
Episode 76 : Rencana jahat Louise.
***
"Halo Ruby, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu, ini semua mengenai Hardan ..." ucap Louise akan mempermainkan hidup Ruby, Bulan dan Hardan demi harta berlimpah yang ia inginkan.
Tentu saja ketika Ruby mendengar Louise membicarakan mengenai Hardan, Ruby langsung bersemangat.
"Ada apa ya Tuan Louise? kenapa dengan Hardan?"
Ruby mencoba tetap tenang dan tidak terlalu bersemangat, dia ingin tahu Louise menawarkan apa kepadanya.
"Ya, bukankah kau masih menyukai dia?" Louise langsung to the point.
Membuat Ruby tercekat dan terdiam saat mendengar itu.
"Apakah kau tahu jika sekarang Hardan sedang dekat dengan seorang wanita, namanya Bulan ..." Louise kembali memprovokasi Ruby.
Agar Ruby menjadi kaki tangan penyingkiran Bulan, tanpa ia harus repot-repot turun langsung menyingkirkan gadis sebatang kara yang memang sepertinya sungguh disukai oleh Hardan.
"APA? TIDAK MUNGKIN!"
"HARDAN TIDAK MUNGKIN BERSAMA DENGAN SEORANG GADIS! DIA ITU ALERGI WANITA! HANYA AKU YANG BOLEH BERADA DI SISINYA!"
Ruby langsung berteriak, dia merespon berlebihan pernyataan dari Louise.
Mendengar reaksi itu, Louise menyeringai tajam, dia kemudian mulai membuat kesepakatan dengan Ruby.
"Aku akan mengirimkan mengenai informasi gadis itu kepadamu, sekitar dua Minggu lagi Hardan akan kembali ke sini, dia pastinya akan membawa gadis bernama Bulan itu!"
"Disitulah kesempatan untukmu merebut Hardan, buat Bulan meninggalkan Hardan, pastikan apakah Hardan masih menyukai mu atau tidak ..."
Louise berbicara dengan nada yang begitu licik, dia mempermainkan perasaan Ruby dan kemarahannya.
Rencana mempengaruhi Ruby hanyalah salah satu rencana dari beberapa rencana yang sudah ia susun, jika saja Ruby tak mampu menyingkirkan Bulan maka Louise akan menyingkirkan nyawa Bulan.
Dan untuk Ruby tentu saja Louise yakin, jika Hardan memang sangat mencintai Bulan, saat Bulan pergi maka trauma dan penyakit OCD Hardan akan semakin parah.
Dan Ruby akan menjadi pelaku dari semua itu, Hardan akan membenci Ruby dan selamanya Hardan akan kesepian dan mati tanpa memiliki keturunan.
Tanpa berpikir panjang, Ruby langsung menyetujui kesepakatan antara dirinya dan Louise, tidak tahu jika dirinya dijebak.
Setelah panggilan itu usia ...
"Brak!"
Ruby memukul meja rias nya, dia sedang bercermin tadi mengangumi kecantikannya, dia tidak sabar bertemu Hardan lagi.
Akan tetapi ketika mengetahui Hardan sudah dekat dengan wanita lain sungguh membuat emosinya meluap.
__ADS_1
"Hardan, aku tahu aku dulu salah, akan tetapi aku tidak pernah berbohong jika aku sungguh menyukai mu!"
"Wanita itu pasti bukan apa-apa kan? aku pasti akan menyingkirkan nya dari sisimu, agar kita bisa bahagia bersama!"
Dia berbicara sendiri dengan dirinya dipantulan cermin.
Sungguh dia tidak pernah berpikir jika Hardan bisa dekat dengan gadis lain kecuali dirinya.
Sedangkan di sisi Louise,
"HAHAHA DASAR BODOH!"
"Kalian semua hanya bidak catur untukku, cinta kalian akan membawa malapetaka bagi kalian, dan aku akan mendapatkan semua harta keluarga William!"
"HAHAHAHAHA!"
Louise berbicara terlalu bersemangat di ruangan pribadi nya.
Louise tidak sadar jika sejak tadi Glen yang hendak berbicara dengan ayahnya mendengar dari luar pintu.
***
Time skip,
Tanpa sadar, dua minggu telah berlalu, hari ini Bulan akan pergi ke luar negeri bersama Hardan.
"Sayang ... aku jadi gugup, bagaimana ini?" Bulan sedang gemetaran, dia gugup karena dia akan menginjakkan kakinya di negeri orang nanti.
