GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK
84. Datang Tiba-tiba (2)


__ADS_3

Mobil jazz hitam berhenti di depan rumah. Yang nyetir adalah papa. Yang pertama turun adalah Elsa, Tante Wira, Qiya kemudian papa. Mereka semua membawa tentengan. Tangannya sampai penuh dengan tas belanjaan bermerek.


Ya, aku tahu, salah satunya Dior. Aku sering melihat model di kantor kami memakainya.


"Enak ya, puas belanjanya!" batinku.


Bu Heru menyambut kedatangan mereka. Sementara aku dan Ken menunggu di dalam, memantau dari jendela kaca berwarna gelap yang hanya terlihat dari dalam.


"Duh jeng Heru, maaf ya nunggu lama. Kami baru shopping. Maklumlah, ada banyak barang-barang bermerek yang sayang dilewatkan." kata Tante Wira.


"Sepertinya jeng Wira ini sudah siap jadi sosialita baru. Tuh lihat, belanjaannya mahal-mahal semua." kata Bu Heru.


Perbincangan masih terjadi di luar. Bu Heru mengelu-elukan Tante Wira. Sementara papa mengeluarkan lebih banyak belanjaan lagi.


"Ya Allah, belanjanya banyak sekali!" aku berbisik. "Lalu sekarang bagaimana, kapan kita keluar." tanyaku pada Ken.


"Tunggu sebentar." Ken mengirim pesan, kemudian pesan balasan masuk cukup cepat. "Oke, orang suruhan ku ternyata ada di belakang mobil papa."


"Untuk apa?"


"Kamu mau membiarkan semua belanjaan itu mereka nikmati?"


"Terus?"


"Sudah, yuk keluar!" Ken menarik tanganku.


"Assalamualaikum papa, Tante Wira!" sapa Ken sambil tersenyum.


"Ken," bisikku.


Kemunculan kami yang tiba-tiba tentu membuta Tante Wira, papa, Elsa dan Qiya kaget. Bahkan barang belanjaan di tangan Tante Wira yang tadi sempat dipamerkan pada Bu Heru langsung terjatuh ke lantai.


"Nak Ken ... Rara." kata Tante Wira.

__ADS_1


"Ada apa ke sini?" tanya papa.


"Mau membesuk papa. Kan kata Tante papa sakit." Kini aku buka suara.


"Tadi Tante bilang papa masih punya hutang. Berapa Tante? Saya akan bantu lunasi." jawab Ken. "Lagian uangnya Tante kan ada di Bu Heru. Tadi Bu Heru yang cerita. Bu, nanti uangnya transfer balik ke rekening saya ya, untuk bayar hutang." kata Ken pada Bu Heru.


"Oke, siap pak Ken!" jawab Bu Heru.


"Eh enak saja. Uang yang mana? Bu Heru jangan ikut-ikutan ya!" kata Tante Wira, sikapnya yang tadi manis berubah judes. Begitulah manusia tamak, kalau sudah berhubungan sama uang maka akan berubah.


"Bu, sekarang ibu boleh pergi. Nanti saya hubungi lagi. Ingat Bu, uangnya jangan dikembalikan sebab itu uang saya!" kata Ken dengan tegas. "Saya bisa pakai jalan hukum, Bu."


"Nak Ken apa-apaan ini? Itu uang Tante, jangan diambil!" Tante Wira langsung berubah total. Ia yang biasanya sopan dan manis pada Ken berubah juga.


"Nanti akan saya kembalikan kalau terbukti uang itu punya Tante " jawab Ken dengan entengnya. "Bisa kita masuk sekarang?" Ken menunjukkan pintu, sementara Bu Heru berlaku meninggalkan kami.


Aku, Ken, papa, Tante Wira dan Elsa duduk berhadap-hadapan. Sementara Qiya nyelonong masuk ke dalam.


"Langsung saja, ada berapa hutangnya papa?" tanya Ken.


"Kalau papa bisa menjelaskan semuanya, maka saya akan bayar sekarang juga. Tapi tolong hadirkan orang yang papa hutangi." kata Ken lagi.


Lagi-lagi diam. Mereka hanya saling pandang. Andai mereka tidak terlalu tamak, nggak akan pernah ada adegan seperti ini.


"Jadi hutangnya tidak ada, kan?" kata Ken. "Kalau kalian diam, berarti saya anggap kalian berbohong. Sekarang lanjut persoalan kedua, apa benar papa sakit? Kalau iya, mana obat-obatan atau pernyataan medis kalau papa sakit?" tanya Ken lagi.


