
Episode 56 : Pertarungan bantal.
***
Jika hujan tidak datang mungkin mereka tidak akan bercerita sepanjang ini, tertawa bersama dan bahkan melempar bantal satu sama lain.
Bagi sebagian orang hujan bisa saja sangat mengesalkan tetapi hujan juga datang untuk menghangatkan banyak orang, agar menghabiskan waktu di ruangan sempit dan menjalin hubungan menjadi semakin dekat.
Segala sesuatu di dunia ini memiliki tujuan masing-masing, begitulah setidaknya pemikiran Bulan ketika ia kesal saat tahu akan turun hujan, namun sekarang merasa tidak buruk juga melihat hujan turun di luar.
Ini adalah kali pertama dia bisa tertawa semenjak ayahnya tiada, kali pertama dia tidak takut kehilangan apapun, kali pertama dia tidak memikirkan banyak hal, seperti uang, pendidikan dan masa depannya.
Di dekat lelaki ini, dia merasa aman dan terlindungi, dia tidak memikirkan apapun yang membuatnya sakit kepala.
Begitu juga dengan Hardan, ini juga adalah kali pertama dia bisa menikmati hidup ketika dia didiagnosa mengidap OCD yang terbilang cukup langka, OCD akan alergi wanita.
"Haahh!"
"Cukup ... cukup, aku lelah ..."
Bulan sudah lelah sekali, sejak tadi mereka bermain lempar bantal yang ada di ranjang, bahkan bulu isian bantal sampai keluar semua dan keduanya seperti berbaring diatas salju.
__ADS_1
"Haaah!"
Hardan juga menghentikan aksinya yang sejak tadi tidak mau kalah melempar bantal kearah Bulan.
Hardan seperti anak remaja yang baru metasakan permainan asyik ini, segala nya sangat baru untuknya.
"Sayang ... sepertinya hujan tidak akan reda, sudah malam juga ... padahal aku menyiapkan banyak kejutan malam ini, semuanya jadi kacau!"
Hardan mengomel sendiri, dia berbaring sembari menatap kearah Bulan yang nafasnya sudah naik turun akibat permainan bantal mereka.
"Tidak apa, hanya begini saja aku sudah senang, kita bermain bersama dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang itu sudah cukup untukku ..." Bulan masih lelah, dia melihat ke sisi nya dimana dinding kaca memperlihatkan pemandangan malam yang diguyur hujan.
Entah mengapa hujan kali ini tidak terasa dingin, melainkan hangat dan menyenangkan.
Hardan memerhatikan wajah pacarnya, dimana wajahnya sangat cantik dan manis, bibirnya yang merah itu selalu saja menggodanya dan membuatnya ingi. melahapnya secepatnya.
Hardan melihat keluar tengah hujan dan posisi mereka sangat memungkinkan untuk melakukan hal hal nakal.
Bagaimanapun, jika si sisi Bulan maka Hardan hanya akan memikirkan hal nakal, bagaimana mereka akan melakukan hal nakal itu dengan sangat bergairah.
"Sayang ..." Hardan sudah membisik dengan senyuman nakal dan matanya yang tajam.
__ADS_1
"Hmmm?"
Bulan yang terlena dengan hujan yang membunyikan suara yang membuat mengantuk menjawab panggilan Hardan tanpa menoleh kearah Hardan.
"Lihat kesini ... kenapa kau melihat hujan tetapi tidak melihat aku?" gerutu Hardan merasa cemburu kepada hujan yang diluar, bagaimana hujan itu lebih menarik perhatian Bulan ketimbang dirinya.
Bulan menghela nafasnya, dia merasa rasa cemburu Hardan terlalu berlebihan, seluruh sikap yang ia miliki semuanya berlebihan.
"Ada apa sa ...." belum sempat Bulan melanjutkan ucapannya, saat ia menolah kearah Hardan matanya langsung melebar ketika sekarang wajahnya sudah dekat sekali dengannya.
Hanya sekita beberapa centimeter lagi mereka sudah akan berciuman.
Nafas hangat keduanya seolah menyatu, dan senyuman nakal Hardan yang memang sengaja melakukan itu tak bisa terelakkan oleh Bulan.
Bulan hendak mundur dan menjauh, sebab baginya momen ini sangat intim dan terlalu dekat.
Tetapi tentu saja, tangan kokoh Hardan sudah terlebih dahulu mengunci pergerakan Bulan.
.
.
__ADS_1
.
.