GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
89. Posesif


__ADS_3

Aku dan Ken saling pandang setelah mendengar pertanyaan ibu. Tapi dengan sigap Ken mengajak ibu menjauh dariku, mungkin ia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sementara aku menanti dengan harap-harap cemas, sambil mengawasi gerak-gerik ibu.


Setiap raut wajah ibu tampak berubah, aku langsung meremas tangan, bertanya-tanya, kira-kira apa yang dibicarakan Ken dan ibu.


Jujur saja, aku agak khawatir, bagaimana jika ibu salah paham. Menganggap bahwa aku adalah anak durhaka sebab menjaga jarak dengan ayah kandung sendiri, apalagi saat pernikahan kami, aku dan papa tampak akrab.


Tetapi aku buru-buru memperbaiki kata hati sendiri. Teringat kata mama. Jangan fokus dengan penilaian orang lain. Bisa saja kita sudah berusaha sebaik mungkin, tapi di mata orang yang tak pernah suka dengan kita, tetap saja akan menilai buruk. Padahal penilaian Allah yang harus kita perjuangkan. Lagipula untuk apa baik di mata manusia tapi buruk di mata Allah.


Tidak berapa lama ibu dan Ken menghampiriku, lalu ibu menggenggam tanganku. "Tidak apa-apa, nak Rara. Kami semua akan selalu mendukung nak Rara. Ibu percaya bahwa nak Rara adalah anak yang baik. Yang terpenting sekarang adalah kenyamanan mantu dan cucu ibu. Ini nyata itu Ken, jaga nak Rara baik-baik. Kalau Rara senang maka bayinya juga akan senang." ungkap ibu, sehingga membuatku bisa bernafas lega.


"Tapi jangan sampai keluarga dari pihak papanya Rara tahu dulu tentang kehamilan Rara ya Bu, Ken nggak mau saja mereka merecoki kami." ungkap Ken. "Apalagi karang Rara itu mikirin apa yang terjadi padanya. Ibu tahu sendiri kan, kalau ibu hamil itu perasaannya harus selalu bahagia." tambah Ken.


"Iya iya. InsyaAllah nggak akan ada yang memberitahu keluarga papanya Rara." jawab Ibu.


Selesai urusan dengan ibu, aku dan Ken pamit pulang. Kami belum memberitahu orang-orang di rumah. Meskipun khadimat, tapi mereka juga anggota keluarga kami saat ini, berita bahagia ini pun harus mereka tahu.


Bi Ani begitu terharu. "Dulu bibi ngerawat mas Ken waktu masih bayi, semoga saja bibi juga bisa merawat anaknya mas Ken dan mbak Rara." doa bibi Ani.


Selesai mengabari orang-orang yang bekerja di rumah dan memberikan makanan dan hadiah dari ibu, kami menuju kamar untuk istirahat.


"Ingat sayang, mulai sekarang kamu harus banyak istirahat, jangan melakukan pekerjaan berat, jangan memikirkan hal-hal yang membuat hati kamu tidak bahagia. Juga makan dan minum yang bergizi. Nanti aku akan meminta Bi Ani untuk memperhatikan dengan baik kebutuhan gizi kamu." Ungkap Ken, sementara aku mendengar dengan ngantuk-ngantuk sebab sudah sangat lelah seharian ini.


***


Azan Maghrib baru saja berkumandang. Aku tersenyum memandang hasil pekerjaanku dibantu oleh mbak Tati sejak tadi pagi, setelah Ken berangkat kerja. Sekarang rasanya kamar ini sudah sesuai dengan apa yang aku dambakan, semoga saja nanti hasilnya sesuai.


"Segini rasanya sudah cukup mbak. Untuk ruangan lain, besok saja. Aku sudah pegal banget, habis salat mau istirahat dulu." kataku, sambil berlalu menuju kamar mandi, untuk salat Maghrib.

