
Episode 40 : Membawa mu ke suatu tempat.
***
*Terdengar suara gemuruh dari luar*
" Baru saja Tuan mengatakan apa? Tuan mau menambah makanan?"
Bulan tidak mendengar permintaan maaf Hardan karena suara gemuruh di luar.
Ucapan Bulan barusan membuat Hardan malu sekali, dia untuk pertama kalinya meminta maaf malah tak didengar, tentu saja Hardan tak akan mengatakannya lagi.
"Aku tidak mengatakan apapun, aku sudah kenyang sekarang giliran mu yang makan!"
Jika Hardan malu, dia akan meninggikan suaranya dan sedikit menekan, tetapi pipi dan daun telinganya akan memerah.
"Kalau begitu baik Tuan, aku juga sudah lapar, aku makan dulu ..."
Bulan menuruti ucapan Hardan, Bulan menikmati makanan yang ia masak sendiri dengan lahap.
Bulan kelihatan lahap sekali, pipinya sampai mengembung karena makanan yang ia kunyah.
Bulan sudah seperti chipmunk sekarang.
Hardan tetap menatap kearah Bulan yang berada tepat di sisinya.
Sembari berpangku tangan, matanya yang tajam itu terus saja menatap bibir Bulan yang menyentuh makanan.
Suara hujan mulai terdengar, waktu seolah berjalan melambat.
Matahari kelihatan bersembunyi di awan awan gelap, suasana mendung dan hujan yang semakin deras, Hardan dan Bulan makan bersama di ruangan dapur yang langsung memperlihatkan halaman belakang yang luas.
Udara sedikit dingin namun terasa hangat karena keduanya berdekatan.
"Kau tidak takut petir?"
Hardan bertanya masih dengan posisi yang sama, berpangku tangan dan menatap Bulan dengan sangat lekat.
Bulan masih mengunyah makanannya, dia menelan makanan dengan hati-hati lalu minum terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Hardan.
"Aku tidak takut petir, apakah Tuan tahu petir itu sebenarnya adalah sahabat bumi, dia terdengar sangat galak dan bersinar sangat terang, membuat kita terkadang takut ..."
"Akan tetapi petir itu menghasilkan nitrat yang dibawa oleh hujan dan itu bagus untuk tumbuhan, juga menghasilkan ozon untuk melindungi bumi dari sinar matahari,"
"Jadi ... aku tidak pernah takut dengan hal itu, tidak seharusnya kita takut dengan segala hal yang terdengar kuat, terlihat menyeramkan, segala sesuatu pasti memiliki tujuan bukan?"
Bulan memang merupakan gadis yang pintar, tidak menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihat oleh mata saja.
Biasanya gadis sesuainya pasti akan takut mendengar petir atau tidak suka melihat hujan turun.
Tetapi Bulan, dia tidak takut akan itu semua karena Bulan tahu segala sesuatu pasti ada tujuannya.
Hardan tersenyum mendengar penjelasan Bulan, pantas saja Bulan bisa mendapatkan beasiswa, kelihatan dari penjelasan nya barusan jika Bulan memang suka membaca dan memiliki pengetahuan yang luas.
__ADS_1
"Bagus ... kalau begitu ada hal yang ingin aku lakukan denganmu, selesai kau makan dulu pastinya ..."
Hardan langsung bersemangat sekali.
Ada hal yang ingin ia lakukan bersama Bulan, sudah lama sekali Hardan terkunci di dalam mansion nya, tidak pernah bersosialisasi kecuali dengan Lucas.
Jadi mulai hari ini mungkin dia akan menikmati hidupnya sebentar saja, dengan adanya gadis penyembuh di sisinya ini dia ingin melakukan segala hal yang ia suka.
Bulan penasaran apa yang hendak dilakukan lelaki yang memiliki kepribadian aneh ini, tetapi Bulan sudah meyakinkan dirinya bahwa ia harus menuruti Hardan demi menghindari masalah.
"Baik Tuan, aku akan menemanimu ..."
Bulan lagi dan lagi menahan dengan enteng nya, ucapan menemani dengan senyuman ceria, dan terdengar sangat tulus membuat Hardan berdebar-debar lagi.
"Tentu saja kau harus menemani ku, kau kan memang tak bisa menolak!"
Hardan berbicara sedikit ketus namun itu semua tentu saja karena tanpa sadar Hardan merasa malu dan jantungnya berdebar-debar tak karuan.
