
Episode 47 : Mengalah lagi demi orang lain?
***
Hardan menarik tubuh Bulan dan mendekapnya erat sekali.
"Untung saja ada kau, aku akan menunjukkan kepada semuanya jika aku bisa segera sembuh karena mu,"
Hardan membisik, walau dia kesal karena tadi Bulan berdekatan lagi dengan lelaki cecunguk, tetapi keberadaan Bulan sungguh membuat nya nyaman dan seolah mendapatkan sandaran hidup.
Tanpa sadar Hardan terlelap, dia melupakan semua kesibukan di kantor dan bersandar di pundak Bulan.
***
Pagi akhirnya menyingsing,
Bulan terbangun dari tidur, matahari membuat matanya sedikit silau.
"Ah!"
Bulan membuka matanya dengan wajah yang sudah terlihat lelah.
Bagaimana pun, dia tertidur dengan dipeluk erat sekali oleh Hardan.
Tangan Hardan melingkar di pinggang.
Bulan tak akan pernah menyangka jika dia akan merasakan ini selama hidupnya.
Sebelum ia menikah, dia sudah berpelukan dan tidur satu ranjang dengan lelaki lain.
Bulan melihat lekat kearah Hardan, mencoba melepaskan dirinya secara perlahan.
Dia harus pergi ke kampus pagi ini, sebab dia memiliki kelas jam sepuluh pagi.
Secara perlahan, Bulan memegang tangan Hardan, mencoba dengan sangat hati-hati melepaskan tangan itu.
'Tolong jangan bangun ...'
Tolong jangan bangun ...'
Hanya itu yang diharapkan oleh Bulan sekarang, agar Hardan tak terbangun ketika ia mencoba melepaskan dirinya.
Dan setelah berusaha sekuat tenaga, Bulan akhirnya bisa melepaskan dirinya, dengan selamat sentosa.
"Ah ... akhirnya berhasil, aku akan memulai hari ku dengan semangat tinggi!"
Bulan berseru dengan lantang, dia mandi dengan cepat dan langsung memasak.
Selama satu minggu ini, dia harus menyiapkan bekal untuk Tuannya, Hardan sudah tak mau makan masakan oranglain kecuali makanan yang di buat oleh Bulan.
Seperti biasa, Bulan melakukan segala pekerjaan nya dengan cepat dan memuaskan.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Terdengar suara langkah kaki membuat Bulan sedikit terperanjat lalu menyadari jika Hardan sudah datang kearahnya.
Menggunakan piyama tidur dengan kancing terbuka.
"Sayang ... wangi makanan nya enak sekali ..." Hardan langsung duduk di kursi meja yang menunjukkan pemandangan kota di luar apartemen.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan, aku sudah memasak makanan yang kau suka," Bulan tersenyum.
Mencoba mencairkan suasana, karena Bulan tak ingin mengingat kejadian nakal tadi malam yang dilakukan oleh Hardan kepadanya.
"Duduklah disini, makan denganku ..."
Hardan sudah sangat tidak sadar hendak menyantap makanan yang disiapkan oleh Bulan untukku.
"Baiklah ..." Bulan yang memang tak mau mengingat kejadian tadi malam segera melangkah untuk duduk di sisi Hardan.
Akan tetapi ....
Hardan menarik tangan Bulan dan membuatnya duduk di pangkuannya.
"Tuan ... kenapa Tuan suka sekali menarik ku tiba-tiba dan membuat aku duduk di pangkuan mu!"
Bulan terkejut sekali, dia harus mengusap dadanya karena tiba-tiba saja tangannya di tarik.
"Hehe ... sayang, aku suka kau duduk di pangkuan ku, aku suka memeluk mu, seandainya kau tidak kuliah aku sudah akan membawamu ke kantor setiap hari ..."
"Walau tubuh mu kecil, tetapi nyaman sekali di peluk!"
Hardan memeluk Bulan nyaman sekali, dia ingin terus berdekatan dengan wanita ini.
Bulan yang sebenarnya tidak terlalu suka tentu saja pasrah, walau hubungan mereka sudah diupgrade menjadi hubungan kekasih tetap saja Bulan tak memiliki hak untuk menolak atau berpendapat.
"Suapi aku ..."
Hardan meminta Bulan untuk menyuapi nya.
"Ya Tuan ..."
