
Episode 38 : Ruby
***
Hardan yang sebenarnya dalam suasana hati kalut saat bangun sebab memimpikan mengenai Ibunya tadi malam, sebenarnya mencoba menenangkan dirinya hendak mencium dan memeluk Bulan.
Segalanya masih fresh di pikiran Hardan, mengenai adegan mimpi yang terasa nyata.
Dia menginginkan kenyamanan dari Bulan tetapi tadi malah mendapatkan penolakan, hal itu lah yang membuat Hardan pagi ini sedikit keras dan kasar.
Bahkan setelah pertanyaan Hardan itu, Bulan hanya diam saja, hanya suara nafasnya yang naik turun yang masih bisa dirasakan oleh Hardan sekarang.
"Dasar gadis keras kepala, kau masih sakit hati rupanya, mau diam saja ketika aku sudah bertanya pada mu,"
"Kau mau aku menghabisi mu di atas ranjang sekarang?"
Hardan memeluknya semakin kencang, mengangetkan Bulan yang tadi masih tenggelam dalam dirinya sendiri.
"Aku mau!"
"Aku mau!"
"Aku mau!"
Bulan sedikit berteriak kecil, dia mengatakan dia akan memeluk Hardan seperti yang Hardan inginkan, bahkan mengatakannya sampai tiga kali.
Bulan memang masih memiliki usia yang muda, jiwa pembangkang dan keras kepalanya bisa terasa dengan jelas sekali.
Tetapi hal itu malah memberikan sedikit hiburan kepada Hardan yang hidupnya sudah sangat bosan beberapa tahun ini.
"Hehe ... begitu dong, kenapa kau suka sekali sih menunggu aku sampai hampir marah,"
Hardan puas dengan jawaban Bulan, dan sekarang sudah melonggarkan dekapannya, Hardan tetap berada di sisi Bulan, berpangku tangan dan menatap Bulan dengan intens.
Jemarinya memainkan rambut Bulan yang panjang.
"Hari ini tidak usah kuliah ya, temani aku di sini, aku ingin menghabiskan waktu dengan mu seharian,"
Hardan masih tetap bermain dengan rambut Bulan, dan Bulan yang sudah tegang sebab dipandangi dengan intens seperti itu menatap kearah Hardan.
"Tuan, aku ini mahasiswa jalur beasiswa, dan kampus ku memiliki peraturan jika tidak boleh ijin secara tiba-tiba, tidak baik melanggar peraturan kampus apalagi membolos ..."
Bulan mencoba membujuk Hardan, dengan segala ucapan yang dijaga agar tidak membuat Hardan marah dan tersinggung.
"Aku akan mengurusnya untukmu, kau menurut saja, ingat ... jangan menolak!"
Hardan mengusap pipi Bulan, mencoba mengatakan nya lagi kepada gadis muda itu, jika penolakan bukanlah sebuah jawaban untuknya.
'Ya ... ya ... ya, terserah saja lah, kenapa pagi ini sangat menyebalkan sih, aku kehilangan ciuman pertama ku!'
'Dihina lelaki kejam ini, dan harus menuruti nya seperti budak!'
'Walau bisa dibilang aku memang pembantunya sih, tapi kan aku manusia juga!'
Bulan merasa pagi ini sangat menyebalkan, dia ingin hari ini cepat berlalu saja.
__ADS_1
Hardan terkekeh melihat ekspresi Bulan yang kelihatan kesal sekali namun terlihat sangat menggemaskan.
"Sayang ... kau menghina aku dalam hatimu kan?"
Hardan menyeringai, dia memancing Bulan agar panik, dan menunjukkan ekspresi yang lebih lucu lagi.
Dan sesuai dugaannya, Bulan melebarkan matanya dan wajahnya terkejut.
Matanya yang bulat dan mulutnya yang membisu bisa mengatakan jika memang benar jika gadis muda ini memang melawannya dalam hatinya.
"Tuan, apakah aku juga tidak boleh berbicara bebas dalam hatiku? apakah Tuan memiliki kemampuan untuk mendengarkan suara hatiku juga?"
Bulan sedikit panik, jika benar Hardan bisa mendengarkan suara hatinya maka habislah dia, karena dia telah menghina Hardan sepuasnya di dalam batinnya.
"Pffttt ... hahaha!"
"Tentu saja tidak, kenapa kau polos sekali sih?"
