
Episode 30 : Kau hanya harus melindungi aku.
***
Hardan yang menyadari itu melihat dengan tajam dan sinis, tetapi mengingat kenangan buruk Bulan yang memang dijual oleh ibu tirinya membuat Hardan mengerti sikap waspada dari Bulan.
"Ehem ..."
Hardan lagi-lagi memecah keheningan, lalu ia mencoba menenangkan Bulan.
"Bar ini berbeda dari tempat yang kemarin, tenang saja kau akan baik-baik saja, kau hanya harus melindungi ku sampai urusanku usai, lalu setelah itu kita pulang, jadi kau tenang saja ..."
Dengan suara yang tegas dan yakin, ucapan Hardan kadang kala selalu memberikan rasa aman bagi Bulan.
Tetapi kadang juga takut dan waspada, lelaki yang sudah melangkah menuju luar lift yang terbuka itu sangat membingungkan.
Terkadang baik namun terkadang terlalu tegas sampai menakutkan.
"Apa yang kau lakukan? kau mau membantah aku lagi? cepat ikuti aku!"
Hardan yang sadar Bulan tidak mengikuti dirinya melihat kebelakang dengan wajah angkuh dan matanya yang tajam.
Meminta Bulan segera datang ke sisinya.
"Haih, inilah yang ku bicarakan, dia ini sepertinya memiliki banyak kepribadian!" gerutu Bulan pelan namun dia tetap tersenyum menghindari amarah dari Hardan
Bulan berlari mengikuti Hardan dan keduanya memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh sang assiten.
***
__ADS_1
Di sisi yang lain,
Lisa yang saat ini tinggal bersama ibunya di sebuah penthouse mewah yang disewa tengah mengadu dengan cengeng kepada ibunya.
"Ibu ... hari ini aku kesal sekali,"
Lisa manja sekali mengadu kepada ibunya yang baru saja berbelanja di pusat perbelanjaan.
"Ada apa? apakah uang jajan mu habis?"
Mona tengah melepaskan kaca mata mewahnya dan hendak membuka belanjaan yang baru ia beli hari ini.
"Tidak, hari ini aku bertemu dengan Bulan, dia mengancam ku di kampus dan mengatakan akan menghancurkan kita,"
"Dia membuat ku malu di hadapan lelaki yang aku suka, dia juga sepertinya benar-benar serius dengan ucapannya!"
Lisa menangis dan sebenarnya takut dengan ancaman Bulan, dia takut jika perilaku dirinya dan ibunya akan terbongkar dan dia akan kehilangan segalanya termasuk teman-temannya.
"KAU BERTEMU BULAN DI KAMPUS?"
Mona tentu syok sekali, padahal dia sudah menjual Bulan dengan harga yang mahal kepada Kakek tua, tidak mungkin Bulan bisa kuliah dalam waktu dekat.
Pasti ada yang tidak beres.
Mona akan mencari tahunya lebih dalam, dan dengan fakta jika Bulan sungguh berani mengancam putrinya berarti Bulan sepertinya sudah mendapatkan dukungan yang besar dari seseorang.
Saat Mona mencoba berpikir dengan keras, sebuah panggilan masuk kedalam ponsel nya.
Dan itu adalah dari agen yang menjual rumah peninggalan ayah Bulan.
__ADS_1
"Aha, apakah rumah itu sudah terjual? uang ku akan semakin banyak!"
Seolah lupa dengan ucapan putrinya barusan, Mona segera mengangkat panggilan itu dengan mata berbinar seolah apa yang ia perkirakan
akan benar-benar terjadi.
"Halo? apakah rumahnya sudah terjual?"
"Iya Nona Mona, maaf memberitahu mu malam-malam begini, akan tetapi tim saya baru saja memberikan informasi jika rumah itu tidak akan diperjual belikan, karena surat rumah itu bukan atas nama anda melainkan atas nama Bulan,"
"Jadi untuk keamanan bersama, saya dan tim tidak akan lagi menaruh rumah yang anda tawarkan di aplikasi kami, terimakasih."
Agen yang bertugas memperjual belikan rumah itu berbicara dengan tegas dan cepat, lalu mematikan panggilan itu.
Semua itu karena pihak Hardan William yang sudah mengancam agen jika berani menjual rumah itu maka agen itu akan bangkrut dan hancur.
Mona yang menerima informasi barusan yang mengatakan jika rumah tidak bisa dijual marah besar.
Hampir seluruh uang sudah hampir habis, apalagi mereka tinggal di penthouse dan dia suka berbelanja barang mewah, uang dari hasil penjualan rumah adalah satu-satunya penghasil uang dalam waktu dekat untuknya.
"Sialan, pasti ini semua karena si Bulan itu! kita harus menyiapkan rencana jika tidak kita akan menjadi gembel!"
Teriak Mona akan melakukan segala cara agar rumah itu di jual dan Bulan tunduk kepada mereka.
.
.
.
__ADS_1
.