
Langkahku terhenti, persis seperti patung saat di hadapanku ada Ken, sementara Aya yang berjalan beriringan denganku tertawa usil. Yang membuatku sebal adalah Ken tersenyum padaku, meski hanya senyum kecil, tapi membuatku meleleh. Setelah itu ia berlalu begitu saja. Usil, kan?
Ya Tuhan, ampuni aku! pintaku berulang kali.
"Makanya Ra, buruan nikah. Supaya enggak timbul fitnah, hati juga jadinya aman." ungkap Aya.
"Iya ... iya. Tapi kamu jangan ngeledek terus." kataku.
Aku dan Aya berpisah di koridor, kami kembali ke ruangan masing-masing. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Besok adalah jadwalku untuk mempresentasikan kembali rubrik yang sudah tiga bulan ini jadi tanggung jawabku.
Sebenarnya tidak ada yang harus dikhawatirkan sebab semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku perkirakan. Bahkan grafiknya naik hingga lima puluh persen, dengan target hanya sepuluh persen.
Sedang sibuk mengerjakan laporan, tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Panggilan dari nomor mama. Aku segera mengangkatnya. Ternyata yang menelepon bukan mama, tapi mbak Tari, salah seorang yang sering membantu Mama di toko bunga.
[Kenapa mbak Tari?] tanyaku.
[Mbak Rara, gawat!"] kata mbak Tari dengan gugup.
[Gawat kenapa?]
[Mamanya mbak Rara,]
[Mama kenapa, mbak?]
[Pingsan.]
Telepon segera kumatikan, lalu menyambar tas dan kunci motor, setelah itu aku beranjak hendak keluar.
"Ra, kamu mau kemana?" tanya kak Gita yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik ku.
"Mama sakit, mbak. Aku izin ya!" kataku, tanpa menunggu jawaban, aku langsung berlari keluar dari kantor.
Sialnya, di parkiran aku bertemu Arif yang baru selesai pemotretan. Ia menghalangi langkahku, sehingga membuatku marah.
"Aku nggak mau berdebat sekarang, Rif. Minggir!" kataku, dengan suara keras dan tegas.
Mungkin karena kaget sebab aku tak biasa berteriak, akhirnya Arif minggir dengan sendirinya hingga aku bisa memacu motor sekencang mungkin menuju toko mama.
__ADS_1
Bayangkan, saat kamu sedang tidak di rumah, tiba-tiba ada yang mengabari bahwa ibumu sakit, padahal sebelumnya dokter sudah memperingatkan bahwa kondisi ibumu tidak sedang baik-baik saja. Ada komplikasi di jantungnya, bisa dikatakan, kapanpun penyakitnya bisa kambuh dan mengancam nyawanya.
Entah sudah berapa kendaraan yang aku salip, aku tak memperdulikan siapapun lagi, bahkan bisa jadi dari tadi motorku terkena tilang elektronik. Aku tak peduli. Yang ada di pikiranku sekarang hanya bagaimana caranya supaya bisa cepat sampai di toko mama. Memastikan bahwa mama baik-baik saja.
Sampai di depan toko yang sudah tertutup, pemilik toko sebelah segera menghampiri. Mengatakan bahwa mama sudah di bawa ke rumah sakit oleh mbak Tari sebab kondisi Mama mengkhawatirkan.
Aku bersyukur mbak Tari bergerak cepat. Tanpa menunggu kepulanganku terlebih dahulu sebab bisa saja mama dalam kondisi darurat.
Sampai di rumah sakit yang dituju, emosiku terpancing sebab mama belum juga ditangani hanya gara-gara mbak Tari belum bisa membayar uang muka untuk perawatan.
Salah satu syarat di beberapa rumah sakit yang ada di ibu kota adalah pasien baru akan ditangani bila keluarga pasien mampu memberikan uang DP untuk biaya rawat inap.
"Saya anaknya, akan saya bayar semuanya sampai lunas!" kataku dengan suara tinggi sebab tak tega dengan kondisi Mama.
Dua orang perawat dengan lincah mendorong tempat tidur mama menuju IGD. Lalu dokter jaga segera memeriksa mama.