"Tidak apa, itu sangat biasa, aku jamin aku akan membawamu jalan-jalan dan kau tidak akan menyesal ikut denganku!"
Seru Hardan bersemangat sekali, dia sudah konsultasi dengan dokter psikiater nya, dan Hardan memang sudah bisa mulai bersosialisasi dengan wanita.
Walau jangan terlalu intens.
"Bos, kita sudah sampai ..." Lucas menghentikan mobil yang ia bawakan.
Mereka sedang menuju pemakaman umum, tempat ayah dan ibu Bulan beristirahat selamanya.
Ya, sebelum mereka berangkat beberapa jam lagi, Bulan ingin meminta ijin ke makam ayah dan ibunya dulu.
...
Saat mereka sampai, seketika suasana menjadi hening, Lucas menunggu di mobil sedangkan Bulan mengajak Hardan untuk ikut ke makam orangtuanya.
Di tangan Bulan, sudah ada bunga putih yang akan ia berikan kepada ayah dan ibunya.
Sesampainya disana,
Bulan meletakkan bunga putih itu.
__ADS_1
"Ayah ... Ibu, aku datang lagi mengunjungi kalian," Bulan tersenyum, walau ada kerinduan yang amat dalam di matanya.
"Tenang saja, aku melakukan segalanya dengan sangat baik, aku bahkan mendapatkan beasiswa di kampus, aku tidak pernah telat makan, selalu rajin berolahraga agar tubuhku sehat, jadi Ayah dan Ibu jangan khawatir ..."
"Juga Sekarang, aku sudah punya kekasih ... walau kalian pasti memarahiku karena sudah punya kekasih saat aku masih kuliah, akan tetapi dia sangat baik dalam menjagaku ..."
"Dia seperti hadiah yang diberikan semesta untukku ..."
Bulan berbicara banyak hal, tiba-tiba saja dia menjadi cerewet dan berbagi semua hal di makam ayah dan ibunya.
"Jadi, Ayah dan Ibu jangan khawatir ya ..."
"Oh iya, aku disini mau meminta ijin, aku akan pergi ke luar negeri beberapa saat, jadi mungkin tidak akan bisa mengunjungi Ayah dan Ibu dalam waktu dekat ..."
Bulan menunduk sebentar, dia tidak menangis sedikit pun, dia tersenyum, dia ingin menunjukkan jika dia sungguh baik-baik saja dan bahagia bersama Hardan William.
Angin berhembus semakin kencang melewati dedaunan pohon yang ada di sekitar makam.
Seolah Ayah dan Ibu Bulan senang melihat Bulan tidak menangis tersedu-sedu lagi.
Biasanya jika Bulan kesini, dia akan menangis tersedu-sedu karena merindukan orangtunya sangat dalam.
Tetapi kali ini, senyuman lah yang ia tunjukkan.
...
Setelah berbicara begitu banyak, Bulan akhirnya mengakhiri ucapannya.
"Baiklah Ayah, Ibu, aku pergi dulu ya ..." seru Bulan melihat kearah Hardan dan tersenyum.
Dia menggenggam tangan kekasihnya dan bersandar di bahunya.
"Aku sudah meminta ijin, ayo kita pergi ..." seru Bulan menatap Hardan dengan tatapannya yang tulus itu.
"Umm ... tapi sebelum kita pergi, aku juga ingin mengatakan sesuatu, tapi aku ingin kau pergi ke mobil lebih dulu ... aku ingin mengatakan sesuatu yang belum saatnya kau dengar ..." balas Hardan mengusap rambut pacarnya lembut sekali.
Bulan sedikit heran dengan ucapan Hardan, memangnya apa yang seharusnya tidak didengar olehnya sekarang.
Akan tetapi, dia akan menghargai keinginan Hardan, untuk sekarang ini mereka juga sudah hampir terlambat melaksanakan penerbangan jadi tidak saatnya menimbulkan drama pertengkaran antar kekasih sekarang.
"Baiklah ... aku tunggu di mobil ya, jangan lama-lama karena kita sudah hampir terlambat," balas Bulan menghela nafasnya dalam.
Dia akhirnya pergi meninggalkan Hardan sendirian, dan saat memastikan Bulan sudah tidak ada di sekitarnya, Hardan mulai mengatakan sesuatu.
Keputusannya mengenai hubungannya dengan Bulan.
.
.
__ADS_1
.
.