GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
67. Rencana Shopping Dengan Ibu


__ADS_3

Ba'da Isya, aku sampai di rumah diantar oleh Aya. Sejak di pintu depan, bi Ani sudah memberikan kode, entah apa artinya, makanya aku tetap melenggang masuk ke dalam tanpa beban apapun.


"Nak Rara sudah pulang?" suara ibu. Benar saja, ibu sudah berdiri di dekat tangga.


"Ibu." aku buru-buru menyalami ibu, sambil mencium punggung tangannya. "Ibu sudah dari tadi?" tanyaku dengan agak kaget.


"Iya, sejak pukul lima. Kata Ken nak Rara biasanya pulang jam limaan, makanya ibu langsung ke sini. Ternyata baru pulang hampir jam delapan malam."


Kata-kata terakhir ibu membuatku tidak enak hati. Memang sebenarnya tadi jam lima pekerjaan sudah selesai, tetapi aku makan di luar dulu bersama tiga sahabatku, selain makan kami juga menyempatkan diri singgah di mall sekalian salat Maghrib dan Isya.


"Nak Rara lembur ya?" ibu bertanya masih dengan sangat tenang, tapi membuatku merasa bersalah.


"Enggak bu. Sebenarnya jam lima pekerjaannya sudah selesai, tapi tadi ...."


"Sudah, kalau enggak mau cerita nggak apa-apa. Nak Rara sudah makan?"


"Itu, Rara tadi makan di luar sama teman-teman Bu. Karena Ken nggak di rumah makanya Rara keluar sama teman-teman, tapi sudah minta izin lewat pesan meski belum ada jawaban."


"Syukurlah kalau sudah makan. Ibu benar-benar khawatir, takut nak Rara sakit magh. Biasa kan orang yang sibuk kerja kadang kelupaan dengan dirinya sendiri."


"Ibu sendiri sudah makan?"


"Belum, rencananya tadi mau makan sama nak Rara."


"Astagfirullah, maafin Rara Bu. Sekarang ibu makan ya, Rara temani ibu." Aku segera mengajak ibu ke meja makan dengan rasa bersalah berlipat-lipat. Sudah membuat ibu menunggu lama, apalagi ibu sampai menungguku untuk makan malam bersama. "Bu, maaf ya. Tadi Rara jalan sama teman-teman Rara, sudah minta izin sama Ken, sekali lagi maafkan Rara ya Bu." aku mengulang permohonan maaf sampai beberapa kali sebab tidak enak pada ibu.


Semoga saja tidak jadi masalah kedepannya. Belum sebulan jadi menantu sudah membuat ulah, semoga saja sikap ibu sebelumnya tidak berubah padaku.


"Hehehe, ya nggak apa-apa nak Rara. Ibu cuma khawatir saja. Takut nak Rara kenapa-napa. Ibu ke sini karena Ken yang minta. Tadi sebelum berangkat ke Paris dia minta ibu menemani nak Rara malam ini, siapa tahu nak Rara kangen Ken. Atau nak Rara kesepian. Makanya ulibu penuhi permintaan tersebut, ditambah ibu memang pengen ngobrol-ngobrol sama nak Rara."

__ADS_1


"Iya Bu, kangen banget." tentu saja tidak kuutarakan secara langsung sebab malu pada ibu. "Ibu nambah ya." aku menyendokkan nasi ke piring ibu. Mencoba melayani ibu sebaik mungkin sebagai tanda permohonan maaf sebab sudah membuat ibu menunggu.


Entah kenapa aku jadi kesal, kenapa Ken tidak mengatakan kalau ibu mau datang ke rumah. Untung saja ibu tidak berpikiran yang bukan-bukan. Baru ditinggal suami beberapa jam sudah kelayapan.


Usai makan, aku dan ibu duduk-duduk di sofa sambil berbincang santai. Ibu menceritakan tentang masa kecil Ken.


"Ken itu sejak kecil sudah mandiri. Dia paling tidak suka dengan yang namanya bergantung pada orang lain. Makanya saat ayahnya meminta Ken untuk mengurus perusahaan, Ken sempat menolak, untungnya ayahnya punya seribu satu cara agar Ken mau, salah satunya dengan mensyaratkan bahwa Ken harus menjadi pegawai dulu di sana, kalau Ken berhasil maka hadiahnya adalah perusahan. Sayang sekali kan, kalau usaha yang sudah dirintis sejak nol tidak diteruskan.


