
Episode 23 : Adakah yang kau inginkan?
***
Setelah panggilan itu, dengan terpaksa Bulan harus merubah perjalanannya menuju perusahaan Hardan William yang memang sudah terkenal di seantero negeri.
"Haah!"
"Dia memang berkuasa sekali, bahkan saat aku di keluarkan dari kelas pun dia langsung tahu, orang berkuasa memang berbeda!"
Keluh Bulan menatap jalanan yang di lalui oleh Bus.
Hanya dalam beberapa saat Bulan sampai di sebuah menara super besar, sangat tinggi disaat yang bersamaan.
Bulan yang terkejut karena baru pertama kali melihat gedung ini secara langsung mengaga sembari menenteng ranselnya.
"Aku hanya melihat tampilan ini di televisi! ternyata sangat megah!"
"Ck! kenapa sih aku bisa berurusan dengan lelaki super kaya dan menyebalkan seperti ini!"
"Ini semua karena Lisa dan Ibunya!" geram Bulan lagi teringat dengan Lisa dan ibunya yang membuatnya berada di posisi ini.
***
Di lobby perusahaan, Lucas sudah menunggu Bulan.
Dia kemudian menuntun Bulan menaiki lift menuju ruangan pribadi sang Bos.
Mata Bulan celingak-celinguk melihat beberapa karyawan yang tidak sengaja mereka jumpai, dan seluruhnya merupakan lelaki.
__ADS_1
Sampai saat ini belum ada karyawan wanita yang Bulan lihat, bahkan resepsionis yang ada di bawah juga adalah laki-laki.
'Ckck, pantas saja lelaki itu di gosipi adalah seorang yang memiliki penyimpangan seksual, jika orang awam melihat seluruh karyawan di perusahaan besar seperti ini hanya dipenuhi lelaki pasti memikirkan hal itu juga!'
Banyak sekali hal dibenak Bulan sampai tak sadar di sudah ada di depan pintu ruangan Hardan.
"Jaga bicaramu dan bersikap baik dan menurut lah, hari ini Pak Hardan sedang dalam suasana hati yang sangat buruk,"
Lucas memperingati Bulan agar Bulan berhati-hati dalam tutur kata dan sikapnya hari ini.
Bulan menelan salivanya kasar dan mengangguk, tiba-tiba saja dia menjadi takut.
"Tuan ... saya sudah datang ..." Bulan mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan pribadi super mewah itu.
Tetapi hal itu tidak penting lagi karena sekarang Bulan sudah berfokus kearah lelaki yang terlihat serius sekali dengan pekerjaannya.
Hardan melirik sebentar kearah Bulan dan melanjutkan membaca berkas.
Dengan nafas yang diatur agar tidak terlalu gugup, Bulan datang mendekat kearah Hardan William.
Sekarang wajahnya sudah merah sekali, karena setiap kali ia melihat Hardan maka bayangan saat pagi mereka melakukan hal nakal itu akan teringat oleh Bulan.
Ya, bagi Bulan itu sudah sangat nakal, padahal mereka hanya sekedar berpelukan saja.
Bulan sudah berdiri di hadapan meja Bulan sembari kedua tangannya di depan.
Tampilan Bulan sungguh sederhana sekali, mengenakan ransel biasa, jeans longgar dan kaos yang sopan, sama seperti mahasiswa para umumnya.
Hardan sudah menutup semua berkas yang baru saja ia baca, lalu ia menatap Bulan sembari berpangku tangan, menilai Bulan dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"Pakaian mu kumuh sekali, rambut mu berantakan, dan kau terlihat menyedihkan!"
Lagi dan lagi hal pertama yang diucapkan oleh Hardan adalah bagai penampilan biasa Bulan sangat kumuh di hadapannya.
"Haah!"
Bulan menghela nafasnya dalam-dalam, padahal ia sudah malu dan yang ia dengar hanyalah penghinaan.
Sepertinya hanya Bulan yang malu tentang kejadian tadi pagi.
"Tuan ... ada apa memanggilku kesini?"
Bulan mencoba tetap tenang, sama seperti saran sang assisten, dia tidak akan membantah dan membuat lelaki ini tersinggung.
Hardan melihat penuh selidik, dia seolah sudah tahu segala sesuatu yang menimpa Bulan hari ini.
Dan bagaimana kisah hidup Bulan yang sulit akibat ibu dan saudara tiri Bulan.
"Adakah yang kau inginkan? seperti misalnya bantuanku begitu ...." Hardan tentu saja tidak ingin Langsung membantu Bulan.
Bulan harus meminta tolong secara pribadi kepadanya barulah dia akan membantu gadis ini dari seluruh masalahnya.
Bulan melihat dengan kebingungan ketika Hardan menanyakan hal itu.
"Tidak ada Tuan ..." balas Bulan tidak mengerti mengapa Hardan menanyakan hal itu.
Bagi Bulan Hardan aneh sekali, tiba-tiba saja menanyakan mengenai apakah ia butuh bantuan.
.
__ADS_1
.
.