
Episode 36 : Aku akan menciummu.
***
Di kediaman Hardan William,
Bulan menyiapkan air hangat di dalam wadah, lalu secara perlahan mengusap ke seluruh tubuh Hardan agar tubuhnya bersih dan menghilangkan keringat.
Setelah membersihkan tubuh bagian atas tuannya, Bulan memilihkan baju longgar untuk dipakai Hardan.
Bukan merawat Hardan dengan sangat hati-hati, sampai Hardan terlihat sedikit tenang dan tak terlihat terlalu pucat lagi.
Sudah sekita satu jam lebih dia merawat Hardan William.
Sesekali Bulan akan ke luar kamar untuk menggantikan air hangat, karena tubuh Hardan terasa panas jadi Bulan memutuskan untuk merawat Hardan semalaman.
"Ibu, kau jahat ..."
"Kalian semua jahat!"
"Aku benci!"
"Jangan pernah datang ke dalam hidupku, bahkan jika kau mati pun aku tak akan datang Ibu!"
Hardan terdengar tengah mengigau, walau mengigau bisa dirasakan oleh Bulan kemarahan Hardan William.
Tangan Hardan secara tak sadar mengepal, wajah pucat nya terlihat mengernyit, seolah dal mimpinya Hardan tengah berada di sebuah tempat dan berdialog secara langsung.
Entah apa yang tengah dibicarakan oleh Hardan akan tetapi, Hardan selalu mengatakan bagaimana ia sangat membenci ibunya, Hardan selalu mengatakan kata Ibu tetapi dalam ungkapan kebencian.
Bulan tak terlalu mengerti, yang ia tahu hanyalah dia harus merawat Hardan sampai sembuh.
***
Sudah jam 2 malam, Bulan sudah mengantuk sekali, saat ia hampir terjatuh tidur, Bulan mencoba menolak keinginan tubuhnya untuk tidur.
Bulan menggelengkan kepalanya dan meraih kain bersih yang ada di dahi Hardan, karena sudah saatnya mengganti air hangat lagi.
Saat Bulan mengambil kain itu, Bulam mencoba merasakan suhu tubuh Hardan secara langsung.
Meletakkan tangannya di dahi Hardan.
"Ah, syukurlah panasnya sudah mulai turun, hanya beberapa kali kompres lagi, pasti suhu tubuhnya sudah kembali normal," seru Bulan memaksa dirinya untuk bangkit.
Tetapi saat Bulan menarik tangannya, sesuatu yang mengejutkan tiba-tiba saja terjadi.
Hardan menahan tangan Bulan dengan cara menggenggam nya erat sekali.
Mata Bulan melebar dan jantungnya berdegup sangat kencang, dia pikir Hardan sudah bangun tetapi saat ia perhatikan matanya masih terpejam.
"Ah, ternyata masih tidur ..." seru Bulan lega.
Bulan hendak mencoba melepaskan dirinya, saat Bulan hendak menarik tangannya, Hardan menarik Bulan sampai tersungkur ke ranjang.
Kekuatan tangan Hardan membuat Bulan tak bisa berkutik dan melarikan diri.
__ADS_1
"Tu ... Tuan apakah kau sudah sadar?"
Tanya Bulan merasa kurang nyaman dipeluk se-erat ini.
Tetapi bukannya menjawab pertanyaannya, Hardan malah menyebutkan nama wanita lain.
"Ruby, kau pergi kemana? hanya kau yang membuat aku tak kesakitan ..."
"Ruby, aku sebenarnya sangat mencintaimu ... kembalilah,"
Hardan berbicara dengan nada yang pelan dan pilu.
Saat mendengar hal itu, Bulan terdiam, entah mengapa dia langsung tahu jika Ruby yang di bawa lelaki ini dalam mimpinya adalah satu-satunya wanita yang ada di hati Tuannya ini.
Ketika itu, ketika nama Ruby disebutkan, pelukan Hardan dalam tubuh Bulan semakin erat.
Bulan hanya diam saja, dia tak tahu harus melakukan apa, karena saat ia mencoba lepas juga tak berhasil.
Jadi dia diam saja sembari memikirkan siapa itu Ruby.
***
Tanpa terasa karena tenggelam dalam pikiran dan rasa penasaran atas siapa kah Ruby, wanita pemegang hati Hardan, tanpa sadar Bulan malah terlelap dalam pelukan hangat lelaki ini.
Dadanya yang bidang menjadi sandaran yang pas untuk wajahnya.