***
Setelah beberapa saat ...
Bulan sudah selesai makan, dia membereskan segala alat makan Yang ada di atas meja.
Dimana Hardan sejak tadi terus saja menatap nya dengan mata tajamnya.
Membuat Bulan sebenarnya sudah bertanya-tanya dalam hati.
'Apa sebenarnya yang mau kami lakukan?'
'Tenang Bulan, berpura-pura saja semuanya baik-baik saja! tidak mungkin dia akan melakukan hal nakal kan?'
Bulan berusaha keras untuk tenang dan tak memikirkan hal hal nakal.
"Sudah selesai?"
Hardan bangkit dan menggenggam tangan Bulan, hendak mengajak Bulan kesuatu tempat.
"Tuan, aku belum mandi ... bisakah tunggu aku mandi dulu ..."
Bulan menghentikan langkah Hardan, dia baru saja ingat jika dia belum mandi sejak pagi karena memasak.
Hardan melihat kearah Bulan, lalu matanya menajam, dia kemudian tersenyum.
"Tidak usah, nanti saja mandi nya, lagian juga kita akan basah disana ..."
Hardan William tersenyum sangat nakal, dia langsung merangkul Bulan di tangannya dan melangkah dengan pasti.
"Ba ... basah? Tuan ... apakah Tuan akan melakukan hal aneh?"
Bulan langsung menutupi tubuhnya menggunakan kedua tangannya.
Tetapi Hardan tak menjawab pertanyaan Bulan, Hardan hanya diam saja sembari tersenyum nakal.
__ADS_1
'Aaaaaa ... bagaimana bisa aku mempertahan kesabaran ini! aku bahkan tidak tahu apa yang tengah menantiku!'
Bulan berteriak dalam hatinya, dia tak memiliki kuasa untuk menolak.
...
Rasa khawatir Bulan semakin menggebu-gebu ketika mereka ternyata menaiki sebuah mobil.
Hardan tersenyum lepas dan mengemudikan sendiri mobilnya di tengah hujan yang semakin deras.
Dari pemandangan yang mereka lalui di jalanan, nampaknya mereka menuju puncak gunung, dimana hal itu semakin memberikan kesan horor dan menegangkan bagi Bulan.
Segala pikiran yang tidak-tidak tengah merajalela di dalam pikiran nya.
'Tidak mungkin kan Tuan Hardan akan melenyapkan aku di gunung untuk menghilangkan jejak!'
'Apakah tadi pagi dia masih marah sehingga dia akan menghabisi ku seperti di film thriller itu?'
'TIDAAAKKKK!'
Bulan mengencangkan tangannya di seat belt, dia semakin takut dan terus saja melirik ke arah Hardan yang tengah menyeringai sembari tersenyum menyeringai.
'Ho ho ho, gadis kecil ini rupanya sudah jatuh cinta kepadaku,'
'Karena ketampanan ku dia terus melirik kesini, ah ... sepertinya perjalanan ku bersama nya akan diwarnai dengan gairah membara! HA HA HA!'
Berbeda dengan Bulan yang merasa Hardan akan melenyapkan Bulan di gunung, sekarang Hardan malah menangkap sinyal yang berbeda dari tatapan Bulan yang terus mengarah kepadanya.
***
Di saat yang sama di perusahaan Hardan William,
"Pasti Bos ku sedang sakit, sebentar lagi aku akan menyelesaikan pekerjaan Bos, aku akan menjenguk mu, aku assisten terbaikmu akan selalu mendukung dan menemani mu!"
Lucas tengah sedih sembari melihat hujan dari dalam ruangannya.
Dia merasa sedih karena Bos nya sakit.
Lucas belum tahu jika sekarang Bos nya sudah segar bugar karena Bulan.
.
.
.
.
Author :
Hallo, aku mau kasih tahu lagi ya jika novel ini berbeda dari novel ku yang dark romance, ini novel sederhana yang romantis.
Beberapa pembaca baru banyak langsung komentar jika novel ini sangat umum, tidak seru karena menampilkan kekasih masa lalu dari pemeran utama 😌
__ADS_1
Tetapi para pembaca setia pasti sudah tahu jika aku adalah author yang tidak suka pelakor, jadi pelakor tidak akan mendapatkan peran penting atau menang 😌
Tetapi saya sadar kok tidak bisa memuaskan semua orang yang membaca karya ku, maaf ya jika masih banyak kekurangan 🤍