Hasrat Terindah Tuan Muda

Hasrat Terindah Tuan Muda
Episode 39 : Ini adalah yang pertama untukku.


__ADS_3

Episode 39 : Ini adalah yang pertama untukku.


***


Disaat Hardan William tengah mandi di kamar mandi, Bulan merasa lega jika Hardan sepertinya tidak akan melakukan hal yang berlebihan.


Entah mengapa, lelaki arogan itu seperti menahan dirinya untuk tidak melakukan hal hal yang terlalu jauh.


"Ah ... sebaiknya aku memasak saja, aku sudah lapar ..."


Bulan bangkit dari ranjang, dia membereskan selimut yang sudah acak-acakan, membuat ranjang Hardan rapih kembali.


Lalu dengan sigap dia pergi ke dapur memeriksa bahan makanan yang tersedia untuk ia olah menjadi masakan yang akan mereka makan pagi.


Saat membuka kulkas, mata Bulan melebar dan berbinar-binar, dia menatap dengan sangat bersemangat saat melihat isi kulkas super besar yang ada di dapur.


"Astaga, aku bisa memasak apa saja jika bahan nya selengkap ini, aku belum pernah melihat isi kulkas yang begitu lengkap dan tersusun rapih ..."


"Orang kaya dan orang sederhana memang beda ..."


Bulan mengangguk-anggukkan kepalanya lalu dengan bersemangat memasak makanan untuk Tuannya.


"Tuan Hardan, aku akan menyihir mu dengan kemampuan memasak ku!"


"Akan ku buat mulut kasar mu menjadi pahit jika mengatakan ucapan kasar! HAHAHA!"


Semangat juang dan jiwa muda Bulan tengah berkobar, dia memang selalu menjalani hari nya dengan semangat dan berusaha dengan keras untuk segala pekerjaan yang ia lakukan.


Karena jika dia tidak bersemangat dan memulai dengan hati yang baru, maka dia akan tenggelam dalam kepedihan, dia tak ingin menghabiskan waktu hanya untuk bersedih.


***


Seperti chef profesional, Bulan mengolah bahan makanan yang begitu lengkap menjadi menu andalan nya.


Dahulu jika ayahnya ulangtahun, dia suka memasak banyak makanan, dan ia melakukan hal yang sama pagi ini.


Bulan membuka pintu ruangan dapur, agar udara segar masuk ke dalam


Ia melihat jika awan sudah mulai berkumpul yang artinya pagi cerah ini akan berganti dengan hari mendung, dan mungkin sebentar lagi kelihatannya akan hujan.


Tangan Bulan sangat sigap dan lincah melakukan segala pekerjaan, berhubung sudah tak ada lagi pelayan yang akan membantunya jadi dia melakukan segalanya sendiri.


Setelah beberapa saat ....


"Ahh ... segar nya,"


Hardan sudah selesai membersihkan dirinya, dia keluar hanya menggunakan handuk.

__ADS_1


Dia ingin mengerjai Bulan jika Bulan masih ada di ranjang, akan tetapi dia tak menemukan Bulan di sana.


"Ahh ... dia pintar juga, pasti dia sudah memasak makanan untukku, gadis kecil itu kenapa semakin imut sih setiap hari, membuatku ingin terus menggodanya!"


Hardan senyam senyum.


Dia senang dan puas sekali menemukan jika Bulan berada di sekitarnya, apalagi tadi pagi dia berhasil mengambil ciuman pertama Bulan.


Wajah merona dan senyuman yang tak bisa ia sembunyikan bermekaran di wajahnya.


"Tapi dia pasti kesal karena aku merebut ciuman pertamanya seperti tadi, lain waktu aku akan melakukan nya dengan cara yang romantis!"


Hardan sejak tadi berbicara sendiri, sembari memakai pakaian rumah yang nyaman untuk ia kenakan.


Hardan secara tidak sadar sepertinya terlalu nyaman dengan Bulan, padahal mereka bersama baru beberapa waktu belakangan saja.


"Tak ... Tak ... Tak!"


Suara langkah kaki Hardan dengan cepat langsung menuju meja makan, dia sudah bisa mencium aroma makanan yang menggugah seleranya.


