Hasrat Terindah Tuan Muda

Hasrat Terindah Tuan Muda
Episode 71 : Kau mau aku yang memandikan mu?


__ADS_3

Episode 71 : Kau mau aku yang memandikan mu?


***


Tanpa sadar pagi akhirnya menyingsing, matahari sudah mengintip dari balik gorden, akan tetapi Bulan merasa malas sekali untuk bergerak dan membuka matanya.


Dia tidak semangat untuk melakukan apapun, jika dia membuka matanya maka dia akan mengingat kejadian mengerikan tadi malam.


Sampai ketika bisikan lembut terasa di telinganya.


"Sayang ... bangunlah, jika kau tidur terlalu lama nanti kepalamu sakit ..." Hardan sudah terlihat sangat rapih, wangi shampo di rambut yang sudah setengah kering menenangkan penciuman Bulan.


Bulan membuka matanya, dan pemandangan yang ia lihat pertama adalah wajah Hardan yang tersenyum dan terlihat sangat tampan seperti biasa.


"Aku malas bangun, bisakah aku tidur saja hari ini? jika aku bangun, aku mengingat kejadian tadi malam, dan hatiku sakit lagi ..."


Bulan benar-benar manja sekali, dia memelas di hadapan kekasihnya, mata bulatnya dan wajahnya yang menggemaskan hampir saja meluluhkan Hardan William.


Hardan mencubit pelan pipi Bulan, lalu ia memeluk tubuh Bulan sembari membuatnya duduk dalam dekapannya.


"Kau harus mandi, makan pagi ... tadi malam kau bahkan belum makan, bagaimana kau bisa mengalahkan para pembenci mu jika kau tidak kuat!"


"Ayo mandi dulu, atau ... kau mau aku memandikan mu?"


"Kalau kau terlalu malas, aku dengan suka rela loh melakukan nya ... kau tahu kan sayang, aku akan sangat senang jika kau membiarkan aku melakukan nya,"


Bisik Hardan mencium pelan daun telinga Bulan.


Bulan tentu menjadi panik, dia langsung menunduk tubuhnya dan menutupi dadanya menggunakan kedua tangan mungilnya.


Bulan menggelengkan kepalanya dan melihat dengan wajah kesal namun terlihat seperti bayi kucing yang lucu.


"Pasangan yang belum menikah tidak boleh melakukan itu! jangan ... aku akan mandi sendiri kalau begitu," seru Bulan lagi lagi membahas mengenai pernikahan yang ditakutkan oleh Hardan.


Tetapi Hardan meredam rasa takut di hatinya ketika mendengar kata pernikahan, jika dia marah dan terlihat kesal maka mungkin Bulan akan terluka.


Hardan tidak ingin Bulan trauma dan terluka akibat tadi malam, jadi Hardan bersikap selembut mungkin pagi ini.


Hardan melipat tangannya lalu ia mengangkat wajahnya.


"Ya sudah, aku hitung sampai tiga ... jika kaki mu belum sampai di dalam kamar mandi maka aku akan memandikan mu!" seru Hardan mengerjai pacarannya lagi.


"A ... apa? ti ... tiga?"


Bulan langsung panik ketika mendengar itu.

__ADS_1


Dan sebelum tubuhnya bisa merespon, Hardan susah menyeringai nakal sembari menyebut angka satu.


"Satu ..." serunya sembari menatap tajam dan super nakal ke arah Bulan.


"Tunggu ... tunggu ... tunggu!"


Seru Bulan langsung secepat kilat bangkit dari atas ranjang dan berlari sekencang mungkin ke dalam kamar mandi.


"Pfftt ..." Hardan terkekeh melihat betapa paniknya Bulan tadi saat berlari cepat.


"Pacarku menggemaskan sekali," serunya masih menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


Setelah berselang beberapa saat, kata pernikahan muncul lagi di benaknya.


"Menikah ya ..." ucapnya pelan sembari tangannya mulai bergetar gugup lagi.


Jika saja Bulan pergi setelah mengatakan pernikahan maka mungkin Hardan akan menjadi orang yang sangat berbeda dari sekarang.


Mungkin Hardan tak akan pernah sembuh lagi.


Sedangkan Bulan yang sudah berada di dalam kamar mandi, tengah melihat cerminan dirinya di cermin besar.


Dia menyentuh kedua pipinya yang sudah merona.