Tangannya yang kokoh melingkar di tubuhnya membuat Bulan seolah berada dalam sangkar hangat dan nyaman sekali.
"Haah!"
Bulan mencoba mengusap wajahnya karena masih berpikir dia tengah bermimpi.
Tetapi hembusan nafas itu terasa lagi dan lebih kuat dari sebelumnya.
"Ck, aku masih lelah ... Lima menit lagi,"
Bulan berbicara sembari mengintip sedikit, dan hendak memejamkan matanya lagi.
Akan tetapi hanya dalam sekejap, dia mengurungkan niatnya dan membuka matanya secepat kilat.
Tak terasa sudah pagi dan pemandangan yang ia lihat sungguh membuat Bulan seolah dejavu, karena hal ini sudah terjadi sebelumnya.
Walau dengan cara yang berbeda.
Dimana Hardan tengah berpangku tangan, masih berbaring dekat sekali dengan Bulan.
Matanya tajam menatap kearah Bulan, dan senyuman super duper nakal itu membuat Bulan sampai harus menahan nafasnya sejenak.
"Hehe ... sayang, aku tidak menduga jika kau nakal sekali, kau bahkan tidur sendiri dalam dekapan ku,"
"Aku tahu sih, aku tampan sekali dan memikat, akan tetapi aku tidak menduga bisa memikat mu secepat ini,"
Rasa percaya diri berlebihan dari Hardan membuat Bulan sangat malu dan sedikit kesal.
Padahal yang menarik tangannya tadi malam adalah Hardan, malah dia yang dikatakan menjadi gadis nakal.
__ADS_1
Bulan mencoba bangkit duduk secara perlahan, dengan menundukkan kepalanya agar menghindari masalah dari lelaki ini.
"Tu ... Tuan, selamat pagi," Bulan menundukkan kepala hormat, mengalihkan pembicaraan yang tadi di mulai oleh kenakalan Hardan.
"Saya akan siapkan sarapan dulu ya Tuan, permisi ..." Bulan tersenyum ramah sekali.
Mencoba menahan rasa malu dan hendak melarikan diri ke dapur.
Karena terlalu lelah tadi malam sepertinya dia pasrah ketiduran di dalam pelukan Hardan.
"Pffft ..."
Hardan terkekeh dengan posisi berbaring miring melihat kearah Bulan dengan tangan menopang wajahnya agar bisa melihat dengan jelas seluruh ekspresi Bulan yang pipinya dengan merah.
"Jika kau berani turun dari ranjang ini aku akan mencium mu!"
Hardan mencoba menggoda Bulan, Bulan yang mendengar itu tentu saja tak terima, dia melihat dengan mata yang tajam kearah Hardan.
Tetapi ketika melihat Hardan, Bukan langsung tersenyum lagi, semua itu tentu saja demi keselamatan hidupnya sendiri.
Bulan sudah melihat seberapa mengerikannya tuan nya ini.
"Tu ... Tuan, jangan bercanda, anda sedang sakit ... aku masak bubur dulu ya, agar Tuan cepat sembuh ...."
Dengan ramah dan lembut Bulan mencoba dengan sangat keras agar bisa terbebas dari kamar pribadi ini secepatnya.
Bulan secara perlahan membuka selimut dan hendak berlari ke luar.
Akan tetapi ....
Hardan dengan sangat cepat menarik tangan Bulan dan membuatnya terjerembab ke ranjang.
Hardan ada di atas tubuh Bulan, dimana kedua tangan kokohnya menopang tubuhnya agar tidak membebani tubuh Bulan.
"Aku tidak bercanda, pagi ini aku ingin mencium mu, apakah kau lupa peringatan ku, jika kau harus siap secepatnya, ini semua demi perjanjian kita agar aku cepat sembuh ..."
Hardan membisik di telinga Bulan.
Sembari menyeringai dan tatapan tajamnya melekat ke bibir merah Bulan.
"Tu ... Tuan tapi, aku ... aku belum si ..."
Belum selesai Bulan berbicara, Hardan menyadarkan sebagian tubuhnya di ranjang dan sebagainya lagi diatas tubuh Bulan
Agar tangannya bisa leluasa menyentuh wanita ini.
Kedua tangannya mengusap kedua pipi Bulan, dan Hardan tanpa aba-aba sudah menyesap bibir Bulan pagi itu.
Begitu lembut dan panas, Bulan melebarkan matanya dan bingung apa yang harus ia lakukan.
.
.
.
__ADS_1
.