
"Mbak Tati, kita ke butik dulu ya, dari sana langsung ke mall." kata ibu, pada mbak Tati yang bertugas menyetir mobil, sementara aku dan ibu duduk di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan, aku lebih memilih diam. Bicara hanya saat ditanya oleh ibu sebab rasanya badan masih pegal setelah lari satu keliling lapangan komplek. Sesuatu hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.
Sampai di depan butik. Dua orang pelayan langsung menemani kami melihat-lihat pakaian. Mereka dengan cekatan melayani semua pertanyaan ibu. Sesuatu hal yang selama ini tak pernah aku dapatkan setiap berbelanja di sebuah toko. Mungkin karena toko yang aku datangi bukan butik besar atau karena aku bukan pemegang member gold di butik tersebut.
Mungkin, satu jam aku dan ibu ada di butik tersebut. Kami baru saja hendak keluar dengan lima tentengan berisi pakaian pilihan ibu untukku.
"Ibu." Monika Ariella, gadis itu sudah berada di hadapan ibu. Dengan penuh sopan ia mencium punggung tangan ibu.
"Monika, mau belanja ya?" tanya ibu.
"Enggak Bu, cuma mau jalan-jalan saja. Mau buang suntuk." kata Monika, dengan gayanya yang anggun. "Eh, ibu bareng Rara ya." Monika langsung menyalami aku.
"Iya. Ibu lagi nyariin baju yang bagus-bagus untuk Rara." kata ibu, sambil tersenyum ramah.
"Memangnya Rara suka belanja di sini juga?" pertanyaan Monika bernada sindiran. Mungkin karena ia menilai bahwa aku tak akan mampu belanja di butik semahal ini.
"Baru sekali ini." aku menjawab jujur, sesuai kenyataan.
"Oh ya ampun, padahal baju-baju di sini bagus-bagus lho Ra, sesuailah dengan harganya. Iya kan Bu?" ungkap Monika.
Sebagus apapun bajunya, kalau tidak sesuai dengan kantong untuk apa? Bayangkan saja, harga satu kembarnya setara dengan separuh gajiku sebulan, bahkan ada yang lebih. Padahal cuma untuk dipakai. Kalau harus menggunakan uangku, mungkin aku tak akan pernah mau singgah ke sini.
"Kalau menurut ibu, bagus enggaknya baju tergantung siapa yang memakai. Bukan masalah murah atau mahalnya. Sejauh ini, pakaian yang dipakai nak Rara selalu sesuai. Baju yang rapi dan sopan. Terpenting menutup aurat. Mungkin itu salah satunya yang membuat Ken suka dengan Rara. Iya nggak, nak Rara?" tanya ibu sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
"Ahh ibu." aku jadi malu mendengar sanjungan ibu barusan. Tetapi tidak dengan Monika yang tampak gondok mendengar sanggahan ibu.
"Makanya, Monika juga harus belajar untuk bisa berpakaian yang rapi. Padahal dulu bajunya sudah bagus, tertutup dan longgar. Tapi sayang, sekarang sudah ngepres lagi. Kerudungnya juga kelihatan dadanya. Ayo, dijulurkan lagi supaya cantik seperti dulu.
Harusnya kalau melakukan sesuatu itu jangan karena sesuatu hal, tapi berubah-ubah karena Allah supaya tidak gampang terpengaruh oleh kondisi. Begitu nak Monika." ungkap ibu, sehingga makin membuta Monika salah tingkah sebab disindir habis-habisan oleh ibu.
"Iya Bu. Monika lagi belajar. Monika akui sekarang memang gampang futur, maklumlah, kondisi Monika sekarang benar-benar labil sejak hubungan Monika dan Ken berakhir, nggak ada lagi yang membimbing Monika." ungkap Monika.
"Sabar Monika." ibu menepuk pelan pundak Monika.
"Kalau ibu berkenan, ingin sekali kembali belajar seperti dulu dengan ibu dan Ken." pinta Monika.