"Tuan? aku sudah memerhatikan ini sejak awal, kita ini sudah menjadi kekasih ... walaupun rahasia tetapi kau bukan lagi pelayan ku!"
"Panggil aku sayang!"
Hardan bersandar di dada Bulan begitu nyaman, seolah hal itu bukan lagi hal yang memalukan baginya.
Tetapi bagi Bulan tentu saja hal itu tetap memalukan.
'Tahan Bulan! tahan! jika kau menolak nya maka kau akan berada dalam masalah lagi!'
Bulan menahan dirinya, dia tetap mencoba tegap dan melakukan apa yang diinginkan oleh Hardan.
***
Setelah selesai makan pagi,
"Sayang ... nanti kau jangan bertemu lagi dengan lelaki itu ya! aku sangat tidak suka!"
"Jika kau bertemu dengan lelaki itu lagi, aku akan benar-benar menghabisi mu! aku tidak suka wanita ku dipegang oleh lelaki lain!"
Hardan sudah selesai makan sembari memeluk kekasihnya.
Hardan memperingati Bulan lagi.
Bulan langsung tahu siapa lelaki yang disebut oleh Hardan, Bulan juga sadar jika dirinya pasti tetap dimata-matai oleh Hardan.
"Tuan ... eh maksudku sayang ... aku satu kampus dengan lelaki itu, bagaimana aku bisa menghindari nya?"
__ADS_1
"Aku juga tengah melakukan kegiatan drama untuk hari valentine nanti, aku jadi Cinderella dan dia jadi pangerannya,"
"Aku membutuhkan drama ini untuk nilai, jadi ..."
Bulan mencoba menjelaskan bagaimana dia sedang dalam proyek drama di kampus bersama Kevin.
"APA? CINDERELLA? PANGERAN?"
"Jadi ... dia akan memegang tangan mu terus?"
"Lalu akan memeluk mu?"
Hardan menatap dengan tajam, lalu ia menatap langsung ke arah Bulan yang masih ada di pangkuannya.
"Tuan ... emm .. sa .. sayang, itu drama kampus bukan hal serius, aku juga ingin mengundang mu kesana, saat hari valentine Minggu depan ..."
"Aku ingin menunjukkan kepadamu jika aku juga memiliki kemampuan sendiri ..."
Bulan mencoba membujuk Hardan, agar membiarkan dia latihan drama dan menyelesaikan nya.
Bulan sebenarnya menyukainya organisasi drama itu, walau sebenarnya dia mengikuti nya demi nilai.
Pengurus organisasi itu adalah dosen nya, dimana jika mengikuti drama dan melakukan dengan baik maka dosen itu akan memberikan nilai yang baik pula.
"Tidak boleh! aku tidak ingin dia dekat-dekat denganmu! pokoknya kau harus keluar dari drama sekarang juga!"
"Kau mau aku yang melakukan nya?"
Hardan bersikap berlebihan lagi, dia tidak ingin Bulan dekat dengan lelaki itu dan melakukan drama bersama, yang artinya lelaki itu pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menyentuh Kekasihnya.
Bulan langsung menunduk, dia memainkan jemarinya dan bersedih.
"Aku suka sekali memainkannya drama itu,"
"Dalam hidupku, aku belum pernah merasakan menjadi pemeran utama dalam apapun, aku suka melakukan drama itu karena aku dipilih menjadi pemeran utama ..."
"Aku ingin setidaknya jika bukan dalam kehidupan nyata, aku ingin menjadi pemeran utama dalam drama ..."
"Apa tidak boleh aku melakukan apa yang aku suka?"
"Haruskah aku berhenti melakukan hal yang aku suka, aku selalu berkorban untuk orang lain lagi?"
Bulan sedih sekali, dia ingin melakukan drama, dia ingin sekali saja menjadi pemeran utama walau itu hanyalah sandiwara belaka.
Bulan tak mampu melihat kearah Hardan karena dia sudah hampir menangis.
Sejak awal bertemu, Bulan selalu diam dan tak menantang, tetapi lagi dan lagi pagi ini juga dia harus menurut dan meninggalkan drama yang sebenarnya sangat ia sukai.
Melihat Bulan bersedih begitu, dan menunduk memberikan rasa sakit bagi Hardan.
Secara perlahan-lahan, walau Bulan tak bercerita, Hardan jadi mengerti betapa sulit hidup Bulan selama ini.
Selalu mengalah untuk orang lain.
.
.
.
__ADS_1
.