
Episode 48 : Kau itu pemeran utama dalam hidupmu.
***
Melihat Bulan bersedih begitu, dan menunduk memberikan rasa sakit bagi Hardan.
Secara perlahan-lahan, walau Bulan tak bercerita, Hardan jadi mengerti betapa sulit hidup Bulan selama ini.
Selalu mengalah untuk orang lain.
Hardan langsung memeluk Bulan, erat sekali seolah tak ingin Bulan bersedih.
"Kali ini aku akan mengijinkan mu melakukan drama, tetapi disamping itu jangan dekat dengannya!"
"Jangan bersedih lagi, aku tidak suka kau bersedih begini!"
"Kau juga harus tahu, jika kau itu pemeran utama dalam hidupmu sendiri, jangan pernah mengalah demi orang lain, kecuali aku sih!"
Hardan memeluk Bulan, mengatakan kepada Bulan jika Bulan bisa melakukan drama.
Saat mendengar itu, Bulan tersenyum, dia akhirnya tahu bagaimana caranya meluluhkan Hardan.
Sepertinya jika dia bersedih, Hardan akan menuruti apa yang ia inginkan.
"Baik Tuan, eh ... sayang!"
Bulan bersandar di dada Hardan, bahagia karena dia bisa terus melakukan drama.
"Tapi sayang ..." Hardan melonggarkan pelukannya sebentar.
Melihat kearah Bulan yang tengah menunggu apa yang akan ia katakan.
"Kau harus melakukan sesuatu sebagai imbalannya ..." Hardan membisik begitu nakal.
Dia menyeringai membuat Bulan waspada kepada Hardan.
"A .. apa yang harus aku lakukan?"
Bulan bertanya dengan eskpresi yang sangat menggemaskan, matanya yang bulat itu selalu saja membuat Hardan gemas dan ingin berada dekat terus dengan Bulan.
"Aku akan mengatakannya nanti saja, sebaiknya kau persiapan dirimu sayang ..." Bisik Hardan tetap tersenyum.
Bulan dibuat semakin penasaran.
Matanya menjadi tidak fokus, Bulan sudah memikirkan hal yang aneh sekarang.
'Jangan bilang dia ingin melakukan hal itu sebagai imbalannya?'
'Tidak mungkin kan?'
'Ah, tidak mungkin dia meminta hal itu lagi, jangan dipikirkan lagi Bulan!'
Bulan sudah berdebat dengan dirinya sendiri.
...
Setelah percakapan itu, dan sikap nakal Hardan yang tak berkesudahan, Hardan segera mandi dan pergi ke kantor.
Sedangkan Bulan pergi ke kampus dengan diantar oleh Hardan.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan ...
"Tuan, eh ... sayang aku ke kampus dulu ya, semoga hari mu menyenangkan ..." Bulan langsung pergi, tetapi sebelum pergi dia menyapa Lucas yang sebenarnya menjadi supir untuk mereka.
"Semoga hari mu menyenangkan juga guru ..."
__ADS_1
Bulan tersenyum, dia sudah cukup bahagia karena Hardan mengijinkan nya melakukan drama di kampus.
Saat Bulan menyapa Lucas, Hardan langsung menatap tajam kearah Lucas.
"Hehe ... ba ... baik Nona Bulan ..."
Lucas hanya menjawab dengan tegang.
Dia langsung merasakan tekanan yang menakutkan dari Hardan, sang Bos yang duduk di belakang.
Setelah itu Bulan pergi berlari ke kampus.
Sedangkan Hardan dan Lucas yang berada di mobil ....
"Lucas!"
Hardan langsung memanggil Lucas.
Dengan melipat tangan, mata Hardan menatap tajam kearah Lucas.
"I ... Iya Pak? ada apa Pak?"
Lucas sedikit gugup menjawab Hardan.
Lucas memegang erat kemudi setir mobil.
"Jangan terlalu dekat dengan Bulan, dia hanya milikku!"
"Jangan tersenyum terlalu lama atau berbicara terlalu lama dengannya!"
"Mengerti?"
Hardan meminta Lucas agar tidak terlalu dekat dengan Bulan, sungguh sisi posesif Hardan ini berada di level yang berbeda.
Tetapi Lucas sudah paham mengapa Bos nya bersikap seperti ini.
Mengingat jika Bos nya bisa sembuh dari alergi saat lalu hanya dalam satu hari karena karena keberadaan Bulan.