Suatu hari, Ken cerita sama ibu, bagaimana dia begitu bersemangat karena ada yang paham dengan pemikirannya. Di saat ayahnya sendiri bertentangan dengannya. Ken sampai berharap kalau pemilik ide itu bisa jadi istrinya." Tawa ibu kepala mengingat tingkah Ken saat itu, benar-benar suka banget, sementara aku merona sebab yang dibicarakan ibu itu adalah aku.


Jadi itu alasan lainnya Ken memilihku, sebab ide-ide yang aku berikan padanya. Ahh Ken, entah bagaimana lagi aku mengungkap rasa terima kasih ini sebab kamu nggak hanya melihat orang dari wajahnya saja.


"Tapi bukannya Ken juga pernah mengkhitbah Monika, Bu?" tanyaku.


"Oh itu, sebab Ken kasihan melihat Monika yang benar-benar ingin berubah, makanya kami semua sepakat menerima Ken sebagai calon bagian keluarga kami. Siapa tahu dengan pernikahan tersebut Monika benar-benar bisa jadi anak baik, mengingat ayahnya Ken kenal cukup dekat dengan keluarga Monika. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ahh sudahlah, tidak perlu kita ungkap aib orang lain ya nak Rara." kata ibu dengan bijaksana. "Sudah malam, nak Rara pasti lelah seharian bekerja eh pulang-pulang malah ibu ajak ngobrol." kata ibu.


"Enggak apa-apa kok bu. Rara senang bisa ngobrol sama ibu. Rara jadi tahu bagaimana Ken sebenarnya."


"Kemana Bu?"


"Lihat besok saja. Sekarang buruan tidur, jangan bergadang lagi ya supaya enggak sakit."


Aku menuju kamar tidur setelah pamit pada ibu. Sampai di kamar, aku tak langsung tidur, tapi memeriksa Hp, begitu melihat pesan dari Ken, aku langsung melonjak bahagia.


[Assalamualaikum, sedang apa istriku?]


[Ra, ibu mau ke rumah. Sudah sampai belum?]


[Ra, kangen ... 😘]

__ADS_1


Untuk membalas tiga pesan dari Ken, aku sampai mengetik pesan beberapa kali. Lalu menghapusnya lagi hingga akhirnya jadilah sebuah puisi yang ku kirim pada Ken sebagai balasan untuknya.


[Aku belum pernah merasakan rindu yang sebegitu besar, seperti rindu yang sekarang ku rasakan. Oh kekasih, harus berapa lama lagi kita berpisah. Aku benar-benar merindukanmu.]


Lima menit kemudian, pesan balasan dari Ken masuk.


[Ra, ini kamu yang ngetik?] tanya Ken.


[Iya, memangnya kenapa?] aku balik tanya.


[Kamu bisa bucin juga, hahaha.]


[Itu bukan bucin, tapi puitis!]


[Hahaha, iya deh puitis.]


[Apasih? Jelek ya? Ya sudah, hapus saja!]


Ken, kenapa sih kamu begini banget. Aku serius tapi kamu malah menertawakan. Tidak berapa lama Ken membalas dengan mengirim permohonan maaf.


[Aku senang kok Ra, dengan pesan-pesan yang kamu kirimkan ] kata Ken.


[Enggak usah bohong!] kataku.


[Beneran. Aku juga merindukan kamu kekasihku.]


[Ken, sudahlah. Enggak usah pura-pura jadi puitis, aku malah melihatnya kamu seperti ingin mengejekku. Jadi lebih baik sudah saja. Aku mau istirahat.]


[Ra, malam ini begitu kelam meskipun langit cerah dan banyak bintang-bintang di langit, mungkin karena tak ada kamu di sini.]

__ADS_1


[Malam? Tuh kan ketahuan ngarangnya. Di saja kan masih sore, kamu kira aku nggak tahu kalau Indonesia lima jam lebih cepat dibandingkan Paris. Sudahlah Ken!]


Kekesalanku bertambah karena sikap Ken yang pura-pura menirukanku. Dari kaca semakin kesal, akhirnya kuputuskan untuk segera tidur, besok ada agenda bersama ibu, aku ingin bangun lebih awal untuk menunjukkan bahwa aku menantu yang patut dibanggakan!


__ADS_2