
Episode 86 : Tempat yang sangat indah.
***
Di mobil Hardan William,
Baik Bulan maupun Hardan telah usai membersihkan diri mereka, sekarang sudah ada supir pribadi yang disiapkan Pak Sam untuk mereka.
Entah mengapa Hardan jadi malu jika mengingat apa yang ia lakukan di kamar mandi untuk meredakan gairahnya.
Tetapi tangannya tetap menggenggam tangan Bulan.
Hanya dalam beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah hotel mewah, dan tujuan mereka ada di rooftop hotel yang sudah dikosongkan oleh kepala pelayan, Pak Sam.
"Wah ... hotel ini mewah sekali, semakin aku bersama mu, semakin aku sadar jika kehidupan orang elit itu sungguh berbeda dengan kehidupan orang biasa ..."
Tak habis-habisnya Bulan merasa kagum dengan segala kemewahan di dalam hotel ini.
Rasanya sudah berapa kali dia kagum jika melihat apapun saat bersama Hardan.
Mata Bulan melihat ke segala arah ketika lift yang terbuat dari kaca sudah beranjak naik.
"Woah ..."
__ADS_1
Bulan tercengang lagi, dia menempel kedua tangan di dinding kaca dan melihat pemandangan kota yang sangat terang di malam hari karena banyaknya lampu dimana-mana.
"Lampunya seperti bintang! indah sekali ..."
Bulan jadi terfokus dengan pemandangan spektakuler yang ia lihat.
Hardan menatap tajam kearah pemandangan kota lalu menarik tangan Bulan yang tadi melepaskannya.
"Jangan lepas tanganku! lagian kau harus berfokus kepadaku bukan ke pemandangan kota atau apapun!"
Gerutu Hardan bahkan cemburu terhadap pandangan kota dan benda mati.
Bulan sampai terheran-heran dan menggelengkan kepalanya, tetapi lelaki ini adalah Hardan dan sifatnya memanglah seperti itu.
Hardan langsung merangkul kekasihnya erat dan saat itu mereka sudah sampai di rooftop.
"Indah sekali ..." seru Bulan dengan perasaan yang sangat hangat.
Bagaimana tidak, dia melihat taburan bintang di langit sebagai atap, rooftop nya dihiasi dengan begitu indah dan elegan.
Sama seperti di rumah kaca dulu ketika dia melakukan ciuman pertamanya, dia juga merasakan hal yang sama dengan rooftop ini, dia seolah berada di negeri fantasi yang begitu indah.
"Sayang ... kau suka?" bisik Hardan tetap merangkul kekasihnya.
__ADS_1
Bulan tersenyum sangat indah kearah Hardan, dan menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.
"Iya, aku suka sekali ... aku tidak akan pernah menyangka melihat pemandangan seindah ini, ini terlalu indah ..."
Bulan berbicara dengan sangat antusias dan ceria, dia senang sekali, rasa kantuk yang tadi masih terasa sirna sudah dihipnotis oleh pemandangan yang ia lihat.
"Baguslah, ini belum berakhir, masih banyak hal yang ingin aku berikan untukmu, selama bersamaku, kau tidak akan pernah merasakan kesepian dan bersedih lagi, aku yakin itu!"
Balas Hardan mengusap rambut kekasihnya lembut, matanya yang dalam dan senyumannya itu sangat bisa dipercaya.
Bulan bisa melihat kejujuran di mata kekasihnya ini.
Bulan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Umm ... aku percaya kepadamu, kau adalah hadiah semesta untukku, pasti aku tidak akan lagi menderita dan mengalah untuk orang lain."
Balas Bulan menggenggam tangan kokoh kekasihnya, tangan yang membawanya dari keterpurukan menuju hidup yang begitu cerah dan hangat.
"Baiklah, kita makan dulu ... kau sudah lapar kan?" Hardan mengajak Bulan melangkah dan duduk di kursi dan meja yang berada di pinggir rooftop.
Dari sana, Bulan bisa melihat pemandangan spektakuler kota megah dari atas, dan jika dia melihat keatas dia akan melihat langit bertaburan bintang yang begitu memanjakan mata.
.
.
__ADS_1
.
.