
Episode 43 : Menjadi kekasih gelap!
***
"Tu ... Tuan, aku tidak bisa bernafas,"
Bulan merasa ciuman ini lebih panas dari sebelumnya.
"Tunggu sebentar, aku ingin mencari tahu sesuatu ..."
Hardan melanjutkan ciumannya dan tangannya mengehentikan tangan Bulan untuk tidak memberontak.
Seolah tak bisa mendengar keluhan Bulan lagi, kedua tangan Bulan ia genggam dengan hanya menggunakan satu tangan saja.
Baju mereka sudah basah sepenuhnya, air yang sedikit demi sedikit menetes membasahi keduanya.
Dimana bibir mereka masih saling beradu, pelukan dan sentuhan Hardan semakin berani pula.
Dalam kondisi ini sepertinya Hardan telah mengikuti suasana dan tak bisa membendung keinginan tubuhnya lagi.
Apakah alasannya karena Bulan adalah gadis langka yang bisa ia sentuh, atau alasan lain, yang jelas Hardan menginginkan Rembulan saat ini juga.
Ciumannya sudah semakin kuat, menuntut dan tak dapat ditolak, perlahan bibirnya mengecup di bibir, kemudian pipi kemudian turun lagi ke leher.
Segalanya sudah basah membuat nafasnya menjadi semakin memburu dan panas.
Ketika bibir Hardan mulai menjelajahi tubuhnya dan sekarang menyesap lehernya, darah Rembulan seolah membara dan detak jantungnya semakin memburu.
Dia sampai menahan nafasnya tetapi apakah karena udara dingin, Bulan tidak tahu mengapa tetapi sentuhan lelaki ini membuatnya hangat dan lupa diri.
"Tuan, hentikan ... jangan melakukan hal yang berlebihan ..." Bulan masih bisa mempertahankan kesadarannya mencoba mendorong Hardan dan meminta Hardan untuk jangan melakukan ciuman ini terlalu berlebihan.
Suara Bulan yang mencoba menolak malah menjadi seperti bensin yang dituang ke api.
Gairah Hardan semakin membara, penolakan wanita dini membuatnya malah semakin bersemangat.
Dengan tetap memeluk Bulan agar tidak bisa pergi dan menghindar dari dekapannya, sekarang mata Hardan sudah melekat kearah buah dada Bulan.
Dia kemudian menyeringai, senyumannya sangat nakal dan matanya terlihat sangat tajam.
"Sayang ... kau memakai bra berwarna pink, cantik sekali, kau suka warna pink?"
Dengan santainya Hardan menanyakan mengenai bra Bulan yang sudah tercetak disana.
'Aaaaaaaa! aku ingin berteriak!'
'Apa yang harus aku lakukan?'
'Aku ingin menghilang saja!'
'Bulan, gerakkan tubuh mu untuk menolak lebih keras, kenapa kau terlihat seperti menikmati ini!'
__ADS_1
Ucapan-ucapan itu berputar di kepala Bulan, dia tidak tahu apa yang terjadi, apakah karena ini adalah hal nakal yang pertama kali ia lakukan bersama lelaki dewasa membuat nya seolah pemasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tetapi tentu saja itu tidak benar menurutnya, sehingga Bulan segera menggelengkan kepalanya dan mengumpulkan segala kesabaran yang ia punya sekarang.
"Tuan, jangan lakukan, aku tidak mau!"
Rembulan berbicara sedikit kuat, untuk mempertahankan harga dirinya.
Walau dia memang terikat kontrak dengan lelaki ini tetapi bukan sebagai alasan Hardan bisa melakukan apapun kepadanya.
Apalagi menjamah seluruh tubuhnya seolah itu bukan apa-apa.
Mata Hardan melebar saat mendengar itu, matanya tajam dan ekspresi wajahnya berubah.
Hardan yang tadi sudah menurunkan wajahnya sejajar dengan buah dada Bulan kembali bangkit dengan tegap, lalu ia melihat ke bawah kearah wajah Bulan dengan lekat.
Hardan kemudian menggenggam kedua bahu Bulan.
"Bulan, aku baru saja memastikan sesuatu, aku tidak tahu mengapa aku sangat menginginkan tubuhmu!"
"Aku menginginkanmu lebih dari apapun!"
"Kau tahu kan, kau sudah terikat kontrak denganku?"