"Dari dulu sebenarnya ibu nggak setuju Monika belajar dengan Ken. Laki-laki dan perempuan kan nggak boleh sembarang bergaul. Ada batasannya juga. Kalau mau belajar, nanti bisa sama nak Rara. Ibu yakin nak Rara pengetahuan agamanya lebih baik." ibu mengacungkan ibu jari padaku. "Bagaimana nak Rara, siap menerima Monika sebagai muridnya?"
"Rara juga masih belajar Bu." jawabku.
"Ibu, Rara biasa saja, tidak sebaik yang ibu kira. Rara juga banyak kurangnya, makanya saling melengkapi dengan Ken." kataku.
Perbincangan kami berlanjut sambil jalan. Monika memaksa ingin ikut bersama sehingga ibu sulit untuk menolaknya. Aku yang hanya menemani ibu pun tak bisa berbuat apa-apa meski sebenarnya kami hanya ingin jalan berdua.
Sepanjang perjalanan, Monika terus mengakrabkan dirinya dengan ibu kembali. Sementara aku hanya berbicara saat ditanya karena kedua kakiku sudah sangat pegal, akibat olah raga tadi pagi.
"Benar-benar mencari penyakit. Sudah tahu nggak suka olah raga tapi malah maksain diri!" aku hanya bisa membatin.
Entah sudah berapa toko yang kami masuki. Barang belanjaan ibu juga terus bertambah membuatku benar-benar lelah. Aku sudah tidak sanggup mengikuti lagi. Saat badan rasanya lingkungan, sebelum kembali jatuh ambruk, aku sempat mendengar Monika kembali menyebut namaku.
__ADS_1
Bruk. Akhirnya aku terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri untuk kedua kalinya dalam satu hari ini.
***
Bau minyak kayu putih menyengat di hidung. Perlahan, saat aku membuka am, tampak bayangan wajah ibu. Ia tampak cemas sambil menggenggam erat tanganku.
"Nak Rara sudah bangun?" tanya ibu.
"Bu," aku berusaha bangkit, tapi ditahan oleh ibu sebab tubuhku masih terlalu lemah.
"Istirahat dulu saja Ra, jangan banyak bergerak." kata Monika dengan gayanya yang penuh perhatian, entah itu benar dari hati atau hanya karena ada ibu.
"Tadi nak Rara pingsan, lalu kami bawa ke sini. Untung saja di mall ini ada kliniknya. Ibu jadi tenang. Sebab dokter bilang nak Rara nggak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, cuma kelelahan saja. Harusnya tadi bilang, kalau sudah nggak sanggup jalan supaya kita pulang. Pasti nak Rara capek ya ngikutin ibu. Maaf ya mantuku, ibu kadang kalau belanja suka lupa waktu." kata ibu panjang lebar.
"Iya, maafin Rara juga ya bu. Tadi Rara kita enggak apa-apa." kataku.
"Nak Rara nggak biasa jalan lama ya?" tanya ibu lagi.
"Bukan karena itu Bu, mungkin karena sudah kelelahan akibat olah raga terlalu porsir." jawabku, malu-malu.
"Ya ampun. Nak Rara, kalau nggak sanggup jangan dipaksakan. Ibu nggak akan marah kok." ungkap ibu.
"Iya Ra, kalau sama ibu santai saja. Ibu itu mertua paling baik. Sama seperti ibu kita sendiri." ungkap Monika. "Tadi waktu kamu pingsan aku sempat khawatir Ra, aku kira kamu hamil, ternyata enggak. Hehehe."
"Nak Rara sama Ken kan baru nikah. Belum juga satu bulan." ungkap ibu.
__ADS_1
"Tapi ada lho Bu, yang kandungannya subur, langsung jadi." tambah Monika lagi. "Kalau kamu nggak ada masalah kan Ra? Kondisi kamu baik-baik saja kan? Soalnya Ken kan anak laki-laki satu-satunya, jangan sampai ...." Monika menggantungkan kata-katanya sehingga membuat raut wajah ibu cemberut.