GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
56. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Rencana pernikahan itu akhirnya telah ditentukan. Kami akan menikah dua pekan setelah ini, tentu saja atas usulan Ken. Bahkan ia meminta agar menikah di hari yang sama dengan hari lamaran, yang ditolak oleh semua orang sebab tidak ada persiapan sama sekali, padahal aku adalah anak pertama, sedangkan Ken anak lelaki satu-satunya. Tentu saja keluarga kedua belah pihak ingin memberikan yang terbaik.


Kedua belah keluarga, yaitu kedua orang tuaku dan juga orang tua Ken juga sudah mengadakan pertemuan keluarga inti, untuk membicarakan semua persiapan menjelang hari H. Mereka meminta pihak keluargaku memberikan ide untuk adat yang akan dipakai dalam pesta nanti, karena di keluarga kami nasional dan tak terlalu mengerti adat, akhirnya kami menyerahkan pada keluarga Ken akan menggunakan adat apa, sehingga diputuskan untuk akad tanpa adat, sedangkan resepsi menggunakan dua adat. Pertama adat Betawi, lalu sorenya adat Jawa Barat.


Mama sebetulnya sudah deg-degan, membayangkan besarnya biaya resepsi pernikahan nantinya, setelah ibunya Ken melakukan presentasi. Apalagi akan ada lima ribu tamu undangan. Pesta juga diadakan di salah satu hotel mewah di Jakarta Selatan. Berbagai menu makanan mewah, juga souvernir yang harganya cukup tinggi akan diberikan untuk tamu-tamu undangan yang akan hadir.


"Bagaimana ini Ra? Tabungan mama sudah terkuras untuk rencana pernikahan kamu dan Arif dulu. Mama benar-benar sudah tidak punya uang berlebih. Hanya untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari dan juga biaya sekolah Dinda.


Kalau mau pinjam, pinjaman sebelumnya juga belum lunas. Apa bank mau minjamin? Mama ragu-ragu sebab kedai juga sudah mama agungkan untuk pinjaman sebelumnya.


Mama juga rasanya segan jika harus minta tolong papamu, walaupun kita sudah baikan, tapi kalau masalah uang itu kan sensitif, ya Ra. Takutnya malah salah paham dan berujung pada perselisihan lagi." tukas mama, setelah kedua orang tua Ken dan papa pulang. Sementara kami berdua duduk di ruang tamu.


"Tabungan Rara juga nggak banyak, ma. Palingan cuma dua puluhan juta." kataku.


"Lalu bagaimana, Ra? Apalagi semua pilihan ibunya Ken itu berkelas. Paling tidak habis ratusan juta. Mama lihat-lihat kain untuk seragam saja permeter ya itu jutaan lho. Begitu juga dengan gaun pengantin kalian. Tiga busana yang akan dipakai, harganya nggak main-main."


"Apa sebaiknya kita minta kelonggaran, ma."


"Maksudnya, Ra?"

__ADS_1


"Ya, kita minta agar pernikahannya sederhana saja. Atau nggak usah pakai acara resepsi segala, apalagi menggunakan dua ada segala. Rara juga nggak mau kalau mama harus berhutang gara-gara itu. Pernikahan itu yang terpenting sah di hadapan Allah. Jangan diada-adakan sesuatu yang nggak ada." kataku, yang agak kecewa ketika akhirnya tahu bahwa sebelumnya mama juga berhutang ke bank.


"Tapi kan kita tahu Ra, keluarga Ken seperti apa. Kaya raya. Beda kalau misalnya pernikahan dengan Arif. Malah mereka yang lepas tangan, maunya nggak usah pesta-pestaan. Yang penting sah saja. Masa kita ikut-ikutan gayanya Arif, Ra."


"Ya tapi kalau nggak ada ya nggak usah dipaksakan, ma. Jangan sampai gara-gara pesta satu hari jadi beban untuk ke depannya. Rara nggak mau seperti itu, ma. Lagi pula Rara yakin jika Ken dan keluarganya mau menerima diskusi lagi.


Tadi kan mama lihat, bagaimana ibunya Ken selalu membawa setiap hal untuk didiskusikan. Mereka enggak memilih sendiri, tapi selalu bertanya juga tentang pendapat kita."


"Tapi mama enggak bisa, Ra."


