Hasrat Terindah Tuan Muda

Hasrat Terindah Tuan Muda
Episode 41 : Seperti di negeri dongeng.


__ADS_3

Episode 41 : Seperti di negeri dongeng.


***


Hanya dalam beberapa waktu, mereka sampai di tujuan, tempat itu ada di puncak gunung, dimana udara terasa sangat dingin disini.


Hujan masih deras bahkan tak memberikan sinar matahari kesempatan untuk mengintip lebih jelas.


"Tuan ... mengapa kita ke sini hujan-hujan begini? aku takut ..."


Bulan tak bisa menahan rasa penasaran nya lagi, dengan tangan masih memegang erat seat belt, dia melihat kearah Hardan dengan mata nya yang bulat dan imut.


Bulan mencoba bertanya sebentar apa tujuan Hardan membawa mereka kesini.


Hardan tersenyum menyeringai lalu membuka mobil, berlari sedikit mengambil payung di bagasi mobil.


"Tak!"


Pintu mobil di sisi Bulan sudah dibuka oleh Hardan dengan payung terbuka menyambut nya.


"Ikuti aku saja ..."


Dengan bersemangat Hardan menyodorkan tangannya agar diraih oleh Bulan.


Bulan meraih tangan kokoh lelaki itu, dan saat tangan mereka menggenggam satu sama lain, Hardan menarik Bulan agar ia dekap dan keduanya menempel satu sama lain.


"Ah ..."


Bulan berteriak sedikit karena tiba-tiba saja didekap oleh lelaki ini.


"Kita harus sedekat ini agar air hujan tak merembes ke kita ... ikuti aku saja, ada yang ingin aku lakukan bersama mu,"


Hardan mengajak Bukan melangkah, salah satu tangan menggenggam payung, salah satu lagi menggenggam bahu Bulan agar terus berdekatan dengannya.


Saat mereka melangkah, pepohonan rindang mereka lewati, mereka menaiki sebuah tangga yang sepertinya mengarah ke suatu tempat.


Di tengah ketakutannya, Bulan sepertinya tidak menyadari jika semakin mereka melangkah jauh semakin indah pandangan yang ia lihat.


Air hujan jatuh di sela-sela dedaunan, matahari yang terus berusaha mengintip dari awan hitam membuat celah cahaya rabun di bunga-bunga liar.


Akibat dedaunan pohon yang lebat, curah hujan yang turun tidak terlalu deras, hanya mengalir rintik-rintik.


Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah dilihat oleh Bulan secara langsung.


Seperti ada di negeri dongeng, mereka berjalan di sebuah tangga berlumut dengan pemandangan pepohonan dan bunga-bunga beraneka warna, suara burung-burung yang sepertinya kedinginan dan beberapa tupai yang bersembunyi di sarang pepohonan membuat tempat itu semakin terasa tidak nyata.

__ADS_1


Tanpa sadar Bulan terhipnotis oleh sihir alam yang menyapa nya, rasa takut tadi hilang sirna tak berbekas.


Matanya dibuat terpana oleh pemandangan spektakuler yang ia lewati.


Setelah mereka melangkah beberapa saat, Hardan terus menggenggam Bulan, berusaha memastikan Bulan tak akan tergelincir sebab Bulan sudah terlalu terhipnotis dengan alam.


Sampai ketika mereka sampai di ujung tangga.


Mereka sampai di sebuah tanah lapang, dimana di salah satu sisi ada rumah kaca yang sudah ditumbuhi tanaman bunga lebat, ruangan kaca itu seperti pintu menuju Narnia atau negeri dongeng yang hanya ada di cerita saja.


"Woah ..."


Mata Bulan melebar, mulutnya bahkan tak bisa menutup, dimana langka kakinya terus melangkah karena Hardan terus menuntunnya.


"Sayang ... akan ada yang lebih indah dari ini," seru Hardan mengajak Bulan memasuki rumah kaca yang dipenuhi tanaman bunga yang sepertinya sudah tidak terurus, namun semakin terlihat indah karena mereka bermekaran di segala penjuru.


"Duar!"


Seperti ada kembang api yang mekar dan seperti memasuki dunia lain, rumah kaca itu terlihat seperti tempat tinggal peri.


