
Episode 50 : Aku tidak suka ditolak.
***
Di perusahaan Hardan William,
"Tok ... Tok ...Tok!"
"Tuan ... ini aku, Bulan ..."
Bulan membuka pintu setelah ia ketuk.
Saat ia masuk ke dalam ruangan itu, tangannya sudah ditarik oleh seseorang dan tubuhnya di dekap begitu erat.
Hardan yang sudah tahu jika Bulan sudah sampai memang segera datang ke depan ruangan dan mendekap Bulan dengan sangat erat.
"Tu ... Tuan," Bulan tanpa sadar memanggil Hardan dengan sebutan Tuan lagi, Bulan tak akan pernah terbiasa memanggil lelaki ini dengan sebutan sayang.
Hardan memejamkan matanya, dia sudah melepas jas dan hanya mengenakan kemeja putih, lengannya yang kokoh melingkar dan menutupi seluruh tubuh Bulan.
Bulan Seperti tenggelam dalam tubuh lelaki ini.
Bulan bisa merasakan getaran di tangan Hardan, sepertinya memang ada hal yang sedang terjadi kepada lelaki.
Sejak tadi, Hardan hanya diam saja, bisa di dengar oleh Bulan bagaimana nafas Hardan begitu berat dan terasa di tengkuk nya.
Bulan langsung mengerti ada sesuatu yang terjadi, tetapi tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Bulan terdiam mengikuti Hardan yang memeluknya dengan sangat erat, Bulan mengangkat tangannya dan mengusap pundak bidang Hardan.
"Semuanya baik-baik saja, tenanglah, aku ada disini," Bulan entah mengapa bisa mengerti perasaan Hardan.
Seolah perasaan Hardan sampai kepadanya, perasaan yang kosong dan kesepian.
Mungkin karena Bulan juga merasakan kesepian, dia langsung tahu dan menyadari rasa sakit lelaki ini.
Lelaki yang begitu arogan, menutupi segala kesepian dan rasa sakitnya dengan sikap possessive dan tak mau mengalah.
Ya, Bulan tahu semua itu.
Saat Hardan mendengar suara lembut wanita yang mengisi hari-harinya beberapa waktu belakangan, entah mengapa hatinya semakin ngilu.
Seolah Hardan merasa sudah memiliki seseorang yang bisa menampung segala deritanya, seolah Hardan bisa bercerita tentang segala kisah hidupnya kepada gadis ini.
***
Setelah beberapa waktu ...
Hardan sudah memeluk Bulan selama kurang lebih 30 menit, kaki Bulan sudah pegal namun ia diam saja karena tak mau mengganggu Hardan.
Hardan yang menyadari jika Bulan kelelahan mulai melepaskan Bulan dengan pelan, dia melihat dengan jelas wajah Bulan dari jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Apakah menurut mu aku bisa sembuh?"
Itu adalah pertanyaan yang pertama kali ditanyakan oleh Hardan kepada Bulan.
Mata Bulan melebar saat mendengar itu, entah mengapa Bulan tidak suka saat melihat lelaki ini terlihat lemah dan tak bersemangat Seperti biasanya.
Bulan langsung meraih tangan Hardan dan menggenggam nya dengan erat.
Nafas Bulan menjadi berat dan tanpa sadar ia mengingat ayahnya, ayahnya yang dulu sakit dan berharap bisa sembuh.
Entah mengapa pertanyaan Hardan ini terdengar begitu putus asa sampai membuat hati Bulan sampai ngilu.
"Tuan, aku yakin Tuan pasti sembuh ..."
"Dengan fakta bahwa aku bisa membuat mu tidak alergi, itu artinya lambat laun Tuan pasti tidak akan alergi lagi dengan gadis lain,"
"Aku yakin, Tuan pasti akan sembuh dalam waktu dekat, aku percaya akan hal itu,"
"Bukankah fungsi ku di sisimu juga adalah agar memastikan Tuan agar sembuh?"
"Jadi ... jangan bertanya pertanyaan seperti itu, karena aku akan memastikan dengan mata kepalaku sendiri, sampai Tuan sembuh ..."
Bulan sangat yakin dalam ucapannya, dia menggenggam tangan Hardan dengan sangat erat.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Hardan berdegup sangat kencang, dia bisa melihat kejujuran dan kesungguhan hati Bulan.
