Hasrat Terindah Tuan Muda

Hasrat Terindah Tuan Muda
Episode 93 : Hanyalah kesalahan biasa.


__ADS_3

Episode 93 : Hanyalah kesalahan biasa.


***


Akan tetapi sebelum akhirnya sampai ke parkiran mobil, Hardan bertemu seseorang yang juga sepertinya hendak mengunjungi makam Ayahnya.


Mata Hardan menjadi sangat tajam dan kemarahan dalam hatinya menggebu-gebu tak karuan.


"Hardan ..." Dengan ekspresi sedih dan linangan air mata, Hera juga datang ke makam itu bersama putra keduanya, Glen.


"Akhirnya kau pulang Nak, Ibu rindu sekali kepadamu ..." Hera menangis lalu melangkah semakin mendekat.


Bulan bisa merasakan tekanan genggaman tangan Hardan semakin kencang ketika melihat Ibunya datang mendekat.


"Jangan mendekat! kenapa Ibu datang kesini? apa untuk menarik simpatik?"


"Agar Ibu terlihat tidak berdosa?"


"Menjijikkan! jangan pernah mengunjungi makam Ayahku, Ibu tidak pantas, selamanya tidak pantas!"


"Jadi sebelum aku benar-benar berada diluar kendali ku, cepatlah pergi sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak!"


Hardan sungguh tidak bercanda, matanya tajam sekali dan dia sangat marah.


Selamanya Hardan tidak akan memaafkan Ibunya apapun yang terjadi.


Bagi Hardan, Ibunya adalah manusia paling kejam yang ada di dunia ini.


"Hardan, maafkan Ibu, Nak ... Ibu tahu Ibu salah, tapi itu hanyalah masa lalu, biarkan kita lupakan saja ya, Ibu tidak ingin bermusuhan dengan mu ..."

__ADS_1


"Ibu juga manusia pasti memiliki salah, jadi tolong lupakan semuanya ..."


Hera tetap mencoba mendekati Hardan.


Mengatakan jika kejadian yang membuat putranya sampai trauma dan menderita penyakit psikologis hanyalah masa lalu, dan itu hanyalah kesalahan manusia biasa.


Hardan benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Ibunya, sampai-sampai tubuh Hardan bergetar hebat karena semakin terluka.


Wajahnya menjadi pucat dan kemarahan dalam dirinya semakin memuncak.


Dia tidak menyangka Hera tega mengatakan itu, padahal dia sudah mengundurkan batin putranya sendiri.


"Masa lalu? kesalahan manusia biasa?"


"Ibu ... apakah Ibu tahu apa yang Ibu lakukan kepadaku?"


"Aku kesepian bahkan sampai harus mengkonsumsi banyak obat yang mengganggu kesehatan ku karena penyakit OCD ku!"


"Dan Ayahku, Ayahku meninggal dengan hati yang terkoyak karena mu! dan Ibu mengatakan semua hanyalah kesalahan biasa, Ibu mengatakan aku harus melupakannya?"


"Apakah Ibu tidak ingat apa yang Ibu lakukan dengan lelaki biadab itu di kamar ku?"


"Ibu tahu kan saat itu aku bersembunyi di lemari? menutup telinga ku agar tidak mendengar apa yang kalian berdua lakukan?"


"MENJIJIKKAN! MENJIJIKKAN! AKU JIJIK!"


"DAN IBU MENGATAKAN UNTUK MELUPAKAN SEMUANYA! AKU TIDAK TERIMA!"


"Pergi dari hadapan ku sekarang juga! atau aku akan menyingkirkan kalian semua, kalian semua akan binasa jika saja kalian mendekati makam Ayahku!"

__ADS_1


"Satupun diantara kalian tidak ada yang pantas!"


Tubuh Hardan sungguh gemetaran sekali, dia marah tetapi dia masih menahan dirinya dan tahu batasan karena walau bagaimanapun Hera adalah Ibunya.


Hera yang mendengar semua ancaman dari Hardan terkejut sekali, dia ketakutan dan menangis.


Dia sama sekali tidak merasa bersalah dengan kekejian yang ia lakukan, yang membuat Hardan jijik dengannya dan akhirnya jijik dengan semua wanita.


Karena saat itu, sosok wanita di mata Hardan adalah Ibunya jadi Hardan merasa jika semua wanita sama-sama menjijikkan Seperti Ibunya.


Entah apa yang terjadi di masa lalu, akan tetapi hal itu menorehkan luka yang tidak akan pernah sembuh di hati Hardan.


"Hardan ... tolong lupakan semuanya! Ibu tahu Ibu bersalah dan ..."


Hera berteriak dan sedikit kesal, dia kesal karena Hardan selalu mengungkit kesalahan yang ada di masa lalu.


Akan tetapi belum sempat Hera melanjutkan ucapannya, Bulan yang entah mengapa langsung mengerti apa yang telah menyebabkan trauma kekasihnya langsung berdiri di hadapan Hardan.


"Jangan berteriak di hadapan kekasihku! jangan mencoba mendekat, karena dia alergi terhadap wanita seperti mu!"


"Aku mungkin terdengar tidak sopan! tetapi sebagai seorang Ibu, tidakkah kau merasa gagal? apakah kau pernah merasa di hatimu sedikit saja mengenai putramu?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2