"Ini indah sekali, aku tidak tahu ada tempat seperti ini di puncak gunung ..."


Bulan tanpa sadar melepaskan diri dari Hardan, membiarkan tetesan hujan menetes di bahunya oleh rembesan air dari celah atap kaca yang sudah bocor disana-sini.


Di dalam rumah kaca itu, suara hujan terdengar sangat merdu, dan pemandangannya sangat luar biasa.


Dia menggenggam tangannya dan mengajak Bulan ke ujung rumah kaca, disana ada sebuah pintu di ujung, dan saat Hardan membuka kaca itu terlihatlah pemandangan kota dari atas.


Hujan membuat pemandangan jadi tertutup awan, tetapi hal itu menambah kesan fantasi.


Seolah Bulan dan Hardan tengah berdiri diatas awan, degan bunga indah di sekelilingnya.


"Ini indah sekali ... bagaimana Tuan tahu ada tempat seindah ini?"


Bulan masih berkaca-kaca melihat pemandangan di hadapannya, dia tak menyangka dalam hidupnya dia akan menemukan tempat seperti ini.


Hardan yang berada di sisi Bulan kemudian tersenyum, "Dulu saat aku kecil, tempat ini adalah tempatku, ayah dan ibu mengabiskan sore atau jika hujan, kami akan kesini untuk menikmati pemandangan,"


Hardan tersenyum dengan segala kenangan yang ada di dalam ingatannya, Bulan bisa menyadari jika ucapan Hardan barusan begitu dalam.


"Duar!"


Tiba-tiba saja terdengar suara petir yang sangat kuat, karena mereka ada di atas gunung membuat petir itu seperti ada di dekat mereka.


"Ah!"

__ADS_1


Bulan langsung menarik tangan Hardan dan bersembunyi di lengan kokohnya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Ketika Bulan menggenggam nya erat, Hardan merasakan ini lagi, jantungnya berpacu dan rasanya hangat dan nyaman.


Tidak seperti saat ia melihat gadis lain, sungguh ada sesuatu di diri Bulan yang membuat nya merasakan perasaan tak terjelaskan.


"Kau bilang tidak takut petir, kenapa kau bersembunyi sekarang?"


Sembari tersenyum lebar karena tak bisa menahan rasa bahagia dipeluk erat oleh Bulan, Hardan mencoba mengerjai Bulan.


"Aku tidak takut karena kita sedang di rumah tadi, sekarang kan berbeda, kita ada di atas gunung dan petir nya terasa dekat di telinga ... tentu saja aku takut, petir juga bisa menyambar dan melenyapkan kita ..."


Bulan menjawab dengan jujur dan dengan penjelasan logis yang ia punya.


"Ya sudah peluk aku saja, agar kau tidak takut ..." Hardan membisik, tersenyum menyeringai dan malah mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Mereka berdua berdiri di ujung rumah kaca, melihat pemandangan indah di hadapan keduanya.


"Mengenai ciuman pertama mu ..."


"Bisakah kita melakukan nya sekali lagi?"


Ucapan mengejutkan yang membuat Bulan terdiam membisu, Bulan menjadi salah tingkah, dia tidak menduga pertanyaan ini akan muncul.


Bulan tak tahu harus melakukan apa, yang ia bisa hanyalah semakin bersembunyi dalam lengan Hardan dan menunduk.


Kata-kata seperti ciuman bukanlah sebuah hal biasa bagi Bulan.


"Aku sudah meminta ijin, dan kau tahu kan tidak bisa menolak ..."


Hardan meraih kedua bahu Bulan, lalu membuatnya berdiri di hadapannya begitu dekat.


Setelah itu kedua tangannya melingkar di pinggang Bulan dan menariknya sehingga ia bisa memeluknya dengan sangat erat.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Bulan Rasanya seperti mau meledak, dia tidak tahu mengapa, akan tetapi suhu di sekitarnya menjadi semakin hangat, padahal suhu di puncak gunung apalagi tengah hujan harusnya dingin, tetapi dia merasakan suhu panas dan tiba-tiba saja mejadi gugup.


.


.


.

__ADS_1


.


Author : Yang nunggu Belenggu Hasrat Sang Mafia, besok sore Update yaa 🤍


__ADS_2