Hasrat Terindah Tuan Muda

Hasrat Terindah Tuan Muda
Bonus chapter : Malam pertama.


__ADS_3

Bonus chapter : Malam pertama.


***


"Sayang ... aku mencintaimu, sungguh ... terimakasih sudah hadir ke dalam hidupku dan mencuri hatiku!"


Hardan tengah menggendong Bulan dalam tangannya, dia bersikap begitu lembut karena malam ini akan mejadi malam pertama mereka.


Sebelum mereka pergi berbulan madu esok hari, Hardan sudah tidak sabar ingin melalui malam panas dengan istrinya.


Karena Hardan sudah menahan begitu lama.


Bulan sedikit gugup, akan tetapi dia sudah resmi menjadi istri Hardan jadi dia akan melayani suaminya dengan maksimal.


Dengan pipi memerah dan wajah yang malu malu, Bulan bersandar di dada suaminya yang tengah menggendong dirinya.


Setelah itu, Hardan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.


Bulan yang memang selalu saja kehilangan dirinya dibawah sentuhan Hardan hanya bisa mengikuti suaminya ini.


Perlahan Hardan mengusap lembut wajah istrinya, di tatapnya kedua mata Bulan dengan dalam, seolah mata mereka berdua berbicara.

__ADS_1


“Biarkan aku memiliki mu seutuhnya, aku ingin kamu seumur hidupku,” bisik Hardan mencium kening istrinya, ciuman itu perlahan turun ke bibir dan berakhir di buah dada Bulan.


Bulan yang sudah kehilangan dirinya sesaat merasakan sesuatu yang aneh, sedari tadi Hardan melakukan segala tindakannya dengan sangat lembut membuat Bulan merinding.


Olahraga panas itu pun dimulai, Hardan yang bersungguh-sungguh dengan segala sentuhannya mencurahkan isi hatinya, dia ingin menghabiskan malam yang sangat bermakna dengan istrinya ini.


“Ahh, pelan sedikit, rasanya sakit,” ucap Bulan saat merasa jika tubuhnya tidak sanggup mengimbangi tenaga suaminya itu.


“Oh sayang, apa yang harus kulakukan denganmu? Wajahmu sangat polos tapi tubuhmu membuatku gila, aku jamin akan membuatmu menikmati ini, malam masih sangat panjang,” bisik Hardan mengusap wajah cantik istrinya dan menggendong istrinya ke atas tubuhnya agar Bulan berada di atas.


“Aku, aku merasa malu, jangan melihatku seperti itu,” sahut Bulan menunduk malu saat suaminya memandangi wajahnya yang sudah berada di atas tubuh Hardan itu.


“Aku tidak tahu, sekarang aku hanya merasa malu,” sahut Bulan tidak bisa menahan rasa malunya lagi, tubuhnya sepenuhnya tenggelam dalam dekapan pria yang menjadi suaminya ini.


“Aku harus mendengarnya darimu, kau tahu kan jika tidak menjawabnya aku akan bermain sampai pagi,” bisik Hardan berbisik di telinga istrinya sambil memainkannya.


“Apa? Bermain sampai pagi? Tubuhku tidak akan sanggup,” keluh Bulan bersandar di dada bidang suaminya yang sedang memeluknya.


“Aku tahu, karena itu jawablah pertanyaan ku yang tadi sayang, lihat mataku dan katakan kau setuju,” Hardan menarik lembut wajah istrinya yang sedang bersandar itu kehadapannya, dia memandangi mata istrinya dalam-dalam.


“Ba … baiklah, aku berjanji akan memiliki anak denganmu, kita akan memiliki keluarga yang bahagia,” sahut Bulan kembali bersandar di dada bidang suaminya.

__ADS_1


“Hehe, bagus, kau sudah berjanji, tapi aku tidak bisa berhenti sekarang, aku hanya bilang tidak akan melanjutkan nya sampai pagi, aku masih mau, jadi akan kita lakukan lagi, tenang saja sayang, tidak akan sampai pagi,” bisik Hardan tertawa puas, dia berhasil mendapatkan perkataan janji itu dari istrinya.


Bagaimana pun Hardan sudah menunggu ini begitu lama, dia akan sungguh-sungguh dalam proses pembuatan anak yang ia inginkan.


"Pelan-pelan," Bulan merasa lelah sekali, dia tidak tahu jika melakukan ini sangat melelahkan begini.


Tetapi saat ia melihat suaminya, Bulan yang masih malu itu merasa tidak adil, seolah tenaga Hardan tidak akan pernah habis.


Hardan benar-benar melakukannya dengan benar malam itu dan keduanya menyatu dengan perasaan yang sangat hangat dan bahagia.


.


.


.


.



__ADS_1


__ADS_2