
"Ra, kok diam?" panggilan Ken membuatku tersadar satu hal, aku tak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ken dan Arif, sama-sama pernah punya kaitan dengan Monika. Jika aku membiarkan hati ini terus menikmati getaran-getaran yang melenakan itu, tetapi ternyata hadirnya cuma sesaat, apakah itu tak akan menyakitkan lagi nantinya?
Aku pernah mengalami trauma karena sikap papa yang kurang bertanggung jawab. Lalu Arif mengulanginya. Menorehkan luka yang tak kalah besarnya. Sekarang, dengan membiarkan getaran-getaran yang ditimbulkan Ken menjadi cinta, apa nantinya tidak akan jadi penyakit untuk diriku sendiri. Iya kalau tidak ada efek untuk mama dan Dinda?
Enggak, aku nggak mau. Aku nggak siap.
"Ken, maaf, aku harus pulang." kataku.
"Lho, kenapa Ra?" tanya Ken lagi, ia mencoba menghadang langkahku.
"Aku tidak punya kepentingan untuk datang ke sini."
"Ada Ra."
"Apa?"
"Hm, kamu bisa bersabar sebentar saja, tidak?"
"Kenapa?"
"Nanti kamu akan tahu."
"Enggak. Aku nggak mau. Aku mau pulang sekarang!" kataku dengan tegas.
Rara, kamu berkuasa penuh atas diri kamu sendiri. Kalau kamu mempersilakan cinta itu tumbuh, kamu sendiri yang akan merasakan akibatnya.
Ken, apakah ia pantas untuk kamu? Saat diri Rara, kamu enggak cantik. Bukan orang kaya. Orang tua kamu juga punya jejak yang kurang baik. Lalu apa yang kamu banggakan?
Perang batin itu mulai terjadi, sehingga membuatku mundur perlahan. Ya, aku memilih mundur. Segera kubangun tembok setinggi mungkin agar tidak terasa lagi getaran itu. Tidak ada bibit cinta yang boleh tumbuh.
Aku ingin bahagia. Tidak mau merasakan sakit untuk kesekian kalinya. Bersabarlah diri, entah itu kapan, jika Allah berkehendak, cinta yang benar-benar tulus pasti akan datang. Cepat atau lambat. Membasuh semua luka yang pernah ada.
"Baiklah. Kalau kamu tidak mau mampir. Kalau begitu aku antar kamu pulang ya." pinta Ken.
"Nggak, aku ...." belum sempat aku menyelesaikan kata-kata, Ken sudah memotongnya.
"Aku nggak sedang minta izin, Ra."
"Berarti maksa?"
"Iya."
Ken segera masuk ke dalam mobilnya. Lalu membukakan pintu untukku. Kami tetap duduk depan belakang. Setelah itu Ken meluncurkan mobilnya.
Astagfirullah ... astagfirullah ... astagfirullah. Sepanjang jalan, lisanku tak berhenti berzikir. Sungguh aku benar-benar takut. Kenapa sekarang merasa sangat rapuh sekali. Dari dulu, untuk urusan hati, aku sangat hati-hati, tidak ada satu lelakipun bisa singgah di hati ini hingga Arif datang, bisa singgah di hatiku sebab aku menguncinya rapat-rapat.
"Di sini kan Ra, rumahnya?" tanya Arif.
__ADS_1
"Iya." aku bergegas turun setelah mobil berhenti.
"Ra!" panggil Ken.
"Apa?"
"Kamu enggak mau nawarin aku mampir?"
"Untuk apa?"
"Ya, barangkali ada yang mau kamu kenalin. Seperti aku tadi mau mengenalkan orang tuaku."
"Buat apa? Lagian di rumah nggak ada siapa-siapa ...."
"Rara, ada tamu?" suara Mama dari balik pintu.
Mama? Jam segini di rumah? Wajahku berubah memerah sebab barusan bilang pada Ken tidak ada siapa-siapa di rumah.
"Itu ada orang." Ken spontan turun.
"Ra," Mama keluar, menghampiri kami.
"Ma." kataku.
"Mamanya Rara. Assalamualaikum Tante." sapa Ken dengan ramahnya.
"Temannya Rara, ya." tanya mama, tidak kalah ramah dari Ken.
"Iya Tante. Saya Ken. Teman satu kantor Rara." dengan begitu humble, Ken memperkenalkan dirinya.
