
Episode 45 : Kehilangan kendali lagi!
***
“Sayang, mulutmu itu sangat pedas, begitu kah kau setiap hari memaki aku? Dengan menggunakan kata yang sangat kasar? Monster? Kau mengatakan jika aku monster?”
*Hardan sudah ada di hadapan Bulan sekarang*
Hardan mengusap wajah Bulan, menyentuh dagunya dan menghadapkan wajahnya ke depan wajahnya.
Hardan melihat wajah Bulan dengan leluasa, kali ini tidak ada senyuman sama sekali yang ada hanyalah sebuah ekspresi yang tidak mampu di baca oleh Bulan.
“Baiklah, akan aku tunjukkan bagaimana itu monster yang sebenarnya,” bisik Hardan lagi sepertinya sedang sangat serius.
“Ma … maaf ….” Bulan hendak meminta maaf, namun jemari Hardan langsung menghentikan mulut Bulan.
“Ssst, diam lah, sejak kapan permintaan maaf dengan kata-kata bisa memuaskan aku?”
“Sayang, tutup matamu dan julurkan lidahmu? Aku akan memberikan hukuman kepada mulutmu yang begitu kasar ini!” Hardan benar-benar serius, Bulan bisa tahu itu, nada suaranya sedikit merendah dan sedikit memekik.
Auranya menyeramkan, entah apa yang menyebabkan Hardan marah, apakah karena kata kasar itu atau karena Bulan pulang terlambat ataukan karena Bulan sama sekali tidak menunggu nya pulang.
Tangan Hardan turun ke tangan Bulan, barang bawaan nya yang merupakan goodie bag dan tasnya dijatuhkan oleh Hardan, dia menuntun Bulan sampai duduk di sofa.
Dan sekarang Bulan duduk di pangkuan Hardan dengan tubuhnya menghadap kearah Hardan, mereka sedang berhadapan sembari duduk.
“Kau tidak mendengar ku? Kau harus di hukum, haruskah aku mulai duluan? Jika aku yang mulai nanti kau akan menyesal, karena aku tidak akan berhenti sebelum aku puas,”
Ucap Hardan lagi menuntut Bulan untuk melakukan apa yang ia minta tadi.
'Sial! Habis lah aku, dia sungguh marah, dia memperlakukan aku sudah seperti wanita murahan lagi, aku harus bagaimana?,'
Bulan sudah ketakutan lagi, dia tidak bisa menolak.
Dia kemudian memejamkan matanya, lalu mengulurkan lidahnya dengan perasaan yang sangat malu.
'Memalukan, ini sangat memalukan, aku ingin membenturkan diriku sendiri saja ke tembok itu, semoga besok aku lupa ingatan mengenai ini!' Bulan sangat berharap waktu agar cepat berlalu, dia ingin semuanya berlalu dan ia melupakan hal ini.
Melihat itu, Hardan kemudian tersenyum puas, dia mengusap pipi Bulan dan berbisik lagi,
“Bagus, harus seperti ini, kau harus tahu siapa dirimu, kau terikat kontrak denganku, artinya semua yang ada pada dirimu adalah milikku, jadi jangan pernah aku melihatmu mengumpat tentang aku lagi, paham kan sayang?”
__ADS_1
Ucapan itu terdengar seperti suara iblis, yang membuat Bulan menangis saja tidak berani.
Saat Bulan memejamkan matanya, dia sudah bisa merasakan jika Hardan sudah mendekat dan mencium nya dengan sangat menuntut.
***
Saat Bulan memejamkan matanya, dia sudah bisa merasakan jika Hardan sudah mendekat dan mencium nya dengan sangat menuntut.
Ciuman itu terasa semakin panas, ini sama seperti sebelumnya yang mereka ada di puncak gunung, yang ini terlihat seperti Hardan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Lumaatan itu semakin kencang dan buas, Hardan tidak menahan dirinya seperti biasanya, hal itu membuat Bulan kewalahan bahkan sulit untuk menarik nafas.
Suhu udara semakin panas, entah kenapa Bulan merasakan hal yang sama, dia merasa jika tubuhnya ikut merasakan panas dan merespon apa yang dilakukan oleh Hardan.
'Ciuman Seperti ini lagi? Kenapa begitu buas tetapi memabukkan?' benak Bulan sama sekali tidak bisa mendorong ataupun melepaskan dirinya dari cengkeraman Hardan.
Sedangkan Hardan yang sama sekali tidak menahan diri ini kebingungan dengan dirinya sendiri, “Kenapa aku marah sekali? Apa karena dia terlambat pulang atau karena dia sama sekali tidak menyukai aku, sebenarnya bagaimana caranya meluluhkan hati gadis ini?” pertanyaan demi pertanyaan membuat Hardan semakin kesal.
Bayangannya yang sudah berlebihan itu membuatnya lupa diri dan tidak manahan aksi buasnya lagi.
Dia menarik baju Bulan, sedikitpun Bulan tidak bisa mempertahankan bajunya, tenaganya terlalu kecil untuk menahan itu.
Nafas Hardan terasa sangat panas berhembus di kulit Bulan, Hardan mendekap Bulan dan wajahnya tepat berada di depan buah dada Bulan.
Tanpa menunggu lama, Hardan bermain dengan buah dada Bulan membuat Bulan mendesis merasa geli, malu dan bingung.