"Aku sepertinya benar-benar jatuh cinta seperti yang ia katakan, tapi tidak ... tidak, jangan terlalu menampakkan jika kau sudah suka, nanti dia akan meninggalkan mu jika kau kelihatan sangat mencintai nya!"


Bulan masih memegangi kedua pipinya yang merah sekali.


Ketika Hardan datang bagaikan penyelemat menggendong nya pulang, hati Bulan sepertinya langsung menjadi jelas.


Selama ini Bulan masih bingung dengan perasaannya, tetapi ketika Hardan menyelematkan nya dan memberikan nya tempat paling spesial di sisinya, sungguh menggoyahkan Bulan.


***


Setelah beberapa saat ...


Bulan sudah selesai mandi, dia juga langsung makan pagi bersama Hardan.


Tetapi Hardan melihat ada hal yang sedikit aneh di diri Bulan.


Sejak tadi pipinya merah sekali, Seperti kepiting rebus saja.


Hardan menyentuh dahi Bulan dengan wajah yang khawatir.


"Sayang ... apakah kau sakit? wajah mu merah sekali, padahal tadi pagi kau baik-baik saja ..."

__ADS_1


Hardan menanyakan keadaan Bulan.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Waktu seolah berjalan lambat ketika Hardan menyentuh dahinya, dan matanya menatap tepat ke bola matanya.


'Apakah dia selalu setampan ini? bagaimana ini? aku tidak bisa mengontrol hatiku lagi!'


Benak Bulan menjadi panik sendiri, dia merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya, dan setiap ucapan yang dikatakan oleh Hardan membuat jantungnya berdegup kencang sekali.


Bulan langsung menunduk dengan cepat.


"A ... aku baik-baik saja, sungguh ..." balas Bulan langsung mencengkeram tangannya.


"Hmmm ..." Hardan menghela nafasnya lega, dia berpangku tangan sejenak lalu setelah melihat Bulan sudah selesai makan dan tenang, Hardan segera menggenggam tangan kekasihnya.


"Ayo ... aku akan menunjukkan mu sesuatu ..." ajak Hardan menggenggam tangan kekasihnya erat sekali.


"Kemana?" balas Bulan yang sebenarnya semakin berdebat ketika tangan kokoh Hardan menggenggam kuat tangannya.


Saat itu Hardan hanya tersenyum dan diam saja, sampai ketika mereka sampai di ruang belakang mansion.


Saat sampai disana, mata Bulan melebar dan dia langsung bersembunyi di belakang tubuh Hardan.


Tubuh Bulan bergetar hebat, dan dia tidak mau melihat orang yang duduk di lantai ruangan itu, terlihat sangat menderita dan kesakitan.


Bagaimana tidak, Bulan bisa melihat Mona dan Lisa tersungkur dengan tampilan yang menyedihkan, wajah mereka babak belur, tangan dan kakinya terluka parah dan Lisa yang sudah bangun itu tak bisa berhenti menangis.


Para petugas yang memberikan mereka pelajaran tengah menunggu di luar ruangan karena merasa Tuan mereka, Hardan masih alergi dengan keberadaan wanita di dekatnya.


"Sayang ..." Hardan langsung menarik tangan kekasihnya, mendekapnya dan melihat tajam ke arah Mona dan Lisa.


"Aku membawa mereka agar bisa berlutut memohon di hadapan mu, kesalahan meraka sangat fatal, pertama menjual mu, kedua membuat mu menjadi sapi perah untuk uang mereka, ketiga hendak menjual rumah ayahmu ..."


"Lalu keempat mempermalukan mu di hadapan banyak orang, tetapi mereka masih merasa tidak bersalah kepada mu!"


"Jadi sebelum mereka memohon di bawah kakimu, meminta ampun maka aku akan menghabisi mereka setiap hari ..."


Hardan terdengar sangat mengerikan, kali ini Bulan yang ketakutan melihat keadaan Mona dan Lisa yang memprihatinkan sadar betul, jika Hardan hanya lembut dan manis kepada nya saja.


Kepada orang lain, Hardan sungguh terlihat seperti monster.


Bulan tetap tak mau melihat kearah Mona dan Lisa, dia tidak menyalahkan Hardan, akan tetapi dia juga tidak ingin Mona dan Lisa mati di tangan Hardan, kekasihnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2