Lucas langsung sadar bagaimana pengaruh Bulan sangat berpengaruh dalam kesehatan dan sepertinya hati Bos nya juga.
"Baik Pak ...."
Lucas langsung menyetujui permintaan Bosnya.
Lagian siapa juga yang berani mendekati Bulan, jika Hardan sudah kentara sekali jika dia tertarik kepada Bulan.
Hardan terlihat sekali menunjukkan perasaannya, hanya saja Hardan sendiri tidak menyadari jika dia sebenarnya setiap harinya sudah jatuh kedalam pesona Bulan.
Yang dianggap oleh Hardan sebagai obat hidup saja.
***
Di tempat Mona,
"Kau hari ini harus berjumpa dengan Bulan, temui dia dan bawa dia pulang ke rumah ayahnya,"
"Kita harus menjumpai Bulan di rumah ayahnya nanti sore, untuk menandatangani dokumen penjualan rumah, kita membutuhkan lebih banyak uang ..."
Mona memberikan peringatan kepada anaknya, Lisa agar menjumpai Bulan dan mengajak Bulan pulang ke rumah ayahnya.
"Baik Ibu," Walau Lisa malu untuk berjumpa dengan Bulan lagi tetapi Lisa selalu menurut kepada ibunya.
Mona akan melakukan segalanya demi bisa menjual rumah yang sebenarnya saat ini sudah menjadi atas nama Bulan.
Dia membutuhkan uang lebih untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sosialitanya.
__ADS_1
Mona juga bingung mengapa tiba-tiba saja rumah itu tidak bisa dijual, pihak yang ia minta untuk menjual rumah itu tidak memberikan penjelasan apapun.
Juga, sekarang seharusnya Bulan sudah menjadi simpanan lelaki tua, tetapi setelah Mona memeriksa lebih dalam, Bulan sama sekali tidak bersama lelaki itu.
Mona jadi penasaran, kemana sebenarnya Bulan pergi dan bersama siapa dia sekarang.
"Aku harus bisa menjual rumah ini, aku membutuhkan uang lebih banyak!"
"Bulan itu haus akan kasih sayang, hanya aku tipu sedikit pasti dia akan luluh dan menandatangani dokumen ini!"
Mona percaya diri sekali.
Mungkin dia sudah melupakan kejadian bahwa dia sungguh dengan tega menjual Bulan.
Dimana hal itu tidak akan pernah dilupakan oleh Bulan sama seumur hidup.
Mona mungkin akan menyesali tindakannya ini.
***
Di perusahaan Hardan William,
Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan, tetapi mengingat tadi pagi dia dimanjakan dengan makanan dan pelukan kekasihnya sudah cukup memberikan semangat kepada nya untuk menjalani hari.
"Ah, aku sudah merindukan dia walau baru saja berpisah, kenapa dia membuat ku menjadi aneh begini?"
"Apa karena hanya dia wanita yang bisa aku sentuh?"
Hardan masih belum sadar, jika sesungguhnya keberadaan Bulan sudah lebih dari sekedar obat hidup untuknya.
Secara perlahan, kepolosan dan ketulusan Bulan telah mengisi hatinya yang terus saja menutup dan begitu gelap.
Hardan melanjutkan pekerjaannya setelah membayangkan wajah Bulan.
Sampai ketika ....
"Tring ... Tring ... Tring!"
Ponsel Hardan berbunyi nyaring, membuat Hardan sedikit terperanjat.
Dahinya sedikit mengernyit dan tak suka saat melihat siapa yang menelepon dirinya.
"Halo?"
Dengan nada rendah dan tekanan penuh amarah dia tetap mengangkat panggilan itu.
"Hardan, akhirnya kau mengangkat panggilan dari Ibu ..."
"Bulan depan kau pulang kan? beberapa tahun ini kau tidak pernah pulang, kita harus memperingati hari kematian ayahmu, jadi Ibu harap kau pulang ..."
Ibu Hardan yang bernama Hera sudah sering mencoba menghubungi putranya namun baru kali ini dijawab oleh Hardan.
"Berhenti berpura-pura baik! aku akan pulang tanpa Ibu minta, aku pulang hanya untuk memperingati hari kematian Ayah saja, bukan untuk Ibu!"
Dengan amarah yang langsung meluap-luap, Hardan mematikan panggilan itu.
Dia benci sekali kepada Ibunya, olehkarena itulah dia tidak pernah kembali kesana.
.
.
.
.
__ADS_1