
Episode 32 : Memeluk dengan sangat erat.
***
Disaat seperti ini, Bulan tahu jika dia hanya boleh menganggukkan kepalanya dan mengatakan setuju.
"A ... aku mengerti Tuan," balas Bulan segera memeluk Hardan sekencang mungkin sesuai perintah Hardan.
"Begini kan maksud Tuan?" seru Bulan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memeluk Hardan sekuat mungkin.
*Blush*
Saat Bulan mendekapnya kuat sekali dan seolah bergantung pada tubuhnya, pipi Hardan merah sekali dan jantung nya berdegup semakin kencang.
"Benar ... kau harus memeluk aku sekencang ini mulai dari sekarang!" ketus Hardan sebenarnya sudah tersenyum penuh kemenangan.
Dia puas bagaimana Bulan langsung memeluknya barusan.
Sedangkan Lucas yang sudah keluar dari bar hendak memberikan informasi jika Hardan sudah bisa masuk sudah terlihat seperti jangkrik tak dihiraukan.
"Pak Hardan,"
Tidak disahuti oleh Hardan sama sekali.
"Halo? aku sudah disini sejak tadi,"
Belum juga disahuti, seolah dia tidak terdengar.
"Tuan Hardan ... anda sudah bisa masuk ke dalam bar ..." Tanpa menyerah Lucas tetap melakukan pekerjaannya.
Bulan yang tadi juga sedang ketakutan dan berteriak dalam hatinya demi menyelematkan hidup, tidak terlalu fokus saat Lucas sudah datang sejak tadi.
__ADS_1
Baru panggilan ketiga lah, Bulan Mendengar dan melihat ekspresi menyedihkan Lucas yang tengah berjuang dalam melakukan pekerjaannya.
"Tu .. Tuan, ada coach, eh maksud saya ... ada Pak Lucas di sini," seru Bulan mencoba mendorong Hardan.
"CK! LUCAS LAGI!"
geram Hardan langsung melihat dengan tatapan paling mengerikan kearah Lucas.
Lucas sampai terperanjat.
"Kau sudah menggangguku beberapa kali Lucas, bonus mu akan aku potong!" geram Hardan merasa jika Lucas adalah biang kerok pengganggu keintiman antara dirinya dan Bulan.
"Bonus ku di potong? aku kesini kan hanya mau mengatakan Bos sudah bisa masuk, apa salah ku," gerutu Lucas tidak terima bonus nya di potong.
"Kau salah, kau salah karena menganggu kebersamaan ku dengan Bulan, yang artinya memperlama kesembuhan ku! Mengerti!"
Hardan yang terkenal tidak bisa mengalah dan tidak mau kalah membuat Lucas diam saja dan mengangguk.
"Baik Bos, silahkan masuk bar saja, saya menerima konsekuensinya." balas Lucas yakin tak akan menang dalam adu mulut ini.
Tentu saja Lucas tidak mau bonus besarnya dipotong.
***
Setelah perdebatan itu, Hardan William, Bulan dan Lucas memasuki bar.
Lucas sudah memastikan jika Hardan bisa masuk tanpa dihiraukan oleh para pengunjung.
Mereka sekarang sudah ada di depan ruangan dimana bawahannya berpesta dengan gadis-gadis.
"Wohoo, menghabiskan uang yang begitu banyak seperti ini sangat menyenangkan ..."
__ADS_1
"Cepat minum sepuasnya kalian semua, aku akan membayar semua tagihan, nominal sekecil itu tidak ada apa-apanya bagiku!"
Salah satu direktur cabang perusahaan Hardan William, usianya sudah cukup matang yaitu berusia 43 tahun, sudah memiliki satu anak dan istri yang menunggu nya di rumah.
Dia telah diselidiki menggelapkan dana perusahaan dengan nominal fantastis dan dia sangat percaya diri jika dia tidak akan ketahuan.
Sepertinya dia telah meremehkan Hardan yang sangat menjunjung tinggi loyalitas kesetiaan karyawannya.
"Hei ... kalian malam ini akan melayani aku ya,"
"Aku akan membelikan kalian banyak barang-barang bermerek,"
Para gadis-gadis penghibur yang menemaninya tentu kegirangan mendengarkan godaan itu.
Lelaki berusia 43 tahun ini memang sudah merupakan pelanggan tetap di bar ini, dan para gadis itu sudah beberapa kali menemani lelaki itu tidur dan memang benar diberikan barang-barang mahal.
"Aaah Tuan, tentu saja aku mau, aku akan memasak Tuan,"
"Aku juga tidak akan kalah,"
"Aku juga Tuan ..."
Para gadis itu bersender dan kelihatan bersaing memperebutkan isi dompet pelanggan mereka.
"HAHAHAHAHA! Dunia ini memang sangat indah!" seru ya menciumi para gadis itu tanpa malu.
Tanpa mengingat anak dan istrinya di rumah.
.
.
__ADS_1
.
.