"Wah, Tante baru melihat temannya Rara yang namanya Ken. Ayo masuk dulu." mama mempersilakan Ken masuk.
"Enggak usah, ma." kataku.
"Baik Tante." Ken langsung masuk mengikuti Mama.
Anak itu benar-benar tidak mempedulikan kehadiranku. Ia berlalu begitu saja. Berbincang akrab dengan mama. Begitu juga dengan mama yang biasanya tidak banyak bicara dengan orang lain, sekarang jadi sangat antusias saling sapa dengan Ken.
Ada apa dengan mereka berdua. Mama dan Ken? Mereka layaknya dua orang yang begitu ingin saling kenal, sehingga aku diabaikan.
"Ken, kamu nggak mau pulang?" tanyaku.
"Rara," Mama langsung melirikku. "Kok bicaranya seperti itu. Temannya masih mau main."
"Hehehe, enggak apa-apa kok Tante. Rara emang begitu. Tadi saja katanya enggak ada orang di rumah, padahal ada Tante." rupanya ia masih kesal dengan keterangan ku tadi.
"Memang biasanya kalau jam segini rumah kosong. Mama enggak ada di rumah. Jualan bunga. Iya kan, ma?" aku melihat ke arah Mama, berharap Mama menjelaskan jadwalnya agar Ken tidak lagi menyindirku.
__ADS_1
"Iya nak Ken, biasanya jam segini Tante masih di kedai bunga. Baru pulang ba'da Maghrib atau Isya." kata mama.
"Tuh kan!" aku mencibir. "Terus kapan kamu mau pulang? Ini sudah sore. Masa sudah ngajak-ngajak bolos, mau lama-lama di rumah orang juga."
"Ra!" Mama geleng-geleng kepala.
"Iya deh, aku pulang dulu. Tante, saya pamit dulu." Ken kembali menundukkan kepalanya, dengan sopan ia pamit pulang.
Benar saja dugaaanku, ada sesuatu di hati Mama tentang Ken, sebab tidak biasanya Mama seramah ini para tamu lawan jenis. Bahkan pada Arif saja masih tampak sungkan.
"Ra, tadi itu siapa?" tanya mama dengan antusias.
"Teman kerja Rara, ma."
"Kok Mama baru tahu."
"Memangnya Mama tahu berapa banyak teman Rara? Bukannya Mama cuma tahu Aya, Dini, Risa dan kak Gita. Selebihnya enggak tahu, kan?"
"Maksudnya Mama, kenapa kamu baru ngajak Ken main ke sini?"
"Ken itu baru satu bulan kerja di kantor Rara."
"Dia cakep ya, Ra. Kayanya juga baik. Mama senang berbincang dengannya. Seperti sudah lama saling kenal."
"Aslinya judes, ma. Di kantor malah enggak bergaul sama siapapun."
"Masa sih, Ra?"
"Iya. Kalau makan siang saja, enggak pernah sama orang lain."
"Terus kenapa dia bisa bareng sama kamu. Jangan-jangan ...."
"Ma, jangan berharap lebih. Ken itu bagaikan langit dan bumi dengan Rara."
"Begitu ya, Ra?"
"Iya ma. Dia juga mantan pacarnya Monika, istrinya Arif yang sekarang."
"Masa, Ra?"
"Iya, ma. Makanya enggak usah berharap lebih. Lagian Rara bukan siapa-siapa. Rara hanya karyawan biasa, bukan gadis cantik yang fashionable. Sementara tipikal perempuan yang disukainya seperti Monika, jauh sekali kan dengan Rara yang benar-benar enggak kenal lipstik, blossom dan segala cream-cream kecantikan lainnya."
"Kenapa sih Ra, kekayaan dan kecantikan harus jadi patokan utama? Kamu juga bukan gadis yang jelek, kok Ra. Kamu cantik. Apalagi hati kamu. Mama sangat bangga sekali sama kamu, Ra. Dari kecil sampai sebesar ini tidak pernah merepotkan Mama."
"Ma, selera orang kan beda-beda."
Mama memelukku. Lebih baik ditegaskan dari sekarang agar Mama tidak berharap lebih, agar ketika apa yang kita harapkan tidak tercapai, tidak menyisakan kekecewaan.
__ADS_1