“Sayang, aku mau kamu, aku sudah tidak bisa menunggu,” akhirnya ucapan itu keluar membuat Bulan panik, dia tidak bisa, melakukan hal itu hanya boleh saat sudah menikah, Bulan tidak mau tahu, dia harus bisa menghentikan lelaki ini.
Hardan menggendong Bulan, meletakan di kursi sofa dan ia memandangi tubuh Bulan, matanya begitu tajam seperti elang yang sedang memilih mangsa mana yang mau ia santap.
“Tu ... Tuan, tolong jangan, aku belum siap,” Bulan memohon, dia mendorong Hardan tetapi nampaknya Hardan seperti tidak mendengarkan.
Hardan membuka pakaian atasnya dan dia kembali datang ke tubuh Bulan, dia mendekapnya dan sekali lagi memberikan ciuman panas kepada Bulan.
Malam ini Hardan terlihat sungguh menyeramkan dan disaat yang sama dia memang sedang kehilangan kendali atas dirinya.
Dia merengkuh tubuh Bulan mengangkatnya hanya dengan tangannya dan membuatnya seperti miliknya, dia suka bermain di buah dada Bulan jadi dia bertahan berlama-lama disana.
“Tuan, tolong hentikan, aku mohon, Tuan!” Bulan yang sudah tidak tahan mencoba menangis lebih keras, dia berteriak agar Hardan Graham bisa mendengarnya.
Saat itulah Hardan sadar jika dia sudah berlebihan malam ini, dia langsung terdiam namun sesuatu sudah bangkit sedari tadi dalam dirinya. Tetapi dia juga tidak ingin mengambil kesucian Bulan begitu cepat, jadi dia harus menahannya.
__ADS_1
“Tu … Tuan?” Bulan mencoba memanggil Hardan lagi.
“Hah!”
Hardan mengembuskan nafasnya dengan kuat, hal itu membuat Bulan merasa sangat geli, karena nafas Hardan bersentuhan langsung dengan buah dadanya.
“Diamlah, kau berisik sekali, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar, aku lelah sekali hari ini, jangan mencoba bergerak jika tidak ingin aku melakukan hal yang tidak kau mau!” ketus Hardan sudah kembali sadar.
Tetapi wajahnya masih ia benamkan dalam buah dada Bulan, dia memejamkan matanya dan mendekap tubuh Bulan erat sekali.
Bulan hanya mengangguk, seberapa malu pun ia sekarang, tetapi jika Hardan sungguh tidak akan melakukannya maka Bulan sudah bersyukur akan itu.
'Urat maluku, kau harus putus dulu dari nadiku, tolong jangan pernah kembali lagi, huhu!' Bulan hanya bisa menahan nafasnya, dia tegang sekali, disaat Hardan merasa nyaman dan suka, disaat itulah penderitaan bagi Bulan.
Sungguh hal ini baru pertama kalinya ia rasakan, dan hal itu sungguh membuatnya tidak nyaman dan juga malu disaat yang bersamaan.
Setelah beberapa saat ….
“Pakai bajumu, dan masakkan aku makanan, aku mau mandi dulu!” Hardan tidak melihat kearah Bulan lagi, dia sedang menenangkan pikiran dan dirinya, bisa-bisanya dia kehilangan akal sehatnya barusan.
“Apa yang aku lakukan sih? Apa karena tadi dia di goda lelaki atau karena dia pulang terlambat atau karena hal lain? Ah, masa bodoh lah, kepalaku semakin pusing dibuatnya!” ketus Hardan segera masuk ke kamar mandi dan mandi dengan air dingin untuk mendinginkan kepalanya.
Sedangkan Bulan, dia tidak mau tahu, dia langsung memakai pakaiannya kembali dan mengatur pernafasannya, tubuhnya masih bergetar dengan hebat, apalagi tangannya, barusan dia takut sekali melihat Hardan, entah bagaimana reaksi Hardan nanti jika suatu saat dia melihat dirinya bersama lelaki lain.
Bulan segera membuyarkan angan angan gilanya, dia menggelengkan kepalanya dan segera bangkit.
“Ayo kita masak Bulan, yang penting kau selamat dulu!” ketus Bulan menyemangati dirinya sendiri.
Dia sama sekali tidak ingin mengingat apa yang sebenarnya baru saja terjadi, kejadian barusan sungguh memalukan dan seolah menunjukkan identitas nya yang merupakan seorang wanita simpanan.
Tanpa menungguh waktu lama, Bulan segera pergi ke dapur dan memasak, dia fokus melakukan apa yang sedang ia lakukan, sedangkan Hardan fokus melakukan pelepasannya sendirian di kamar mandi.
“Hah! Sejak kapan aku seperti ini! bahkan saat aku tak bersama gadis selama bertahun-tahun aku tak begini, karena gadis itu aku selalu kehilangan kendali ku!” geram Hardan merasa malu pada dirinya sendiri karena melakukannya sendiri di dalam kamar mandi.
***
Di sisi lain,
Esok hari, Mona sudah mempersiapkan sesuatu kepada Bulan.
Bagaimana caranya agar Bulan menyerahkan rumah milik Ayah Bulan kepadanya.
__ADS_1
Mona membutuhkan uang hasil penjualan rumah demi mengimbangi hidup sosialita yang ia jalani sekarang.