"Tetapi aku tahu, kau memiliki harga diri yang sangat tinggi, tak akan melakukan nya denganku tanpa hubungan apapun!"
"Jadi, kau akan menjadi kekasih rahasia ku mulai dari sekarang!"
Hardan berbicara panjang lebar, Seperti petir yang menyambar dan sangat berisik lalu menakutkan dan menuntut.
Begitu pula ucapan Hardan, ucapannya semengerikan petir yang terdengar di sekitar mereka.
"Tuan, aku ... aku tidak mau jadi kekasih,"
"Tuan bilang aku hanya boleh jadi pelayan, tidak akan melakukan apapun denganku kecuali kontak fisik sampai Tuan sembuh, jadi Tuan tidak boleh ...."
Lagi dan lagi penolakan muncul dari mulut Bulan, seolah yang tergila-gila dan menginginkan Bulan hanyalah Hardan seorang.
Harga diri tuan muda itu tentu saja langsung tercoreng.
Kekuatan tangan nya semakin kencang, lalu ia membisik di dekat Bulan.
"Sayang, aku memang tertarik kepadamu tetapi bukan berarti kau bisa menolak aku sesukamu!"
"Aku sudah tertarik kepadamu, kepada tubuh mu, dan aku ingin tahu alasannya mengapa!"
"Kau tidak bisa menolak aku! apakah kau lupa jika nyawaku ada di tangan ku?"
Lagi dan lagi Hardan secara tidak sadar melukai harga diri Bulan lagi.
Mengatakan jika Bulan tak memiliki pilihan lain.
__ADS_1
Mendengar itu Bulan terdiam sebentar, dia membisu dan tak mau melihat kearah Hardan lagi.
"Tuan selalu begini, tidak memberikan aku pilihan apapun, kenapa kalian selalu semena-mena kepadaku?"
"Apa karena aku miskin? tidak memiliki Ayah dan Ibu?"
"Oleh karena itu Tuan dan orang lain selalu membully aku? padahal aku sudah melakukan yang terbaik!"
"Sebenarnya hari ini aku harus kuliah agar nilai ku turun, aku harus ke rumah Ayahku agar rumah itu tidak dijual oleh mereka, tetapi demi Tuan, agar Tuan cepat sembuh aku menemani Tuan kesini,"
"Tetapi Tuan malah menyakiti aku lagi, kenapa?"
Mungkin karena hujan, suara petir yang terkadang menyambar, angin dingin yang selalu menyapa memberikan keberanian kepada Bulan akan mengutarakan rasa sakit dan sesak di hatinya.
Hardan diam membisu, mereka berdua sudah kedinginan, sepertinya hujan tak memiliki rencana untuk berhenti hari ini.
Hardan langsung menarik Bulan memeluknya kencang dan mengepal tangannya.
"Bukan karena aku remeh, aku kan sudah bilang karena aku tertarik! jangan menolak aku lagi jika tidak ingin mendengar ucapan Seperti barusan dariku!"
Hardan yang tak mau kalah langsung mendekati Bulan kencang sekali.
Gadis yang terus saja menolaknya dalam hal apapun ini, rasanya setiap ia melihatnya menangis selalu saja Hardan ingin langsung memeluknya dan melindungi dirinya.
...
Setelah beberapa saat memeluk Bulan yang masih menangis ....
"Ayo kita pulang, sepertinya hujan tak akan berhenti hari ini, sebelum matahari terbenam kita harus kembali pulang ..." Hardan menggenggam tangan Bulan sekarang.
Keduanya sudah benar-benar basah kuyup.
Bulan masih diam saja, dia tidak suka bagaimana dia tidak bisa menolak permintaan Hardan yang ingin menjadikan dirinya kekasih gelap.
Jadi Bulan diam saja dan tak ingin berbicara dengan Hardan apapun yang terjadi.
"Hmmm ... gadis pembangkang ini sangat suka mendiami ku, apakah kau tahu jika hanya kau yang berani melakukan itu?"
"Jika itu orang lain, mungkin dia sudah mati!"
Hardan mengatakan kata mengerikan lagi, membuat Bulan menggeram sendiri dan tetap diam.
Hardan menghela nafasnya dan langsung menggendong Bulan dalam tangannya, memaksa Bulan agar mereka segera turun dan naik ke mobil.
Hardan tak ingin Bulan sakit.
.
.
.
__ADS_1
.