
Episode 46 : Sandaran Hidup.
***
Di kediaman Hardan,
Tanpa menungguh waktu lama, Bulan segera pergi ke dapur dan memasak, dia fokus melakukan apa yang sedang ia lakukan, sedangkan Hardan fokus melakukan pelepasannya sendirian di kamar mandi.
“Hah! Sejak kapan aku seperti ini! bahkan saat aku tak bersama gadis selama bertahun-tahun aku tak begini, karena gadis itu aku selalu kehilangan kendali ku!” geram Hardan merasa malu pada dirinya sendiri karena melakukannya sendiri di dalam kamar mandi.
***
Hardan sudah selesai melakukan pelepasannya secara rahasia, dan Bulan sudah selesai memasak dan mengganti pakaiannya.
Dia sudah menunggu Hardan dengan berdiri di sisi kursi makan layaknya pelayan sedang menunggu tuannya untuk segera makan.
'Ck, setiap kali melihat wajahnya aku jadi ingat pelepasan memalukan ku di kamar mandi, dasar wanita penyihir!' ketus Hardan memejamkan matanya sesaat lalu melempar handuk yang tadi ada di kepalanya kepada Bulan.
“Usap rambutku sampai kering!” ketusnya masih kelihatan marah.
'Sebenarnya dia ini marah karena apa sih? Kenapa dia bertingkah aneh sedari tadi!' tanya Bulan pada dirinya sendiri, tetapi dia segera mengambil handuk yang dilemparkan kepadanya dan mengikuti apa kata Hardan.
Hardan duduk di kursi sedangkan Bulan berdiri di belakang Hardan untuk mengusap rambut lelaki itu.
Dengan hati-hati dan lembut sekali Bulan mengusap rambut lelaki itu, gara dia tidak marah lagi.
“Gruk … Gruk … Gruk!”
Tiba-tiba suara perut Bulan terdengar keras sekali.
Pipi Bulan langsung memerah saat itu juga, 'Ck, dasar perut tidak tahu diri, kenapa kau bersuara sekarang, tidak tahu kondisi dan tempat!' teriak Bulan menjambak rambutnya sendiri dalam khayalannya.
Hardan menoleh ke belakang, hal itu sontak membuat Bulan menunduk dan terdiam tidak berani memancing kemarahan lelaki ini, dia tidak mau mengalami hal yang tadi.
“Kau lapar?” tanya Hardan pada Bulan yang sudah menunduk.
Bulan hanya mengangguk sembari memegangi perutnya.
'Apakah anak ini takut padaku setelah tadi? Dia kenapa menunduk dan tidak berani melihatku?' tanya Hardan dalam hatinya.
“Duduklah, kita makan bersama,” Hardan kemudian mengambil handuk yang ada di tangan Bulan dan menyuruh Bulan untuk duduk bersama dan makan bersama.
__ADS_1
“Baik Tuan,” jawab Bulan segera duduk di kursi yang ada di dekat Hardan.
Bulan segera mengambil makanan sesuai dengan porsinya, dia langsung melahap makanan nya dengan cepat dalam jumlah yang banyak.
Bulan sudah lapar sekali, dia kelelahan hari ini, setelah dia melakukan perkuliahan, dia juga harus mengikuti latihan drama organisasi untuk hari valentine nanti.
Kampus Bulan terbilang aktif dalam hal seperti itu.
***
Pipinya sampai mengembung dan nafasnya berat karena dia makan sudah seperti berolahraga saja.
Hardan memperhatikan Bulan secara seksama, dia berpangku tangan dan menatapnya dari dekat.
“Kau jelek sekali kalau makan, kenapa kau makan seperti sedang lomba? Pelan-pelan saja makannya,” ketus Hardan berbicara sembari berpangku tangan menatap Bulan dengan lekat sekali, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Baik Tuan," Bulan hanya menurut, dia tak ingin lagi menentang jika bisa.
Bulan segera meminum air putih yang ada di atas meja dan melanjutkan makannya lagi tanpa menghiraukan Hardan Graham.