Saat mengatakan jika Bulan akan memastikan dia sembuh, seolah memberikan harapan yang sangat besar.
Mata Hardan segera melebar dan dia menggenggam tangan Bulan semakin erat.
"Lalu, bagaimana jika aku sudah sembuh?"
"Jika aku sudah sembuh? apakah kau akan langsung pergi?"
Dengan nada yang sedikit menekan dan terburu-buru, Hardan ingin mendengar jawaban Bulan.
Hardan ingin tahu, apakah Bulan akan meninggalkan dirinya seperti oranglain.
Bulan sedikit bingung dengan perubahan ekspresi Hardan, bingung juga dengan pertanyaan Hardan.
Padahal sudah jelas jika hubungan mereka walau sudah berstatus kekasih tetap saja berdasarkan kontrak, jika Hardan sudah sembuh maka Bulan harus pergi.
Sebab fungsi Bulan dalam hubungan ini hanyalah sebagai obat hidup semata.
"Tu ... Tuan, bukankah jawabannya sudah jelas?"
"Aku kan terikat dengan mu karena kontrak, jika Tuan sudah sembuh maka aku akan pergi sesuai kontrak,"
"Jika Tuan sudah sembuh juga nanti akan bertemu gadis yang layak untuk Tuan, aku yakin dengan hal itu ...."
__ADS_1
Bulan tersenyum mengatakan hal itu.
Memperlihatkan betapa Bulan sama sekali tidak menyukai Hardan William.
Entah mengapa ucapan Bulan dan harapannya membuat Hardan marah besar.
Hardan akhirnya menyadari, pada akhirnya Bulan juga akan meninggalkan dirinya sama seperti yang lain.
"Pergi?"
"Apakah kau pikir kau bisa pergi dariku?"
"Bulan, tidakkah kau sadar saat aku mencium mu di rumah kaca saat lalu, saat aku mengatakan hendak memastikan sesuatu, saat itu aku sedang memastikan perasaan ku kepadamu!"
"Dan saat itu aku yakin, aku suka kepadamu, aku menyukai mu, bukan hanya sebagai obat hidup, tetapi aku menyukai mu sebagai wanita!"
"Apakah kau tahu apa artinya?"
Hardan membisik, dia mengusap pipi Bulan, dan dia menyeringai.
Sekarang wajahnya ia dekatkan dan bibirnya tepat berada di sisi telinga Bulan.
Membuat Bulan entah mengapa merasakan tekanan dan hawa dingin memekik dari keberadaan Hardan yang semakin mendekapnya kencang sekali.
"Tuan ... tolong mundur sedikit, aku tidak bisa bernafas ..."
Bulan merasa sesak ketika Hardan memeluknya semakin kencang.
Tetapi bukannya menjawab pertanyaan Bulan, Hardan malah meraih dagu Bulan agar bisa berada tepat di hadapan wajahnya.
"Artinya adalah kau sudah tidak akan bisa lepas dariku lagi, aku tertarik kepadamu artinya kau harus tertarik juga kepadaku!"
"Aku tidak suka ditolak, aku juga tidak suka menunggu!"
"Jadi kau harus membuka hatimu untukku!"
"Dan, aku memperingati mu satu hal, jangan pernah membahas mengenai kau akan pergi setelah kontrak, sejak aku tertarik kepadamu, saat itu pula kontrak tak akan berlaku dan kau sudah terikat denganku selama nya!"
Ucapan Hardan yang sangat posesif lagi-lagi membuat Bulan sesak dan takut.
Lelaki ini sama sekali tidak tahu caranya berbicara dengan wanita, selalu memaksakan kehendaknya dan membuat Bulan takut.
Mendengar ucapan Hardan entah mengapa membuat Bulan ketakutan sekali, tubuhnya sampai dingin dan dia tak berani melihat mata tajam Hardan beberapa saat.
Rasanya seperti terikat kontrak dengan sesuatu yang mengerikan, Bulan Tak akan pernah tahu jika lelaki yang awalnya semena-mena dan sepertinya hanya mengganggap dia sebagai obat hidup, akan menyukai dirinya.
Dan bahkan mengatakan rasa sukanya dengan cara yang blak-blakan tanpa menutupi perasaannya sedikitpun.
.
.
__ADS_1
.
.