__ADS_1


Setelah menunaikan salat tiga rakaat, aku smhendak turun ke bawah karena biasanya setelah Ken pulang kerja maka kami akan makan malam bersama. Tetapi di pintu kamar aku berpapasan dengan Ken. Rupanya ia pulang lebih awal.


"Mas sudah salat?" tanyaku.


"Sudah, tadi mampir di masjid depan." kata Ken. "Bayiku nggak ngerepotin kamu kan sayang?" Ken mengusap peluh perutku, lalu ia menyapa calon bayi kami.


Sejak dokter menyatakan bahwa aku hamil, Ken berubah agak posesif. Ia punya banyak pantangan untukku. Termasuk menyuruh berhenti kerja lebih awal. Aku mengikuti semua saran Ken meskipun kadang merasa apa yang ia perintahkan agak berlebihan, tapi demi kebaikan calon bayi kami maka kuturuti semuanya.


"Yuk makan malam, aku sudah lapar " Kataku. Agak berbeda dengan ibu hamil lainnya yang biasanya di trimester pertama suka mual dan lemas karena ngidam, sementara aku mengalami hal sebaliknya. Gampang sekali lapar. Setiap satu jam sekali rasanya harus makan.


"Sebentar ya, mas ganti baju dulu." kata Ken, sambil membuka pintu kamar. "Sayang, apa ini?" Ken berbalik menatapku sambil menunjuk dinding kamar.


"Kenapa? Bagus kan?"


"Kenapa semua dinding di tempelin fotoku?"


Entah itu mitos atau fakta, tapi aku mau mencobanya. Aku mau bangun tidur sampai tidur lagi selaku melihat wajah mas supaya nanti anak kita rupanya mirip mas. Wajah agak kebule-bulean, matanya bagus, hidungnya mancung dan kulitnya putih.


Nanti selain kamar, aku juga mau nempelin foto mas di beberapa ruangan yang aku sering berada di sana."


"Kenapa begitu sih, yang?"


"Lho, nggak boleh ya? Ya maaf sih, aku kira mas nggak masalah kalau wallpaper dinding kamar di lampis foto mas. Aku kira kalau mau merubah apa-apa di rumah ini nggak perlu izin sama mas seperti yang pernah mas katakan di awal kita pindah ke sini, bahwa aku boleh melakukan apapun sesukaku di rumah ini. Maaf banget ya mas."


"Sayang, bukan begitu maksudku. Tapi ...."


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Jadi begini, aku nggak masalah kamu ngerinya semuanya tapi kenapa harus menempel fotoku sebanyak itu. Kan jadi aneh saja, yang."


"Tapi aku suka."


"Ya sudah, lakukan saja semau kamu. Yang penting kamu bahagia!"


"Wahhhh, terimakasih suamiku tercinta." aku menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Ken.


"Lalu foto pernikahan kita mana?"


"Di copot, aku letakkan di belakang lemari pakaian."


"Ya Allah sayang, jangan begitu dong. Itu kan foto penuh kenangan. Untuk pertama kalinya aku boleh nyokek pipi kamu tanpa khawatir kamu tabok. Kamu boleh tempek apapun di dinding, tapi foto itu tetap letakkan di tempat semula ya."


"Tapi kan di sana ada akunya."


"Ya nggak apa-apa. Justru karena ada kamu makanya aku pasang di kamar kita."


"Kalau gambar aku ditempel sama foto mas yang lain bagaimana?"


"Ya jangan, biarkan seperti semula."


"Bagaimana kalau tanpa saat aku malah mandangin wajahku sendiri, lalu anak kita mirip aku, bukan mirip mas?"


"Ya nggak apa-apa sayang. Anaknya mirip siapa nggak masalah, yang penting sehat dan kelak jadi anak salih."


Aku mengangguk, janji besok akan meletakkan kembali foto pernikahan kami di tempat semula, persis menghadap tempat tidur. Meskipun sebenarnya aku agak tidak suka, tapi Ken kembali menegaskan agar aku tidak mempermasalahkan yang namanya fisik.

__ADS_1


__ADS_2