
Episode 82 : Tanggung jawab kepadaku.
***
Setelah Ruby pergi, Bulan terdiam dia melihat wajah Hardan ketika Ruby membahas mengenai ayahnya yang sudah meninggal.
Ini adalah kali pertama Bulan tahu jika ayah Hardan ternyata sudah tiada, mereka ternyata merasakan perasaan yang sama.
Ketika Ruby pergi, Bulan menatap ke arah ruangan, ada beberapa dekorasi yang sudah disiapkan oleh Ruby, ada makanan di atas meja.
Ruby sepertinya bekerja keras melakukan ini semua sendiri.
Bulan yang sebenarnya sudah lelah dalam perjalanan kesini, dan saat sampai dia bertemu mantan kekasih Hardan membuat Bulan ingin meminta banyak penjelasan.
Bulan melepaskannya pelukannya dari Hardan dan melipat tangannya.
"Jadi ... dia mantan kekasih mu? sedekat apa kalian dulu?"
"Kenapa dia mengatakan kau masih menyukainya? apakah itu benar?"
Bulan degan kesal dan terlalu berapi-api menunjukkan rasa cemburu yang baru pertama kali ia rasakan membuat Hardan sudah berada di ambang batasnya.
Seperti ada bom yang meledak di kepalanya, ketika Bulan seperti tengah mengomel dengan cepat sembari melipat tangan.
Hardan tentu saja tahu jika Bulan sedang cemburu sekali.
Hardan menarik pinggang Bulan tanpa merespon pertanyaan Bulan.
Hardan langsung mencium Bulan dengan sangat menuntut.
__ADS_1
"A ... apa ini? kenapa jadi mencium?" Bulan mencoba mendorong Hardan.
Tetapi kekuatan Hardan begitu besar, bahkan Hardan mengangkat tubuh Bulan, dan karena Bulan takut terjatuh, dia mendekap Hardan layaknya koala.
Nafas Hardan terasa panas, dia kemudian melangkah menuju atas ranjang dengan tetap mendekap dan mencium Bulan dengan begitu panas.
"Sayang ... kau menggodaku sedari tadi, kau harus tanggung jawab ..." bisik Hardan menyeringai nakal.
Dia membuat Bulan terkejut.
"Ta ... tanggung jawab? aku tidak menggoda mu? aku bahkan kesal, mengapa ada mantan kekasih mu disini"
Bulan mencoba membela penjelasan, akan tetapi tentu saja tidak didengarkan oleh Hardan.
Bagi Hardan, tingkah Bulan barusan adalah menggodanya, dan bagaimana Bulan cemburu hal itu sangat menggemaskan baginya.
"Sayang ..." Hardan mengusap kedua pipi Bulan, dia menatapnya lekat sekali.
"Aku mau kamu, biarkan aku melakukannya, kau juga mau kan?" bisik Hardan mencoba menggoda kekasihnya.
Mendengar bisikan itu, seluruh tubuh Bulan langsung merinding.
Bagaimanapun dia memang sudah menyukai Hardan, apalagi sejak awal tubuhnya selalu merespon jika Hardan menyentuhnya.
Seolah ia selalu mabuk jika saja tangan kokoh Hardan menyentuh dirinya.
"Hah!"
Nafas Bulan menjadi berat, dia menatap Hardan dan meraih kedua pipi Hardan.
__ADS_1
Disaat yang sama, tangan Hardan sudah merayap ke pundak Bulan dan melepaskan kaitan bra nya.
"Sayang ..." Bulan dengan wajahnya yang memerah dan suaranya yang bergetar mencoba menyadarkan Hardan.
"Aku tidak akan berbohong, jika sebenarnya aku juga menginginkan mu, aku ingin kamu ... tapi, tolong jagalah kesucian ku sampai nanti saatnya kita menikah ..."
"Aku ingin menjaga diriku dan tetap dan tetap suci untukmu ... jangan dilanjutkan ..." Bulan berbicara dengan segala kesadaran yang ia miliki.
Ketika mendengar kepasrahan itu, Hardan terdiam membisu, dia tahu jika dia melanjutkan ini maka mungkin Bulan tak akan lagi menolak.
Tetapi Hardan mencintai Bulan lebih dari apapun, dia akan menghargai keputusannya.
"Ah!"
Hardan menghela nafas berat.
Dia menjatuhkan dirinya dan memeluk Bulan tetap di dadanya dimana tadi bra nya sudah terlepas.
"Gagal lagi, gagal lagi ... tapi tidak apa, yang jelas kau harus menjaganya hanya untukku!" gerutu Hardan memeluk Bulan sekarang dengan tenang.
Dia mendekapnya erat sekali dan menenggelamkan wajahnya nyaman di buah dada Bulan.
.
.
.
.
__ADS_1
Author : jika ada typo tolong komentar saja ya, maaf jika masih banyak kekurangan.
Semoga novel ku bisa menghibur kalian, Lope you sekebon jeruk semuanya 🍊🍊🤍