Hasrat Terindah Tuan Muda

Hasrat Terindah Tuan Muda
Episode 85 : Mau mandi bersama?


__ADS_3

Episode 85 : Mau mandi bersama?


***


Setelah mendengar alasan itu, Hardan mencengkeram tangannya, dia menghela nafasnya dalam seolah menahan amarahnya.


Namun ia harus tetap tenang dan menahan emosi, dia harus melakukan semua rencananya dengan bersih.


"Iya Pak Sam, tidak apa ... aku tunggu mobilnya ya," seru Hardan memang memiliki rasa hormat kepada Pak Sam.


Sebab Pak Sam sudah menjadi kepala pelayan di mansion ini sejak ia kecil.


"Baik Tuan Hardan ..." balas Sam, lalu keduanya mematikan panggilan itu.


Setelah panggilan itu, Hardan melihat jika Ibunya juga tengah menelepon dirinya.


Melihat nama Ibunya ada di layar ponsel semakin memperburuk suasana hati Hardan, oleh karena itu, dia langsung mematikan ponselnya.


Hardan kembali duduk di atas ranjang, mereka belum memakan apapun sejak tadi, jadi dia harus memaksa Bulan untuk bangun agar mereka pergi makan.


Malam ini ada tempat yang ingin dikunjungi oleh Hardan bersama kekasihnya.


"Sayang ... bangunlah, ayo kita pergi makan ..." bisik Hardan mengusap rambut Bulan, mencoba membangunkan Bulan dengan cara yang lembut.


Tetapi pilihannya salah, Bulan sama sekali tidak bergeming.


Jadi, Hardan mencoba cara yang sedikit keras, Hardan mencubit pelan pipi Bulan, memainkan bibirnya dan mencoba menggoyangkan bahunya.

__ADS_1


"Sayang, ayo bangun ..." seru Hardan ketika itu Bulan baru bisa membuka matanya secara perlahan.


"Ada apa?" serunya masih dengan suara yang parau, sembari mengusap-usap matanya.


"Ayo bangun, kita harus pergi makan ..." seru Hardan menarik tangan Bulan agar duduk.


Saat Hardan membahas mengenai makanan, perut Bulan langsung berbunyi tandanya dia memang sudah lapar sekali.


"Ah aku lapar, tapi aku harus mandi dulu sebentar, aku tidak mau terlihat jelek ketika di negeri orang ... sebentar ya ..." Bulan yang masih menyipitkan salah satu matanya karena bangun, langsung bangkit dari ranjang.


Ketika Bulan hendak pergi, Hardan menahan tangannya.


"Mau mandi bersama?" goda Hardan tersenyum sangat nakal.


Bagaimana pun, sejak tadi Bulan sudah tak mengenakan bra sehingga bajunya bisa menjiplak segalanya.


Bulan langsung melebarkan matanya, dan berlari ke kamar mandi.


"Ck ... tidak mau!" serunya sembari berlari karena malu sekali.


Ketika Bulan sudah sampai di dalam kamar mandi, Hardan langsung berpangku tangan dengan pipinya yang masih merona.


"Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi! aku harus segera menyelesaikan urusanku dan menghukum Louise! dan setelah itu aku akan langsung melamar dan menikahinya!"


"Ini benar-benar sudah diambang batas!" gerutunya melihat ke arah bawahnya dimana dia benar-benar telah berada dipuncak gairahnya.


"Ah, sepertinya aku juga harus segera mandi air dingin!" gerutunya segera bangkit lagi.

__ADS_1


Sebab ada sesuatu yang harus ia tenangkan, dan hal itu sebenarnya sedikit menyiksanya.


***


Di kediaman Louise,


Sejak tadi Hera sudah mencoba menghubungi anaknya yang sudah sampai di negera itu.


Ketika mencoba menghubungi beberapa kali dan ponselnya tak bisa dihubungi lagi membuat Hera sedikit panik.


Dia khawatir jika ucapan Louise semuanya benar, jika Hardan datang kesini bukan hanya untuk mengunjungi makam ayahnya, akan tetapi untuk menghancurkan mereka.


Karena dahulu telah melakukan dosa yang paling besar di hadapan Hardan.


"Maafkan aku Hardan, tetapi sekarang aku sudah memiliki suami dan putra, aku benar-benar tidak bisa membiarkan mu menghancurkan kami ..." seru Hera benar-benar jahat.


Dia sama sekali tidak pernah merasa kasihan kepada Hardan, padahal Hardan sampai menderita penyakit psikologis juga semuanya karena dirinya, ibu kandung Hardan sendiri.


Pepatah itu memang benar, tidak semua wanita bisa menjadi Ibu yang baik.


.


.


.


.

__ADS_1


Masih ada empat episode lagi nyusul, ditunggu yaa ❤️


__ADS_2