"Papa memang sakit nak Ken. Tapi nggak berobat ke dokter." jawab papa.


"Sakit apa?" Ken masih menginterogasi.


Papa memandang Tante Wira. "Ini!" Papa menunjukkan luka di kakinya.


"Apa ini?" Ken mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Borok," bisikku.


"Oh, semacam penyakit kulit ya?" Ken balas berbisik.


"Ya." jawabku, masih sambil berbisik, memperlihatkan hasil google di hp.


"Baiklah. Kami akan memberikan pengobatan untuk papa sebab terbukti papa sakit." Ken membuka dompetnya, lalu menutup lagi. Lalu mengambil tasku. "Nah ini, untung kamu ada." sambil tersenyum, Ken menyodorkan satu lembar yang dua puluh ribuan. "Saya nggak punya uang kecil, tapi ternyata Rara punya banyak. Segini cukup kan?" kata Ken. "Tolong jangan katakan lagi kalau Rara nggak berbakti pada papa atau pilih kasih sama orang tua. Ngerti!" ungkap Ken.


"Dua puluh ribu? Maksudnya apa nak Ken?" Tante Wira meradang.


"Tante nggak usah ngarang, meski belum pernah kena penyakit kulit seperti itu, tapi saya tahu, harganya nggak akan lebih dari lima ribu. Kalau nggak percaya silakan searching saja. Saya juga tadi ngintip google!" perintah Ken.


"Kamu mau menghina kami!" papa ikutan marah.


"Pa, dari awal saya berusaha menghormati papa. Tapi saya tidak terima kalau papa dan Tante menyakiti istri saya. Kalian sudah membuatnya sedih dan pusing." ungkap Ken. "Saya juga tidak terima kalian menjual apa yang sudah saya beri. Papa lupa pernjanjian awal kita bahwa tidak boleh menjualnya, kalau dijual maka papa harus membayar kembali harga yang sama sebab tujuan saya membelikan itu kan untuk sumber Rezeki papa sekeluarga agar nanti Rara tidak kepikiran dengan perekonomian papa.


Karena papa menjual semuanya, maka saya akan ambil kembali. Jumlahnya satu koma lima em. Ditambah pick up yang juga papa jual. Juga uang pemberian awal saya yang ternyata tidak papa berikan seluruhnya pada Rara. Itu tandanya papa tidak amanah. Saya tarik semuanya. Uang yang ada di Bu Heru saya anggap sebagai pelunasannya. Juga belanjaan itu akan saya sita semuanya!"


"Apa-apaan ini, nak Ken nggak bisa begitu. Uang yang ada di Bu Heru adalah uang Tante. Bukan uang papa kalian!" sergah Tante Wira. "Lagipula harga rukonya hanya satu setengah em, yang di Bu Heru itu satu koma delapan. Kamu mau jadi lintah darat? Dasar orang kaya rakus!"


"Tante yang rakus. Apa yang diberikan Ken bukan hanya ruko, tapi pick up dan juga uang tunai saat kamu mau menikah. Andai papa dan Tante nggak rakus, maka kami nggak akan menghitung semuanya." kataku yang tidak terima sebab suamiku dihina.


"Durhaka kamu Ra!" kata papa.


Ken tidak peduli, ia memencet Hpnya sehingga dua orang suruhannya yang jadi informan langsung menghampiri. Ken memberikan perintah untuk mengambil semua barang belanjaan mereka.


"Eh, enak saja, itu barang-barangku!" ungkap Elsa, sambil berusaha mengambil kembali barang-barangnya.


Meski Tante Wira dan Elsa perempuan, tapi mereka cukup berhasil membuat dua orang suruhan Ken kewalahan meskipun akhirnya berhasil juga mengambil semuanya.


Tangis dan teriakan terdengar dari mulut Tante Wira dan Elsa, bahkan mereka menyumpahi kami berdua yang pamit pulang. Bahkan papa tidak memberikan tangannya untuk sekedar kucium.


"Papa, maafkan Rara." bisikku.

__ADS_1


Kami berdua jalan menuju mobil yang diparkir agak jauh, diiringi sumpah serapah dari mulut Tante Wira.


"Durhaka kamu, Ra. Saya doakan kamu mandul, nggak bakal punya anak, nggak bahagia hidup kamu dan suami kamu selingkuh seperti papa kamu!"


__ADS_2