?" Aya tidak bisa menahan diri untuk enggak bertanya.
"Kapan?" aku geleng-geleng kepala. "Oh, pasti ini karena foto yang diunggahnya tadi pagi, kan?"
"Iya!" jawab Kak Gita, Aya, Dini dan Risa serentak."
"Lalu laki-laki yang difoto itu?" tanya Aya lagi.
"Itu namanya Rangga. Dia adik dari salah satu narasumberku. Kakaknya dirawat di rumah sakit, kemarin aku membesuknya. Saat kami berbincang-bincang, rupanya Arif yang juga ada di rumah sakit mengambil foto kami secara diam-diam." aku menjelaskan secara singkat apa yang sebenarnya terjadi.
"Wah, benar-benar cari gara-gara tuh si Arif. Apa kita beri dia pelajaran saja, kak?" tanya Aya, pada kak Gita. "Aku punya ide supaya dia kapok dan tidak mengganggu privasi Rara lagi."
"Ide apa Ay?" tanya kak Gita, Dini dan Risa.
"Astagfirullah ...." aku langsung menepuk pelan keningku, teringat sesuatu hal.
"Kenapa Ra?" tanya kak Gita.
"Aku janji ketemu saat makan siang dengan Ken." tiba-tiba bayangan wajah Ken yang sedang kesal muncul di benakku. Ya Tuhan, ia pasti sekarang sedang menunggu di parkiran. Mana aku sedang tidak membawa Hp. Bagaimana cara mengabarinya?
__ADS_1
"Ken? Maksudnya pak Ken?" kata kak Gita. Kini empat pasang mata itu menatapku, menanti penjelasan.
"Iya, maksudku pak Ken." jawabku, pelan.
"Ra, sepertinya kamu juga harus jelaskan pada kami ada apa sebenarnya antara kamu dan pak Ken?" Aya melihatku dengan tatapan mengintimidasi.
"Itu ... enggak apa-apa." aku berusaha tersenyum, tetapi sepertinya mereka memang akan melepaskan jika aku menceritakan semuanya.
"Ra!" panggil Aya lagi.
"Oke. Aku sebenarnya nggak tahu harus cerita dari mana sebab aku sendiri juga bingung." kataku.
"Ya sudah, katakan apa saja yang harus kamu katakan." ungkap Aya.
"Kemarin, Ken, maksudku pak Ken menyatakan isi hatinya. Ia ingin menikahiku." kataku, pelan.
"Apa?" mereka berempat berteriak bersamaan. "Terus-terus bagaimana Ra?" tanya Aya, tidak sabaran.
"Sebenarnya ia ingin menyampaikan sendiri pada mama dan papa, tapi beberapa hari lalu kondisi Mama kurang baik. Mama jatuh pingsan. Makanya Ken nggak jadi ngomong." kataku.
"Ya ampun Ra, berita penting seperti ini kenapa disimpan sendiri? Kamu udah nggak percaya sama kakak?" kak Gita menatapku.
"Bukan begitu kak. Sebenarnya aku masih ragu, apakah semua perkataan Ken itu benar? Mengingat, Arif yang bukan siapa-siapa saja mencampakkanku, lalu bagaimana bisa orang seperti Ken malah melamar? Ini bagai mimpi, kan? Kayak cerita di negeri dongeng. Makanya aku sendiri ragu dan takut, kak. Aku mungkin nggak akan sanggup patah hati untuk kedua kalinya." kataku, dengan mata berkaca-kaca.
Semua yang terjadi belakangan ini memang seperti di sinetron-sinetron. Saat aku dicampakkan oleh Arif, ternyata malah ditemukan oleh Ken yang menurutku jauh lebih baik segala-galanya dari pada Arif.
Secara nalar, aku sendiri masih sulit mempercayai semuanya. Lalu bagaimana mungkin aku bisa berbagi cerita ini pada orang lain?
"Rara!" Kak Gita dan ketiga sahabatku langsung memeluk erat. "Batal menikah pasti berat sekali ya Ra." ungkap kak Gita.
"Sejujurnya aku masih trauma, kak. Berbicara tentang pernikahan saja rasanya masih malas. Makanya aku masih merasa semua seperti mimpi. Apa ini benar? Bagaimana kalau ternyata semuanya hanya bohong, atau gagal lagi? Sakit kak." kini air mata itu mulai tumpah.
__ADS_1
"Ra, kamu harus bisa melangkah lagi. Kamu orang baik, berhak mendapatkan yang terbaik juga!" Risa menggenggam erat tanganku.