"Ma, kalau mama enggak mau bicara sama ibunya, Ken. Biar Rara yang ngomong. Rara berani, kok. Atau kalau segan kita bisa bicara pada Ken terlebih dahulu supaya ia yang memberitahu orang tuanya. Pokoknya senyaman mama saja."


"Enggak ma. Kita jujur saja. Jadi diri kita sendiri. Kalau sekiranya enggak mampu dengan apa yang sudah mereka tetapkan ya sudah, kita mengaku saja. Tidak perlu berpura-pura sok kaya padahal enggak punya apa-apa."


Saat aku dan mama berdebat tentang rencana pernikahan yang hanya tersisa dua pekan lagi, tiba-tiba Hpku berdering keras. Ternyata dari ibunya, Ken.


[Nak Rara, ibu sampai lupa ngabarin salah satu hal penting sama mama, boleh ibu bicara?]


[Iya, sebentar Bu.] Aku memberikan telepon pada mama sambil membesarkan volumenya.

__ADS_1


[Jadi begini Bu, saya sama seluruh anggota keluarga, sebelumnya menghaturkan permohonan maaf, kami minta izin agar seluruh biaya pernikahan ini kami yang tanggung sebagai bentuk pertanggungjawaban dan juga keseriusan kami menjadikan Rara sebagai calon anggota keluarga baru kami. Nah, untuk pembiayaan yang berhubungan dengan ibu dan Rara, seperti kain untuk ibu sekeluarga dan baju pengantin Rara, kami akan mengirimkan dasar kainnya. Nanti untuk menjahitkannya, Ken yang akan memberitahu kemana harus dijahitkan.


Kami sudah memilihkan salah satu penjahit yang juga masih jadi bagian keluarga kami. Beliau sangat profesional, hasil jahitannya juga cukup bagus. Besok Ken akan mengantar Rara, ibu dan keluarga lainnya untuk diukur. Bagaimana, boleh kan Bu?]


[Tentu saja boleh, Bu. Kami tidak keberatan.] kata mama dengan wajah berseri. [Kami sangat berterima kasih, Bu. Atas segala kebaikan yang diberikan pada Rara dan keluarga kami.]


Baru saja kami berdua merisaukan tentang biaya pernikahan, ternyata sudah ada jawaban langsung dari Allah. Keluarga Ken akan menanggung semua biaya seratus persen. Kami sekeluarga tidak diperkenankan mengeluarkan biaya satu persen pun. Kecuali jika mama ingin mengadakan syukuran setelah pernikahan nantinya.


Alasannya, sebab keluarga Ken merasa bahwa biaya pernikahan adalah kewajiban pihak lelaki. Mereka juga mengaku sudah punya niatan sejak lama bahwa jika Ken menikah maka pihak keluarga perempuan tidak akan dibiarkan menanggung beban biaya.


[Untuk nama-nama yang akan diundang dari pihak keluarga ibu, nanti catatannya diberikan pada Ken saja ya. Supaya kami bisa mengiri undangannya sekalian. Silakan diundang sebanyak mungkin. Untuk urusan tempat dan makanan insyaAllah cukup.] kata ibunya Ken.


[Baik. Terimakasih banyak ya Bu, kami akan mulai merilis tamu yang akan diundang. Mungkin nggak sampai seratus tamu.] Mama menutup teleponnya.


"Alhamdulillah. Kamu beruntung sekali, Ra. Punya mertua sebaik itu. Keluarganya pun sepertinya sangat pengertian." ungkap Mama. "Sekarang mama tenang, Ra. Akhirnya doa-doa kita dijabah sama Allah. Semoga saja kedepannya lancar, ya Ra!" ungkap Mama.


Entah kebaikan apa yang aku lakukan hingga Allah membalasnya dengan begitu luar biasa. Lihatlah, bagaimana dulu aku dicampakkan oleh Arif, ia bahkan menghina, mengatakan bahwa aku tidak cantik dan tak pantas untuknya. Tapi Allah Maha baik. Dia memberikan ganti seorang Ken yang sangat berbanding terbalik karakternya dengan Arif.


Sejak awal Ken selalu memperlakukan aku dengan sangat baik. Ia kadang memuji dengan mengatakan bahwa aku cantik. Ken adalah obat untuk luka hatiku.

__ADS_1


__ADS_2