Hardan mengusap pipi Bulan lagi dan mencubit pipinya dengan lembut kemudian.
"Haahhh!"
"Syukurlah ..." seru Bulan lega sekali.
Pagi itu Hardan sudah merasa puas mengerjai Bulan, jadi dia bangkit untuk segera mandi.
"Sayang ... apakah kau mau mandi bersama ku? mandi berdua sangat menyenangkan loh ..."
Lagi dan lagi Hardan tetap membuat Bulan panik.
Wajahnya sudah merah sekali dan dia dengan sangat berat hari harus menggelengkan kepalanya.
"Tuan ... tolong jangan menggodaku lagi," Bulan langsung menutup matanya ketika melihat Hardan membuka bajunya.
Tetapi untung saja setelah beberapa saat, Bulan membuka matanya sudah tak ada Hardan disana, yang artinya Hardan benar-benar mengerjainya.
"Hah!"
"Hidupku seperti menaiki rollercoaster saja!"
"Kapan dia itu sembuh sih? aku ingin cepat-cepat bebas!"
Bulan beranjak dengan kesal, dia mengambil ranselnya yang ada di lemari dan mengambil ponselnya.
Disana sudah ada beberapa pesan di group kuliah, dari lelaki bernama Kevin dan dari seseorang yang langsung membuat Bulan marah tak karuan.
Bagaimana tidak, pesan yang membuat Bulan marah adalah pesan dari ibu tirinya.
"Bulan, Ibu mau berjumpa denganmu, katanya hendak membicarakan sesuatu, tolong datang ke rumah Minggu depan!"
Pesan itu datang dari saudari tirinya, Lisa.
"Berani-beraninya datang ke rumah ku lagi, awas saja ya! kali ini kalian tidak akan bebas dariku! lihat saja!"
Bulan benar-benar akan membuat mereka jera, Bulan sudah tahu apa yang akan ia lakukan, dia akan membalas kedua orang yang saat lalu ia anggap keluarga ternyata mengkhianati dirinya.
__ADS_1
***
Disaat yang bersamaan,
*Ckrek ... Ckrek ... Ckrek*
Ada suara flash kamera dimana-mana, seorang gadis yang merupakan seorang model terkenal tengah pulang saat usai menghadiri sebuah acara besar tahunan di negaranya.
"Nona Ruby, apakah benar anda sudah putus lagi dengan aktor A?"
"Nona Ruby, akan kah anda kembali bersama dengan mantan kekasih anda seperti sebelumnya?"
Para wartawan kelihatan mengerumuni nya, tetapi tentu saja dihalau oleh pengawal.
Ruby yang memang berparas cantik dan menawan hanya tersenyum saja, lalu memasuki mobil yang sudah menunggu nya.
Sesaat setelah berada dalam mobil.
"Sialan para wartawan itu! beraninya mengatakan aku berpacaran dengan aktor A!"
"Aku tidak Sudi berpacaran dengan aktor itu! semua ini karena permainan agensi! membuat emosi saja!"
Seperti biasa Ruby akan mengegrutu jika saja saat tak ada wartawan atau media meliput dirinya.
"Sabar saja Nona Ruby, ini semua demi meningkatkan nilai jual barang yang sedang kalian promosikan, sebentar lagi juga gosip itu akan mereda ..."
Manager Ruby yang selalu tanggap memberikan jawaban setenang mungkin agar Ruby tak semakin marah.
"Haah!"
Ruby menghela nafasnya panjang.
"Lalu bagaimana dengan yang aku katakan itu? apakah ada kesempatan aku bisa berjumpa dengannya?"
Ruby bertanya mengenai sesuatu yang ia minta selidiki saat lalu melalui managernya.
"Untuk itu kemungkinan bulan depan adalah upacara kematian Ayah dari Tuan Hardan William, menurut sumber yang aku dapatkan, Tuan Hardan akan pulang ke sini, jadi mungkin kau bertemu dengannya tahun ini,"
Manager nya memberikan informasi yang sudah ia selidiki atas permintaan Ruby.
Mendengar itu tentu saja Ruby bahagia sekali.
"Benarkah? baguslah, aku akan menjumpai nya bulan depan, ada beberapa hal yang belum selesai diantara kami dan masa lalu kami akan selalu terhubung ..."
Ruby membicarakan mengenai dirinya dan Hardan.
Dan Ruby akan menjumpainya bulan depan agar meluruskan segalanya.
.
.
.
.
__ADS_1