'Sial, kenap wanita tidak anggun seperti ini bisa membuatku tidak bisa menahan diri? Sebenarnya apa yang spesial darinya dibanding wanita yang lain, cara makannya pun berantakan, seharusnya aku kan tidak akan suka!' wajah Hardan semakin tajam, dia seperti berdebat dengan dirinya sendiri.
Sungguh, tadi saat ia tidak bisa menahan dirinya itu, dia masih kebingungan, belum pernah ia seperti itu dan lagi di tolak mentah mentah pula oleh Bulan, rasanya harga dirinya sebagai lelaki yang tidak pernah ditolak seolah tercoreng oleh wanita yang sedang makan dengan sangat lahap ini.
Bulan yang masih makan itu melebarkan matanya, dia menatap kearah Hardan.
"Keluar negeri? bagaimana dengan kuliah ku Tuan? aku tidak ingin membolos lagi ..."
Bulan dengan wajahnya yang mencoba membujuk meminta Hardan agar mengerti.
"Hmmm ... aku bisa meliburkan mu dan nilai mu tetap baik-baik saja!"
"Jadi ikuti saja aku, aku membutuhkan mu disana ..."
Hardan tetap menatap Bulan, dengan tangan tetap berpangku di pipinya.
"Haaahhh!"
Bulan yang sadar tak akan pernah bisa menolak menghela nafasnya panjang.
Jadi, lebih baik Bulan menurut saja demi kebaikan dan keamanan hidupnya.
__ADS_1
“Baik Tuan,” serunya sembari menyelesaikan makanan yang ada di wadah makanannya.
“Baiklah, kau kembali lah, mandi dan tidur!” Hardan terlihat tidak lagi melihat kearah Bulan, dia mengambil makanannya dan segera makan.
Dan Bulan yang mendengar itu segera pergi dari tempat makan dan mandi.
Sebenarnya Bulan heran mengapa sejak tadi Nada suara Hardan terdengar biasa saja, dan bahkan tak menuntut hal aneh sejak tadi.
***
Malam itu entah apa yang sedang ada di pikiran Hardan, dia merasa jika terus melihat Bulan maka dia akan sungguh sungguh tidak akan bisa menahan dirinya lagi, dia tidak boleh memaksa seseorang melakukan hal itu, walau dia sangat arogan dan tidak mau tahu.
Hardan melahap makananya sembari berpikir dengan panjang, bagimana pun dia lapar sekali, dia tidak bisa makan sedari tadi karena merasakan makanan yang jika dibandingkan dengan masakan Bulan maka rasa makanan yang diluar tidak akan ada bandingannya pada Hardan.
Setelah makan Hardan kemudian memasuki kamar, dia hendak tidur tetapi melihat Bulan sudah terlelap menggunakan piyama tidur biasa pun membuat hatinya bergemuruh, “Sial, dia sama sekali tidak memakai pakaian seksi tetapi kenapa aku merasa sangat bergairah! Wanita ini, mengerikan sepertinya dia sudah membuatku mabuk setiap kali melihatnya!” ketus Hardan langsung melempar selimut agar menutupi seluruh tubuh Bulan.
Hardan naik ke atas ranjang, melihat langit-langit sebentar.
Nafasnya teratur sembari membayangkan banyak hal.
Sebentar lagi dia akan kembali pulang, sekitar 3 Minggu lagi, dia akan berkunjung ke rumah keluarganya.
Banyak sekali pikiran Hardan sekarang.
Tetapi dia menelan segala perasaan pahit yang langsung menerpa, dia melihat ke sisinya gundukan selimut.
Senyuman di wajahnya segera tergambar, dia membuka selimut dan melihat Bulan terlelap.
Hardan menarik tubuh Bulan dan mendekapnya erat sekali.
"Untung saja ada kau, aku akan menunjukkan kepada semuanya jika aku bisa segera sembuh karena mu,"
Hardan membisik, walau dia kesal karena tadi Bulan berdekatan lagi dengan lelaki cecunguk, tetapi keberadaan Bulan sungguh membuat nya nyaman dan seolah mendapatkan sandaran hidup.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berikan komentar membangun nya ya, maafkan juga jika masih banyak kekurangan dalam novel ini, terimakasih semuanya, lope you sekebon jeruk.