"Kondisinya kritis, sebaiknya sekarang dipersiapkan untuk operasi pemasangan ring." kata dokter.
Aku tak punya pilihan lain selain mengikuti semua saran dokter. Beberapa surat pernyataan sebagai keluarga pasien aku tanda tangani, juga mengurus pembayaran di awal. Setelah semua lunas, mama langsung dibawa ke ruang operasi.
[Ra, bagaimana keadaan Tante, kamu dimana?] pesan dari Ken.
[Rumah sakit ....] setelah membalas pesan Ken, aku kembali berdiri di depan pintu kamar operasi, menanti Mama keluar.
Lima belas menit kemudian, Ken datang. Ingin sekali aku menangis di pangkuannya, tetapi aku sadar bahwa kami belum halal.
"Aku takut Mama kenapa-napa. Dokter bilang jantung mama sangat lemah." kataku, sambil terus menatap dari pintu kamar operasi.
"Berdoa Ra, semoga Tante tidak apa-apa." kata Ken.
"Padahal, baru semalam mama tampak bahagia sekali saat papa dan Tante Yuni datang ke rumah. Tapi kenapa akhirnya jadi begini?" bulir bening itu tak bisa lagi aku tahankan.
"Ini belum akhirnya, Ra. Kamu harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja!" kata Ken dengan antusias.
Kami berdua menanti Mama menjalani operasi hingga tiga jam. Entah berapa kali Ken menawarkan makanan dan minuman, tetapi aku menolaknya. Meskipun perut ini sudah menunjukkan reaksi lapar, tapi mulut menolak untuk mengunyah apapun.
"Ra, sudah siang. Kamu juga harus makan. Jangan sampai nanti sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga Tante?" Ken membujuk agar aku mau makan.
__ADS_1
"Ken, aku benar-benar takut." kataku, dengan suara serak sebab selama tiga jam menangis hingga air mata ini sudah tidak bisa lagi keluar.
"Pasrah sama Allah, Ra!"
"Ma ...."
Beberapa detik setelah itu, dokter keluar dari ruang operasi. Aku dan Ken langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan mama saya, dok?" tanyaku.
"Alhamdulillah operasinya lancar. Kita tinggal menunggu sampai pasien siuman. Setelah itu akan diadakan pemeriksaan lanjutan." kata dokter.
"Alhamdulillah." kataku dan Ken serentak.
"Saya ke ruangan dulu. Silakan tunggu saja, sebentar lagi pasien akan dibawa ke ruangan." kata dokter anestesi dan dokter spesialis jantung yang menangani mama. Lalu mereka pergi meninggalkan kami
"Tuh, kan. Tante sudah tidak apa-apa. Tinggal menjalani masa pemulihan saja. Sekarang kamu masih enggak mau makan?" tanya Ken, sambil memperlihatkan bungkusan makanan yang dibelinya ke hadapanku. "Aku nggak mau, setelah Tante sehat, malah kamu yang masuk rumah sakit karena magh atau sakit lainnya."
"Iya, iya. Nanti begitu mama masuk ke rumahnya, aku mau makan." kataku.
"Nah gitu dong."
"Ken, terimakasih ya."
"Untuk apa, Ra?"
"Karena kamu sudah memberiku semangat saat benar-benar down dengan kondisi Mama tadi."
"Tidak apa-apa, Ra. Sudah jadi tugas calon menantu untuk memastikan bahwa calon istri dan calon mertuanya baik-baik saja sebab sebentar lagi kalian jadi anggota keluargaku. Aku akan berusaha menjaga kalian sebaik mungkin."
"Dih, kamu PD sekali."
"Lho, ya harus. Kan kamu sudah mengaku kalau kamu juga mencintai aku. Ada Aya lho sebagai saksi hidupnya. Kamu juga mau menerima keluargaku akhir pekan ini. Jadi jangan mengelak lagi, Ra." pinta Ken.
"Iya ... iya!" aku tersenyum malu mendengar ledekan Ken.
Ahhhh, sekarang kenapa aku yang rasanya tidak sabar menanti akhir pekan datang. Ingin segera menerima lamaran Ken, lalu menjadi kekasih halal Ken. Semoga tidak ada halangan apapun.
__ADS_1