Lalu saat ia sampai di meja makan, dia melihat Bulan tengah menyusun makanan sembari mengenakan apron di tubuhnya.


"Tuan, aku sudah memasak makanan untukmu, pasti Tuan lapar kan?"


Bulan tersenyum dengan cerah, seolah melupakan semua ucapan kekecewaan nya tadi pagi.


Hardan melihat warna baru lagi dari gadis ini, senyumannya yang cerah seperti menyembunyikan segala kesusahannya.


"Hmmm ... gadis ini semakin hari semakin membuatku tertarik," Hardan sudah duduk, dimana ia tetap menatap lekat kearah Bulan.


"Sayang ... aku memang lapar, Kemarilah kita makan bersama, duduk di sisiku,"


Hardan meminta Bulan untuk duduk di sisinya menyantap sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh Bulan.


"Baik Tuan,"


Bulan menyanggupi tanpa penolakan, dia langsung melepaskan apron yang ia pakai dan duduk di samping Hardan.


"Kau memasak banyak sekali makanan, apakah ada hari yang spesial hari ini untukmu?"


Hardan melihat banyak makanan di atas meja, dimana Bulan sudah sigap meletakkan makanan ia masak ke wadah Hardan.


"Tidak ada hari yang spesial, hanya saja Tuan baru saja sembuh, aku ingin merayakan nya dengan makanan yang banyak ..."


"Aku selalu melakukan hal ini saat Ayahku pulang dari rumah sakit dahulu, saat keluarga atau orang yang kita sayangi sembuh dari sakit alangkah baiknya memasak mereka makanan yang lezat, agar penyakit itu tidak datang lagi."


Bulan menjawab dengan tulus dan jujur.

__ADS_1


Bagi Bulan, makanan itu seperti obat, jika memakan makanan sehat dan lezat maka penyakit pun akan pergi.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Hardan berdegup kencang sekali setelah mendengar itu.


Dia melihat kearah makanan yang sudah di siapkan Bulan di hadapannya, Hardan terdiam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Memasak makanan untuk orang yang disayang ..."


"Ini adalah yang pertama untuk ku,"


Hardan tersenyum pilu, dia mengambil sendok lalu memakan makanan yang dimasak oleh Bulan.


Saat ia mengunyah makanan itu, rasanya tidak lebih enak dari makanan mewah yang selalu disediakan koki paling handal untuknya, akan tetapi ada yang berbeda dari makanan ini.


Makanan yang masuk ke mulutnya memberikan sensasi hangat dan rasa tulus yang menenangkan hati.


Sungguh seperti obat, dan harapan yang memenuhi dirinya.


Awalnya Hardan memakan secara perlahan, namun lama kelamaan menjadi sangat cepat, Hardan sangat suka makanan yang dimasak oleh Bulan.


Dia menghabiskan makanan itu dengan sangat cepat.


"Tuan, apakah kau baik-baik saja? pelan-pelan saja makan nya, jangan terburu-buru, aku akan memasak lebih banyak jika Tuan mau, hanya saja jangan makan dengan tergesa-gesa,"


Bulan memberikan air minum kepada Hardan, agar Hardan tidak tersedak saat memakan terlalu banyak makanan sekaligus.


Hardan mengambil minuman itu dan meneguknya, ia kemudian melihat ke arah Bulan.


"Kau tahu, terkadang aku merasa kau itu hadiah yang disiapkan oleh semesta untukku, siapa yang bisa menduga jika aku bisa sembuh dengan cepat walau tadi malam baru saja tak sengaja bersentuhan dengan wanita lain, diberikan makanan yang membuat hatiku hangat ..."


"Kau membuat ku sangat bahagia pagi ini, aku belum pernah sebahagia ini karena seseorang memasak untukku,"


Hardan meraih tangan Bulan, yang terasa sangat mungil jika dibandingkan dengan tangannya.


"Untuk tadi pagi, sepertinya aku berbicara terlalu kasar, walau aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi ...."


"Maafkan aku ..."


Hardan dengan pipi memerah dan malu sekali karena mengatakan maaf, Hardan bukanlah seseorang yang akan meminta maaf kepada oranglain, tetapi khusus untuk Bulan, rasanya Hardan merasa sangat bersalah karena menyakiti nya saat baru bangun tadi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2